Blunder Ma’ruf Amin, Persulit Jokowi Menang Pilpres

0
596

Nusantara.news, Jakarta –Beberapa waktu lalu, pernyataan cawapres 01 Ma’ruf Amin yang mengaku menyesal telah menjadi saksi yang memberatkan untuk Ahok (Basuki Thajaja Purnama), menuai polemik. Video Ma’ruf yang mengaku menyesal itu, sudah viral sejak awal tahun ini. Belakangan diketahui, video itu adalah wawancara Ma’ruf dengan komika Kemal Pahlevi.

Dalam video singkat itu, Kemal kemudian menyampaikan pertanyaan dari warganet kepada Ma’ruf. Pertanyaannya, pernah nyesal nggak jadi saksi buat Ahok (sehingga) masuk penjara? Menanggapi jawaban itu, Ma’ruf langsung menjawab, dirinya terpaksa karena situasi yang mengharuskannya bersaksi untuk proses penegakan hukum.

“Iya tentu saja, cuma karena terpaksa saja kan. Siapa yang ingin memberatkan orang, kan nggak mau,” jawab Ma’ruf.

Bagaimana reaksi publik? Jawabannya beragam. Ada yang menyebut Ma’ruf dengan sebutan kasar. Tak pantas disebut kiai. Ada juga menangapinya dengan bijak. Sementara Waketum Gerindra Fadli Zon, sangat menyayangkan omongan Ma’ruf. Kata dia, saksi dalam persidangan tidak boleh didasari keterpaksaan. “Kesaksian di bawah sumpah tak boleh terpaksa. Bisa dianggap kesaksian palsu,” kata Fadli.

Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Firman Tresnadi menduga, pengakuan Ma’ruf bertujuan menarik simpati Ahoker (sebutan untuk para pendukung Ahok). Namun menurutnya, penyesalan Ma’ruf sudah terlambat. Para pendukung Ahok sudah telanjur sakit hati. Apalagi, lanjut Firman, Ahoker juga tentu sudah sadar bahwa penyesalan tersebut bukan disebabkan kesadaran Ma’ruf Amin bahwa Ahok tidak menistakan agama, melainkan alasan politis.

Penyesalan Ma’ruf Amin karena telah memenjarakan Ahok tentu saja menambah pernyataan blunder dari mantan anggota legislatif dari PPP dan PKB tersebut. Tak ayal, blunder politik Ma’ruf dalam masa kampanye itu direspons negatif oleh banyak pihak. Jika tak diantisipasi, hal ini bisa merugikan Jokowi di Pilpres 2019.

Blunder Politik Ma’ruf Amin Rugikan Jokowi

Sejak dipilih menjadi cawapres Jokowi, Ma’ruf memang kerap menyampaikan pernyataan blunder. Sebagai contoh, dia pernah menyatakan bahwa pada bulan Oktober 2018 mobil Esemka akan diproduksi besar-besaran. Bulan Oktober sudah berlalu, namun mobil yang digadang-gadang Jokowi Pilpres 2014 belum juga terlaksana. Sebagian publik akhirnya menuduhnya sebagai penyebar hoaks.

Ketika ribut-ribut soal Habib Rizieq Shihab diperiksa polisi karena adanya “pemasangan” bendera tauhid, Ma’ruf menyatakan Konsulat  RI di Jedah, Arab Saudi membebaskannya dengan jaminan. Penjelasan ini sama dengan klaim Dubes RI di Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel. Belakangan informasi tersebut dibantah oleh Kemenlu dan Habib Rizieq.

Ma’ruf juga memicu kontroversi ketika mengklaim hasil pembangunan dengan menyatakan bahwa itu merupakan “dana” milik Jokowi. Bukan hanya itu, dia menyatakan hanya orang budeg dan tuli yang tidak bisa menghargai kinerja Jokowi. Pernyataan ini memancing protes karena dinilai menghina kaum difabel. Sejumlah penyandang tuna netra melakukan unjuk rasa di kantor MUI dan menuntut Ma’ruf minta maaf.

Dengan blunder-blunder politik Ma’ruf itu, publik mulai melihat ketidakseimbangan antara pasangan Jokowi dengan Ma’ruf bukan hanya soal faktor usia semata, tetapi soal strategi Ma’ruf mengisi kekurangan Jokowi. Hal ini tentu saja semakin mempersulit Jokowi untuk memenangkan Pilpres 2019.

Ma’ruf Amin dinilai tidak mendongkrak elektabilitas Jokowi

Di luar blunder politik, Performa Ma’ruf Amin juga tak cukup membantu peningkatan elektabilitas Jokowi. Sejauh ini, raihan elektabilitas petahana menurut beberapa survei justru stagnan di angka 50%, sementara pasangan Prabowo-Sandiaga terus merangkak naik mendekati 40%.

Tak dapat dipungkiri, pemilihan sosok Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden memang telah diramalkan problematis sejak awal. Tak sedikit pula yang kecewa dan pesimis dengan keputusan politik tersebut, terutama kalangan muda milenial, para pendukung Ahok, dan kaum minoritas. Selain meragukan kapabilitas sosok Ma’ruf Amin secara profesional, nampaknya keputusan menggandeng Ma’ruf hanya sebatas perhitungan politik jangka pendek saja.

Nyatanya, efek Ma’ruf Amin terekslusif dari kalangan luas. Di titik ini, pengangkatan Ma’ruf Amin sebagai cawapres yang diharapkan dapat meredam segala tuduhan anti-Islam dan menjadi sumber limpahan suara umat Islam, tampaknya tidak akan banyak membantu Jokowi. Terlebih, jika dikaitkan dengan massa 212, konsolidasi politik umat Islam di kubu Prabowo tergolong sukses.

Faktor usia dan kesehatan juga tampaknya akan sangat berpengaruh terhadap performa seorang Ma’ruf Amin. Apalagi jika dibandingkan dengan cawapres kubu lawan, yakni Sandiaga Uno yang gesit, muda, dan rupawan. John Corner dalam jurnalnya Mediated Persona and Political Culture: Dimensions of Structure and Process menyebut performa politik sangat dipengaruhi oleh tiga hal antara lain iconicvocal, and kinetic.

Iconic adalah bagian dari ‘kepribadian politik’ yang lekat dengan popularitas seorang politisi. Sementara dalam konteks vocal, adalah indikator bagaimana retorika seorang politisi mampu mempengaruhi atensi publik dan menghasilkan dukungan. Yang terakhir adalah faktor kinetic, yakni  kemampuan politisi dalam berinteraksi dengan melakukan safari politik dan kampanye door to door.

Dari semua indikator, nampaknya sulit bagi politisi berumur sekelas Ma’ruf Amin untuk menampilkan “efek kejut” di kampanye mendatang. Mengingat bahwa ia tak memiliki identitas kemudaan maupun sosok politisi yang populer. Selain itu, ia juga tak cukup prima secara kesehatan dengan jadwal kampanye yang idealnya padat dan memerlukan energi yang cukup besar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here