BNN Bongkar 50 Juta Pil Setan Siap Edar Asal Cina dan India

0
145
Kepala BNN Budi Waseso bersama dua pemilik pabrik jutaan pil PCC Ronggo (tengah) dan Djoni asal Semarang. Kedua tersangka tidak memiliki keahlian farmasi. Keduanya mendapat pasokan bahan baku dari Cina dan India untuk memproduksi pil PCC yang dijual ke banyak agen di luar Jawa.

Nusantara.news, Semarang – Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil membongkar sindikat internasional bahan baku pil Paracetamol Caffeine Caresoprodol (PCC) yang distok dari Cina dan India pada Minggu (3/12/2017). Penggerebekan dilakukan di dua kota yakni Solo dan Semarang.

Dari hasil penyelidikan sementara, pabrik pembuat pil PCC di Semarang dan Solo mampu membuat pil setan tersebut dalam jumlah besar, sedikitnya 2 juta butir pil setiap hari dengan bahan baku Paracetamol, Caffeine dan Carisoprodol yang sebagian didapat dari India dan Cina.

“Bahan baku untuk pil PCC jumlahnya ada 12 ribu ton. Untuk saat ini, pemasoknya sedang diburu oleh petugas gabungan Polri dan BNN,” ungkap Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru P, Rabu (06/12/2017).

Dari hasil penyelidikan, penggerebekan pabrik pil PCC dilakukan aparat di jalan Setia Budi, Gilingan, Kota solo, Jawa Tengah. Keberhasilan pengungkapan pabrik pil PCC ini merupakan hasil pengembangan kasus yang sempat terjadi di Kendari beberapa waktu lalu.

Dalam penggerebekan yang dilakukan di Sukoharjo dan Solo petugas berhasil mengamankan tujuh orang yang diduga terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Wildan, Jaja Isworo, Heri Dwimanto, Maryanto, Susilo, Suwardi dan Abid. Mereka menjadi pemilik pabrik pil PCC. Ketujuh pelaku ini dikendalikan oleh jaringan Sri Anggoro alias Ronggo. Untuk Wildan, kedapatan memiliki paspor untuk berpergian ke dua negara (Cina dan India).

Jika bahan baku parasetamol dipasok dari sindikat India, namun untuk cafeinnya dipasok dari Cina. Saat ini kedua negara itu memang menjadi bahan baku pil PCC yang kerap dijual bebas di tengah masyarakat. Malahan, di sebuah kota di Cina secara terang-terangan memproduksi zat prekusor. Bentuknya zat-zat adiktif yang dibuat di dalam home industry.

“Tapi ketika sampai ke Indonesia justru banyak digemari dan permintaannya sangat banyak. Ini yang kita sesalkan,” ujar Heru.

Menurut Heru, pemesan pil PCC terbanyak berasal dari Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Ia mengatakan masih mengusut penyelundupan bahan baku pil PCC sampai ke Semarang. “Ini akan terus dikembangkan termasuk masuknya bahan baku ke Semarang,” terangnya.

Pihaknya dalam waktu dekat akan merancang tim satgas untuk menggelar sidak di semua apotek yang ada di wilayahnya. Sebab, tidak menutup kemungkinan pil PCC juga dijual bebas di apotek. Razia terpadu bakal melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dan Balai POM Semarang. Jika ada yang terbukti menjual bebas pil PCC, maka diancam dengan UU Kesehatan.

“Kita akan bentuk tim untuk merazia setiap apotek karena tidak menutup kemungkinan pil itu juga dijual di apotek. Tentunya kita tetap berkoordinasi dengan Balai POM dan bersinergi dengan Dinkes untuk melakukan pengawasan di lapangan,” bebernya.

Bandar Besar Sebulan Omzetnya Rp 2,7 Miliar

Pada saat penggerebekan petugas juga berhasil mengamankan lima puluh juta pil PCC siap edar, di mana dalam satu bulan pabrik pil PCC ini berhasil mendapatkan keuntungan sebulan Rp 2,7 miliar rupiah dari hasil produksi pabrik yang sehari bisa menghasilkan 9 juta pil PCC ini.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengatakan,  “kita temukan lebih dari lima puluh juta pil yang sudah jadi yang di Semarang tiga juta, yang sudah jadi di Solo lebih banyak lagi. Di Solo kita menangkap 11 pelaku,  dua di antaranya adalah bandarnya atau penyandang dana dan yang punya pabrik yang satu atas nama Djoni yang punya senjata api dan sedang kita dalami. Kita juga menemukan nama Ronggo yang tinggal di Tasik,” ungkap Jendral Bintang tiga ini kepada wartawan.

Menurutnya saat penggerebekan, Ronggo hendak melarikan diri. Rencananya dia akan kabur ke Singapura, namun paspornya berhasil ditahan petugas. BNN juga menyita rekening Djoni dan Ronggo untuk menelusuri siapa agen yang menjadi penerima barangnya. Sebab selama ini pengiriman pil PCC dilakukan melalui jasa ekspedisi, baik melalui darat maupun laut. Teknik pengecohan pengiriman di pos keamanan pelabuhan juga masih ditelusuri. Sebab, banyak agen-agen yang tersebar, khususnya di luar Jawa.

