BNNP Jatim: Generasi Muda di Tengah Ancaman Proxy War

0
39
Ketua Umum KONI Jatim Erlangga Satriagung di Forum FGD menegaskan sikap lembaganya untuk ikut perang melawan narkoba.

Nusantara.news, Surabaya – Narkoba sudah menjadi senjata ampuh di ajang proxy war yang terus berlangsung hingga kini. Yang sangat mengerikan, generasi muda jadi target utama untuk memperlemah Bangsa Indonesia. Indikasi ini dibeberkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim yang baru Brigjen Pol Bambang Budi Santoso saat acara pisah sambut di Surabaya, Selasa (19/11/2017).

Karena itu, dalam mengemban amanahnya dia menegaskan misi penyelamatan generasi muda yang paling utama. Caranya, dengan menggencarkan sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, peredaran narkoba (P4GN) terutama kepada anak-anak di lingkungan sekolah. Pengganti Brigjen Pol Fatkhur Rahman mengatakan, narkoba menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia sehingga Presiden Joko Widodo menyematkan status “darurat narkoba”.

Sehingga perlu adanya pencegahan dengan cara sosialisasi yang lebih gencar. “Sosialisasi P4GN terutama untuk anak-anak penting agar anak muda tidak tercemar dengan penggunaan dan peredaran narkoba,” kata dia.

Sebagai institusi yang relatif baru, dia bahkan meminta dukungan pihak lain seperti halnya Pemerintah, TNI, Polri dan media agar meninggalkan ego sektoral dan bersama-sama perangi narkoba. Di Jawa Timur, bambang bahkan menyebut tidak ada satu pun daerah yang terbebas dari narkoba. Tindakan tegas sepertinya memang perlu dilakukan untuk menahan serbuan tak kenal waktu ini.

Bahkan dalam forum Focus Group Discussion yang digelar Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan KONI Jatim kemarin, dokter rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dr Singgih Widi Pratomo mengatakan, narkoba yang rata-rata didatangkan dari luar negeri bebas berkeliaran lantaran terbatasnya alat pendeteksi di banding luasnya garis pantai Indonesia.

“Padahal kalau di Jatim paling banyak masuk melalui jalur laut. Namun akses lainnya juga belum steril dari narkoba. Seperti di Bandara Juanda. Sedangkan yang dari dalam, ada fenomena jika narkoba sudah dijadikan ladang bisnis. Baru-baru ini ditemukan rumah di Surabaya jadi home industri narkoba,” ungkapnya.

Singgih sampai mengingatkan semua pihak untuk tidak tergoda rayuan sindikat narkoba yang dengan dukungan uang haram bahkan mampu mendatangkan teknologi tercanggih saat ini. Di Indonesia sendiri, lanjutnya, ada 72 jaringan pengedar narkoba dari 72 negara yang memasukkan barang haramnya ke Indonesia dengan aneka jenis.

“Sekarang narkoba bukan hanya masalah bisnis yang menghasilkan uang dalam jumlah besar, namun narkoba adalah bagian dari proxy war, perang pelemahan sumber daya manusia di sebuah negara. Setidaknya saat ini ada 250 jenis narkoba dan turunannya yang beredar di Indonesia. Butuh kerja sama untuk meredam pengaruh ini,” tuturnya.

Terkait hal ini, Ketua Umum KONI Jawa Timur Erlangga Satriagung sangat membenarkan statemen BNNK. Sebagai nahkoda lembaga yang memayungi banyak cabang olahraga, narkoba bisa mengubur potensi generasi muda. “Salah satu godaan atlet adalah narkoba. Kalau seorang atlet terkena (narkoba), ya wassalam. Sia-sia kita bina mulai remaja sampai golden age (usia emas),” sebut Erlangga.

Erlangga sadar bahwa narkoba bisa menyerang siapapun, termasuk kalangan olahragawan. Oleh sebab itu KONI Jatim siap berperan aktif untuk memerangi narkoba di kalangan olahragawan. “Sebab narkoba bukan sekadar urusan bisnis, tapi ini penghancuran tiga generasi,” tegasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here