BNPB Terbangkan Drone, Lakukan Pemetaan Lokasi Longsor

0
62

Nusantara.news, Surabaya – Pencarian 26 orang korban longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur terus dilakukan oleh SAR gabungan, Senin (3/4/2017). Tujuh unit alat berat dari sepuluh yang disiagakan diterjunkan ke lokasi pencarian, termasuk lebih dari 1.500 personil disebar. Operasi pencarian dilakukan dengan membagi tiga sektor, sektor A untuk kedalaman timbunan longsor sekitar 17 hingga 20 meter dikoordinir oleh Basarnas, di sektor B dikordinir oleh TNI, dan sektor C oleh Polri.

Karena luasnya areal longsor, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Informasi Geospasial dan Badan Geologi menerbangkan drone, pesawat tanpa awak untuk melakukan pemetakan dan untuk membantu dilakukan kajian cepat operasi tanggap darurat tersebut.

“Peta tersebut digunakan untuk menjelaskan lebih detil mengenai luas dan dampak longsoran. Selain itu, dengan pemetaan detail melalui drone dapat dilihat secara langsung kemungkinan adanya daerah-daerah lain berpotensi longsor susulan,” seperti dikatakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho kepada Nusantara.news, Senin (3/4/2017).

Disebutkan, hasil pemetaan dan survai dari udara menunjukkan jenis longsor di Ponorogo adalah translasi yaitu longsor yang disebabkan adanya pergerakan massa tanah dan bebatuan yang terdapat di bidang gelincir berbentuk rata. Retakan di perbukitan yang terbentuk pada 11/3/2017 lalu itu kemudian terus melebar sehingga terjadi longsor pada 1/4/2017.

“Dari mahkota longsor meluncur menghantam dinding bukit di depannya. Adanya perbedaan morfologi menyebabkan material longsor berbelok ke arah kiri meluncur dan menerjang permukiman mengikuti lereng,” lanjut Sutopo.

Sementara, jarak antara mahkota longsor dengan titik terakhir landaan longsor sekitar 2 kilometer. Dengan lebar landaan sekitar 200 meter dan tebal longsoran 20 meter.  “Inilah salah satu yang menyebabkan sulitnya pencarian korban tertimbun longsor,” tambahnya.

Untuk diketahui, penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukan hal yang baru. Guna kebutuhan kaji cepat yang efektif, pesawat tanpa awak itu sangat efektif dan bermanfaat. Keluwesan terbangnya baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.

Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika Serikat (AS) menyebutkan, drone adalah salah satu teknologi baru paling baik untuk meningkatkan respon bencana. Termasuk, bisa dipakai untuk peliputan bencana. ‘Si Lincah’ drone menghasilkan gambar atau tayangan video yang bagus.

Menurut Sutopo, alat tersebut sangat cocok bagi pemerintah sebagai pemegang keputusan, juga bagi masyarakat dalam angka memberikan informasi, edukasi dan menumbuhkan kesiapsiagaan. Untuk melihat hasil penampakan longsor Ponorogo dari drone, bisa follow twitter @BNPB Indonesia dan @sutopo BNPB.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here