BNPT: 16 Daerah di Jawa Timur Terindikasi Disusupi ISIS

0
178
Sejumlah simpatisan dan keluarga korban bom Kampung Melayu melakukan aksi simpatik di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Minggu (28/5). Aksi tersebut bertujuan agar masyarakat tetap berani melawan teror dan bersatu untuk melawan aksi terorisme. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww/17.

Nusantara.news, Surabaya – Aksi dua pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada 24 Mei 2017, menjadi jejak terakhir jaringan ISIS di Indonesia. Aksi serupa juga berlangsung sporadis di beberapa belahan dunia lain.

Hal ini menjadi kewajiban pemerintah untuk bersikap tegas bagi pengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi, sel-sel ISIS terindikasi masih banyak di negeri ini dan menunggu ‘bangun’ lancarkan aksi terornya.

Pembenaran adanya sel-sel jaringan radikal ini dilontarkan Direktur Pencegahan Badan nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ir Hamli ME di Surabaya, Minggu (11/6/2017) sore. Di Jawa Timur saja, dia mengungkap jika di 16 kota/kabupaten sudah terdeteksi ada sel tidur ISIS.

“Sudah ada orang di situ (ISIS). Baik sleeping cell (sel tidur) atau pun yang melakukan gerakan radikalisasi,” jelasnya ketika jadi pembicara dalam Seminar dan Bedah Buku ISIS Bahaya Ideologi dan Perkembangan Mutakhirnya di Indonesia.

Kendati Jawa Timur masih jauh dikatakan sebagai basis gerakan radikal atau pendukung ISIS di Indonesia, namun beberapa catatan mengungkap jika memang ada personal yang bergabung dan menjadi simpatisan ISIS.

Terakhir, penangkapan Zainal Anshori warga Lamongan (7/4/2017) yang diduga sebagai Amir Jamaah Anshar Daulah (JAD), kelompok yang berafiliasi pada ISIS dan berada di balik peristiwa Bom Thamrin 2016.

Penangkapan yang menyulut serangan balasan dari rekan-rekannya sehari berselang yang menyasar aparat kepolisian di Tuban. Dalam serangan susulan itu, 6 terduga pelaku tewas oleh peluru petugas.

Karena itu, pasca serangan bom Kampung Melayu, BNPT maupun Mabes Polri dan jajarannya kian meningkatkan kewaspadaan. Termasuk di Jawa Timur. Hanya saja muncul kesulitan untuk mereaksi berkembangnya jaringan JAD.

Hamli menuturkan, meski sudah terpantau namun selama belum ada bukti pihaknya tidak bisa melakukan penangkapan. “Memang. Sudah kami pantau, namun mereka belum ada bukti yang bisa mengarah untuk segera ditangkap,” terang dia.

Selain itu, penyebaran paham radikal secara terselubung dengan cara terputus cukup membuat kerepotan. Sikap pro aktif masyarakat jadi harapan BNPT agar bisa melokalisir penyebaran. Terutama di 16 daerah yang laporannya sudah masuk ke BNPT. Yakni di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, Malang, Trenggalek, Blitar, Tulungagung, Jember, Banyuwangi, Lamongan, Tuban, Gresik, serta beberapa wilayah di Madura.

Sikap pro aktif masyarakat memang bisa jadi solusi dalam mengurai persoalan ini. Termasuk pemuka-pemuka agama Islam untuk kembali merangkul saudara seiman yang terpapar virus kebencian. Selain untuk memperkokoh ukhuwah islamiyah, langkah deradikalisasi itu juga bisa lebih mengena secara psikologis. Paling tidak, bangunan komunikasi yang sudah terjalin bisa merekatkan sesama umat Islam kendati berbeda aliran.

Seperti pesan moral yang dikatakan takmir Masjid Cheng Hoo Surabaya Ahmad Hariyono Ong. “Bagi umat Islam, pegangan utama adalah Al Quran dan Al Hadist. Dan itu mutlak sebagai agama rahmatan lil alamin yang diturunkan Allah SWT ke dunia ini. NKRI merupakan hasil kesepakatan bersama founding father kita 47 tahun silam. Marilah kita sama-sama menjaga diri demi keutuhan Indonesia,” ucapnya.

Dua pedoman utama ini bisa menjadi perekat perbedaan paham. Prinsip itu juga yang diterapkan Ustad Ong dalam memimpin Masjid Muhammad Cheng Surabaya. Masjid ini membuka diri bagi semua aliran untuk menyampaikan dakwah. Mulai dari yang toleran sampai paham yang agak keras.

Namun semua itu dengan catatan, harus bisa meninggikan ajaran Islam di Surabaya. “Perbedaan itu kehendak Allah SWT asalkan tidak menyimpang dari perintah-Nya yang termuat dalam Al Quran dan Hadis,” sebutnya.

Terlepas dari semua itu, penyebaran paham bernada kebencian sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi di negeri ini. Tingginya tingkat kesenjangan ekonomi hingga perlakuan yang tidak adil kepada umat muslim yang mayoritas dapat menyuburkan benih-benih perlawanan. Jika pemahaman itu mendapatkan tempat yang salah, jangan berharap paham radikal terkikis dari Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here