Blunder Besar, Wantimpres ke Israel

1
304
Yahya Staquf bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu di Yerussalem.

Nusantara.news, Jakarta – Sejak Katib Aam Syuriah PBNU Yahya Cholil Staquf menerima undangan dari Dewan Hubungan Luar Negeri Israel yang memintanya mengisi kuliah umum pada 13 Juni kemarin, kritik dan kecaman datang dari dalam dan luar negeri. Dalam undangan yang viral di media sosial tersebut mencuat isu adanya kerja sama antara PBNU dan Israel.

Selang dua hari setelah surat tersebut sampai di tangan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, publik kembali dikejutkan dengan beredarnya video Yahya yang tampil sebagai pembicara di Israel. Video itu diunggah oleh American Jewish Committee (AJC) pada Senin (12/6/2018). AJC sendiri merupakan organisasi yang menyuarakan advokasi perjuangan umat Yahudi secara global.

Bahkan pada saat rakyat muslim sedunia merayakan hari Raya Idul Fitri 1439H, Yahya belum beranjak dari posisinya di Israel. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang baru saja diangkat Presiden Joko Widodo ini bahkan sempat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (14/6/2018).

Pertemuan ini diketahui dilakukan setelah Netanyahu mengunggah foto-foto bersama Yahya di akun Twitter-nya. “A special meeting today in Jerusalem with Yahya Cholil Staquf, the General Secretary of the global Islamic organization Nahdlatul Ulama. I’m very happy to see that Arab countries and many Muslim countries are getting closer to Israel!, kicau Netanyanhu di akunnya.

Sementara Yahya berdalih, bahwa kunjungannya ke Israel sebagai pembicara di AJC dan bertemu PM Israel merupakan upaya memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina. “Saya berdiri di sini untuk Palestina, saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka,” kata Yahya dilansir dari NU Online.

Putra KH Cholil Bisri Rembang ini juga menyinggung nama KH Abdurrahman Wahid. Baginya, NU dan Gus Dur memiliki peran aktif bagi keberlangsungan kehidupan sebuah bangsa di level global. Perjuangan Gus Dur yang ingin mewujudkan perdamaian dunia, termasuk kemerdekaan rakyat Palestina, merupakan jejak yang kini diikuti Yahya.

Pada 2002 silam, Gus Dur memang pernah menjadi pembicara pada forum yang sama di Washington DC, Amerika Serikat. Bahkan Gus Dur pernah menjadi pembicara utama di forum tertinggi, Kongres Yahudi.

Kecaman dari dalam dan luar negeri

Bagi publik tanah air, kunjungan Yahya ke Yerusalem dianggap telah menodai perjuangan umat Islam untuk kemerdekaan Palestina. Apalagi Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara di saat yang sama militer Israel hingga kini membombardir demonstran Palestina di Jalur Gaza. Lebih dari 120 demonstran Palestina tewas dan 3.700 lainnya luka-luka.

Ketua Komunitas Palestina di Indonesia atau Palestinian Community in Indonesia (PCI) Murad Halayqa mengatakan bahwa kunjungan Yahya menjadi kekecewaan besar bagi rakyat Palestina.

“Komunitas Palestina di Indonesia mengutuk dan menyesalkan kunjungan ini, walaupun Staquf menyatakan kepergiannya secara pribadi, tetapi beliau adalah sosok agama dan pejabat Indonesia dan langkah ini diambil pada waktu yang tidak sesuai,” kata Murad.

Halayqa menyesalkan kunjungan tersebut karena Presiden AS Donald Trump baru memindahkan Kedutaan Besar Amerika ke Yerusalem, wilayah yang masih menjadi sengketa Palestina dan Israel.

PCI menganggap kunjungan tersebut telah menyiratkan dukungan kepada Israel dan Amerika yang mengklaim Yerusalem sebagai Ibu kota Israel. Selain itu, Israel masih terus melakukan tekanan dan kekerasan pada ratusan pengunjuk rasa Palestina yang melakukan aksi damai “Great March of Return” di Gaza sejak Maret lalu.

“Kami anggap pernyataan yang diajukan oleh Bapak Staquf bahwa kunjungannya untuk mendukung rakyat Palestina sebagai penyesatan dan pemanipulasian kata-kata karena dukungan untuk rakyat Palestina harus melalui pintu gerbang kepemimpinan Palestina di Ramallah, bukan melalui Israel yang menduduki tanah Palestina dan menyiksa serta berlaku kejam kepada rakyat Palestina,” terangnya.

Pandangan keras juga dilontarkan Shamsi Ali, imam besar di Islamic Center of New York. Menurut Shamsi,  kunjungan Yahya merupakan blunder besar yang sangat destruktif bagi kepentingan umat, khususnya perjuangan rakyat Palestina.

