Bocorkan Informasi Intelijen ke Rusia, Trump Dianggap Bahayakan Negara

0
80
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov dan Duta Besar Rusia untuk AS Sergei Kislyak di Gedung Putih, Washington, Rabu, 10 Mei 2017 (Foto Kementerian Luar Negeri Rusia via AP)

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali diterpa skandal soal keamanan negara, dan lagi-lagi ada hubungannya dengan Rusia. Kali ini Presiden AS ke-45 itu dituding telah membocorkan informasi rahasia kepada pejabat dan diplomat Rusia dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih.

Tudingan dilayangkan harian Washington Post yang mengutip seorang pejabat tinggi pemerintah AS. Menurut laporan tersebut, Trump menyerahkan data intelijen soal Islamic State dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan duta besar Rusia Sergey Kislyak pekan lalu, setelah Trump melakukan pemecatan terhadap direktur FBI James Comey.

Trump dinilai melakukan pelanggaran, terlebih informasi yang dibocorkan berasal dari dinas intelijen negara sekutu atau mitra yang menolak membagikannya kepada pihak Rusia.

Namun demikian, Gedung Putih menepis tudingan tersebut. Tapi Penasehat Keamanan Nasional AS, Jenderal HR McMaster mengakui bahwa “Trump dan Lavrov mempelajari sederet ancaman terhadap kedua negara, termasuk ancaman terhadap penerbangan sipil,” ujarnya.

Washington Post menulis, Trump menjelaskan mengenai ancaman teror ISIS terhadap penerbangan sipil dengan menggunakan komputer laptop. Ia juga membocorkan nama kota tempat informasi tersebut dikumpulkan. Pemerintah AS baru-baru ini memang telah melarang penggunaan laptop di pesawat sipil dari sejumlah negara Timur Tengah dan juga dari Eropa.

Tidak ada bantahan yang tegas dari Gedung Putih terkait informasi tersebut. McMaster hanya menyebut bahwa tuduhan seperti yang dilaporkan media (Washington Post) adalah tidak benar.

Namun demikian, jika skandal ini terbukti, dianggap sebagai salah satu yang paling besar selama masa kepresidenan Trump.

“Membocorkan informasi rahasia pada level ini adalah sangat berbahaya dan menggandakan risiko bagi warga Amerika yang bekerja mengumpulkan informasi intelijen untuk negara kita,” kata Senator Chuck Schumer dari Partai Demokrat.

“Presiden harus menjelaskan duduk perkaranya kepada komunitas intelijen, rakyat dan Kongres,” tandas Chuck.

Sejumlah pengamat menilai skandal terbaru Gedung Putih ini sangat berpotensi merusak reputasi Trump sebagai pribadi maupun sebagai seorang presiden.

Akibat insiden tersebut, timbul pertanyaan apakah sang Presiden bisa dipercaya sebagai pemimpin negara serta apakah dia memahami implikasi mendiskusikan rahasia negara kepada pihak musuh, dalam hal ini Rusia. Tak hanya itu, kredibilitas politik Gedung Putih dan komunikasi antara para pejabat di dalamnya pun turut dipertaruhkan.

“Ini bukan tentang kewenangan seorang presiden. Tapi lebih tentang pribadi seorang pemimpin negara dan kinerjanya,” kata mantan Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA), Michael Hayden, Senin (15/5), sebagaimana dilansir CNN.

“Dengan insiden ini, publik melihat dia (Trump) sedikit tidak disiplin, impulsif, naluriah, dan tidak punya kesabaran, apalagi ketika dia berbicara di luar skrip atau rencana pembahasan seperti ini. Pada akhirnya sikap Trump seperti ini merusak tujuannya sendiri,” ucap Hayden.

Menurut peraturan, presiden memang memiliki hak hukum untuk mendeklasifikasi informasi, karena informasi rahasia itu milik sang presiden. Namun dengan berbagi informasi intelijen yang sensitif dengan pihak Rusia, Trump dianggap telah membahayakan keamanan nasional AS.

“Presiden memiliki wewenang luas untuk mendeklasifikasi rahasia pemerintah, sehingga tidak mungkin pengungkapannya itu melanggar hukum,” kata seorang pengamat.

Dengan kata lain, dengan syarat yang sangat ketat, presiden sejatinya dapat melakukan apa saja yang dia suka dengan informasi rahasia, karena informasi itu diklasifikasikan atas keinginannya.

Meski presiden memiliki hak untuk memberikan rahasia kepada pihak mana pun yang diinginkannya, tetap saja jika benar rahasia dibocorkan kepada pihak Rusia sangat membahayakan. Apalagi informasi yang dibocorkan itu bersumber dari mitra intelijen AS. Apa yang akan terjadi pada hubungan AS dengan mitra intelijen? Negara-negara yang selama ini memberikan informasi intelijen ke AS tentu akan berpikir ulang.

Selama pemerintahan Obama, berbagi informasi dengan pihak Rusia yang dianggap sebagai musuh adalah hal yang mustahil. Karena ketika itu AS takut kalau Rusia akan menggunakan kesempatan mengumpulkan intelijen mereka sendiri atas sumber dari AS. Bahkan selama beberapa dekade intelijen AS memata-matai Rusia.

Skandal yang dilakukan oleh Trump, akan membuat mitra intelijen AS gugup. Padahal, banyak informasi intelijen AS yang bersumber justru dari negara-negara mitra. Bisa dibayangkan, sekarang mungkin dinas intelijen di seluruh dunia berpikir ulang untuk berbagi informasi dengan AS.

Selain itu, skandal terbaru ini akan merongrong hubungan antara presiden dan komunitas intelijennya. Sebagaimana diketahui hubungan presiden Trump dan komunitas intelijen AS mengalami masalah yang rumit belakangan ini, puncaknya adalah pemecatan Direktur FBI James Comey.

Bisakah skandal ini, jika terbukti, menyeret Trump ke pemakzulan?

Meski membocorkan rahasia, menurut Alan Dershowitz, seorang profesor di Harvard University, mengatakan Trump tetap aman dari tuntutan kriminal atau bahkan pemakzulan.

Sebab, berdasarkan konstitusi AS seorang presiden memiliki kewenangan untuk mendeklasifikasi informasi-informasi intelijen.

“Meski begitu, ini adalah tuduhan paling serius kepada presiden AS. Jangan sepelekan tudingan ini,” katanya.

Elliot Cohen, profesor di sekolah tinggi studi internasional John Hopkins University menganggap insiden ini mengerikan. Dia mengatakan, Trump bisa dianggap sebagai pengkhianat jika dirinya sengaja membeberkan rahasia tersebut kepada Rusia.

“Ini sangat mengerikan. Jika disengaja, ini akan menjadi pelanggaran bagi Trump sebagai seorang presiden. Jika dia sengaja, ini akan menjadi sebuah tindakan pengkhianatan,” kata Cohen, sebagaimana dilansir Business Insider. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here