“Kenapa barang-barang tersebut bisa lolos. Maka dari itu, kami akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, baik dari Polri, BPOM, dan Polda. Kalimantan tengah, barat, timur, dan bahkan sampai beberapa daerah di Sulawesi akan kami telusuri juga. Ini benar-benar kejahatan yang luar biasa,” tandasnya.

Buwas, sapaan Budi Waseso, menegaskan Ronggo telah berkali-kali masuk ke  Cina dan India dengan membeli bahan baku untuk pembuatan pil PCC. “Ini bahan produksi bahan bakunya dari Cina dan India berarti Ronggo inilah yang langsung membeli atau belanja ke sana. Dari sini kalo Djoni menjadipenyandang dananya,” tuturnya.

Ditambahkan Buwas, saat ini pihaknya langsung mengawasi peredaran bahan baku pembuatan pil PCC itu sehingga tidak terjadi penyalahgunaan. Bahkan Buwas sempat menyindir BPOM yang lengah dengan beredarnya pil PCC di masyarakat.

“Bahan ini kan jelas. Saya lagi-lagi mengingatkan kalau kementerian atau lembaga yang punya wewenang mengawasi masuknya obat atau bahan baku obat harus tanggung jawab. Jangan hanya bicara kewenangan, takut kewenangannya hilang tapi ketidakmampuannya membuat orang keracunan,” ujar Budi saat gelar perkara di lokasi pabrik pil PCC di Semarang.

Masih kata Buwas, para pembuat pil PCC tidak punya keahlian di bidang farmasi. Pil PCC yang mereka produksi dengan dua mesin di Semarang dibuat asal campur dan tidak memiliki standar takaran.

“Dia tidak ada keahlian farmasi, jadi, ya, ngawur. Tapi kelihaiannya meracik pil yang tidak sederhana ini, ada indikasi dia bukan pemain baru. Bahan yang dicampur ini ada paracetamolsuprodol, dan lainnya,” ucapnya.

Tersangka otak utama pembuat pil PCC, Djoni, juga ditengarai tak memiliki pekerjaan selain memproduksi barang terlarang tersebut. Hal serupa juga terjadi pada Ronggo, tersangka pembuat pil PCC yang ditangkap di Solo.

“Ronggo dan Djoni ini punya keterkaitan. Mereka gemuk dan subur ini, ya, karena di rumah enggak ngapa-ngapain dan tinggal nerima duit miliaran saja,” imbuh Buwas.

Namun demikian, diakui Buwas, para pelaku dalam membuat pil PCC di rumah produksi di Jalan Halmahera Nomor 27, Semarang, telah mempersiapkan segala hal secara rinci. Mulai dari mesin produksi hingga ruangan yang dipakai. Bahan bakunya pun didatangkan dari luar negeri.

“Semua mesin yang dipakai canggih. Mulai mesin cetaknya hingga pengemasannya. Pelaku pun menggunakan ruang kedap suara agar tidak terdengar dari luar,” paparnya.

Sementara itu, BPOM Semarang menyatakan bahwa pihaknya sudah mencabut izin produksi dan edar pil PCC sejak 2013 karena kerap disalahgunakan kalangan remaja hingga hilang kesadaran.

“PCC itu kan awalnya diproduksi oleh pabrik farmasi Zenith, lokasi di Semarang. Tapi karena kerap disalahgunakan, kita cabut izin produksi dan izin edarnya sejak tahun 2013,” kata Pelaksana Tugas Kepala Balai POM Semarang Woro Puji Hastuti dalam kesempatan yang sama.

Sebelumnya pada September lalu, Kepolisian Polsek Bintan Timur Kepulauan Riau menyita 12 ton bahan baku obat pil PCC. Bahan baku tersebut berasal dari India yang datang melalui Singapura. Dari Singapura bahan baku itu kemudian masuk ke Batam.

Temuan 12 ton bahan pembuat PCC langsung ditangani oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pihaknya tidak memiliki kewenangan menangani kasus tersebut. Bahkan sampai saat ini tidak jelas bagaimana nasib bahan 12 ton.

Namun, BNN dan kepolisian terus melakukan pengembangan hingga akhirnya memperoleh temuan pabrik pil PCC di Semarang dan Solo. Mereka menemukan lebih dari 50 juta pil siap edar serta sejumlah bahan dan mesin-mesin canggih.

Pil PCC tersebut memang tidak termasuk kategori narkotika. Namun yang berwenang justru tidak mau bertanggung jawab  atau menolak untuk menanganinya. Adapun pil PCC yang diproduksi di Jawa Tengah diedarkan hingga ke ke luar pulau Jawa. Pangsa pasarnya adalah anak-anak. Dijual dengan harga yang murah.

Dalam produksi tersebut, para tersangka bakal dijerat dengan beberapa peraturan sekaligus. Ada unsur penipuan, pemalsuan hingga melanggar aturan perlindungan konsumen.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here