Shamsi mengakui pernah hampir terjebak oleh  AJC ketika mereka mendirikan Muslim-Jewish Advisory Council sekitar 2-3 tahun lalu. Pendirian koalisi itu dibentuk tidak bersifat individu tapi melalui dua organisasi Yahudi dan Islam yang berkaliber nasional. Disetujuilah kemudian AJC dan ISNA (Islamic Society of North America) sebagai induk organisasi yang membangun kerjasama.

Dari situlah koalisi itu terbentuk. Tidak main-main karena anggota koalisi itu adalah anggota komunitas yang memilki pengaruh besar di masyarakat. Baik dari kalangan tokoh agama (imam dan rabi) maupun kalangan mantan politisi. Salah satunya adalah mantan senator dari Connecticut, Joe Lieberman.

“Saya sendiri diminta jadi anggota dari kalangan tokoh Islam Amerika bersama tokoh-tokoh Islam lainnya, termasuk Imam Magid (mantan Presiden ISNA). Saya bahkan sempat mengikuti beberapa pertemuan koalisi ini,” terang Shamsi.

Belakangan Shamsi mulai sadar dengan sepak terjang AJC sebagai organisasi induk dari Muslim-Jewish Advisory Council. “Sejujurnya saya menerima tawaran menjadi anggota di MJAC (Muslim-Jewish Advisory Council) itu awalnya karena pertimbangan kepentingan bersama di bumi Amerika. Belakangan saya semakin sadar ternyata koalisi ini banyak dipakai sebagai bagian dari upaya untuk membangun simpati dan citra positif bagi negara Israel. Sementara ketika saya menanyakan posisi koalisi terhadap berbagai kekerasan di dunia Islam, termasuk Palestina, ditanggapi secara dingin. Akhirnya semangat untuk ikut berpartisipasi semakin menghilang, dan akhirnya saya hanya menjadi anggota pasif,” tuturnya.

Puncaknya ketika Shamsi angkat suara mengkritik sikap Gubernur Jakarta Ahok. Oleh Direktur kerjasama Yahudi-Muslim AJC, seorang mantan diplomat Amerika, Shamsi malah diminta mundur dari keanggotan Muslim-Jewish Advisory Council.

“Saya cukup lama berpikir apa hubungan AJC dan Ahok? Kenapa saya sampai diminta mundur dari keanggotaan Advisory Council tadi karena kristis dengan Ahok? Saya menemukan jawaban lain bahwa AJC ingin partnernya di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, aman dalam meredam suara Islam,” urainya.

Kunjungan Yahya ke Yerusalem dianggap sebagai kemunduran diplomasi yang selama ini tegas menolak Israel dengan berbagai pelanggaran HAM dan penjajahannya terhadap bangsa Palestina. Selain itu Shamsi menyebut kunjungan Yahya ke Israel dilakukan di waktu yang tidak tepat.

Pertama sangat tidak tepat waktu dan keadaan. Kita tahu bahwa baru saja Donald Trump secara sepihak memberikan keabsahan bagi Israel untuk mencaplok Yerusalem dan mengakuinya sebagai ibukota Israel. Tentu kehadiran seorang tokoh Muslim, pemimpin sebuah organisasi Islam terbesar dunia (NU) dari negara Muslim terbesar di dunia seolah menjadi justifikasi tersendiri.

Kedua, walaupun menyatakan bahwa kehadirannya bersifat personal, kedudukan yang bersangkutan sebagai anggota “Dewan Pertimbangan Presiden” RI memberikan signal seolah Indonesia telah bergeser dari pondasi dasarnya “menentang semua bentuk penjajahan di atas dunia ini” (UUD).

Ketiga, acara tersebut memang diadakan oleh sebuah organisasi non pemerintah (NGO) bersama AJC. Tapi yang pasti pemerintah Israel kental berada di belakangnya. Hal ini jelas bahwa acara itu sangat bernuansa politik, untuk kepentingan Public Diplomacy Israel. Israel memang ingin bersembunyi dari berbagai pelanggaran hak-hak kemanusiaan, khususnya terhadap warga Palestina.

Keempat, AJC atau American Jewish Committee adalah organisasi nonpemerintah yang bertugas memperjuangkan kepentingan Israel. Awal berdirinya memang untuk memperjuangkan hak-hak Yahudi di Amerika. Tapi setelah berdirinya negara Israel tujuan AJC berubah haluan untuk membela dan membantu Israel dalam melobi dunia. Maka wajar jika organisasi ini memiliki jaringan internasional yang sangat luar biasa.

AJC adalah salah satu dari 51 organisasi Yahudi di Amerika Serikat yang tergabung dalam Major American Jewish Organizations. (Baca: https://nusantara.news/ini-dia-sindikat-yahudi-yang-mendikte-amerika-1/)

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut Gus Yahya selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional juga melanggar konstitusi dan UU No 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. “Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan,” kata Fadli dalam pernyataan tertulis, Rabu (13/6/2018).[]

1 KOMENTAR

  1. […] Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut Gus Yahya selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional juga melanggar konstitusi dan UU No 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. “Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan,” kata Fadli dalam pernyataan tertulis, Rabu (13/6/2018).[NN] […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here