Bom Berantai, Modus Baru Mengincar Polisi

0
472
Pemakaman Polisi Bripda Taufan Tsunami korban bom Kampung Melayu di TPU Pondok Rangon, Jakarta, Kamis (25/5/2017).

Nusantara.news, Jakarta – Bom bunuh diri yang meledak di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur kemarin malam (24/5/2017) adalah modus baru dalam mengincar aparat kepolisian. Sebab polanya berbeda dengan teror-teror bom yang tertuju pada polisi sebelumnya.

Biasanya bom yang ditujukan kepada polisi dilakukan dengan pola serangan spekulatif. Pelaku bom bunuh diri, atau disebut “pengantin” itu, membawa bom ke dalam markas polisi atau mendekati tempat polisi berseragam yang sedang bertugas, lalu meledakkannya di dekat sasaran.

Disebut spekulatif, karena serangan tersebut bisa mengenai sasaran, namun bisa pula meleset atau target tidak sesuai rencana.

Pola itu terlihat dalam serangan bom di depan Masjid Mapolres Poso pada 9 Juni 2013 yang menewaskan pelaku tewas dan melukai seorang pekerja bangunan terluka. Cara serupa juga terlihat ketika teroris Muhammad Syarif meledakkan bom yang terpasang di tubuhnya di masjid yang terletak di dalam Mapolresta Cirebon, pada 15 April 2010. Juga ketika Nur Rohman melakukan aksi bom bunuh diri di Polresta Solo pada 5 Juli 2016. Demikian pula dengan serangan terhadap pos polisi di Sarinah Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016.

Pola spekulatif ini tampaknya dievaluasi oleh para teroris. Sebab serangan seperti itu tidak membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan, yakni menewaskan polisi sebanyak mungkin. Dalam aksi-aksi tersebut, ternyata target tidak tercapai.

Aksi di Mapolresta Cirebon hanya melukai Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco dan 25 orang anak buahnya yang hendak menunaikan shalat Jumat. Bom Sarinah Thamrin juga hanya menciderai Ipda Denny Mahieu, anggota Sat Gatur Ditlantas Polda Metro Jaya, yang sedang bertugas di Pos Lantas di situ. AKP Herry, seorang anggota polisi Polres Metro Bekasi, yang menjadi sasaran bom bunuh diri dengan sepeda berisi bom oleh teroris bernama Abu Ali pada 29 September 2010, juga selamat.

Pola ini terlihat berubah dalam bom di Kampung Melayu. Kali ini bom diledakkan dua kali dengan selang waktu 5 menit. Ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB, sedangkan ledakan kedua terjadi 5 menit kemudian.

Efek yang diharapkan dari ledakan berantai ini adalah reaksi polisi yang sedang mengadakan tugas Turjawali (Pengaturan, Penjagaan dan Patroli) di sekitar terminal itu untuk segera mendekati sumber ledakan. Sebab, secara psikologis, polisi pasti secara refleks untuk segera menghambur ke lokasi ledakan, baik untuk menolong korban maupun mengamankan TKP.

Begitu polisi mendekat dan berada di radius sasaran, bom kedua diledakkan. Akibatnya, semua polisi muda yang berada di killing ground langsung diterkam ledakan.

“Anggota Polri yang gugur adalah Bripda Taufan, Bripda Ridho dan Bripda Adinata,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto kepada wartawan di tempat kejadian, dini hari Kamis (25/4/2017). Sedangkan 10 orang korban luka adalah 5 personel polisi dan 5 orang warga sipil. Semua polisi ini menjadi korban ketika berusaha menolong korban ledakan bom pertama.

Ini adalah korban polisi terbanyak kedua dalam sejarah teror terhadap aparat penegak hukum itu. Rekor terbanyak adalah ketika kantor Komando Sektor Kota (Kosekta) 65 Cicendo Bandung diserbu oleh 14 orang anggota Jamaan Imran pada 11 Maret 1981, yang menewaskan empat anggota Polri.

Jamaah ini adalah sekumpulan anak muda radikal yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein, pria asal Medan, yang jadi tokoh Komando Jihad. Jamaah ini terbentuk pada 7 Desember 1975 di Bandung. Kelompok ini pula yang membajak pesawat DC 9 Woyla GA 208 rute Jakarta-Palembang, 28 Maret 1981. Lima pembajak memaksa Kapten Pilot Herman Rante membelokkan pesawat menuju Bandara Don Muang, Bangkok.

Penyerbuan ke Cicendo itu untuk membebaskan teman mereka yang ditahan di Kosek (sekarang Polsek) itu karena terlibat kecelakaan lalu lintas. Namun, berbeda dengan serangan bom seperti belakangan ini, aksi penyerbuan Kosek Cicendo itu menggunakan senjata api.

Pola baru dengan ledakan berantai dengan interval beberapa menit inilah yang mesti diwaspadai polisi. Sebab, teroris memanfaatkan reaksi refleks polisi yang pasti segera bertindak mendekati TKP. Pada saat mendekat, bom berikut diledakkan.

Polisi adalah target utama terorisme sejak beberapa tahun terakhir. Jika dulu sasaran aksi teror adalah kepentingan asing, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, sekarang mereka beralih menyasar polisi.

“Karena kepolisian itu dianggap sebagai kafir harbi. Kafir harbi itu kafir yang memerangi mereka. Jadi siapa yang memerangi mereka, itu menjadi prioritas untuk diserang,” kata Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian.

Jaringan  teror Anshorud Daulah misalnya sudah menyusun daftar markas-markas polisi yang bakal jadi sasaran ledakan bom demi menuntut temannya yang ditahan Densus 88 dilepaskan. Ketika jaringan ini tertangkap usai Bom Cicendo Bandung, Kadiv Humas Polri (waktu itu) Irjen Pol Boy Rafli Amar memaparkan kantor polisi yang ditarget. “Ada beberapa target sebagai sasaran aksi teror. Antata lain Polda Jabar, Polres Cianjur, pos lalu lintas di Buah Batu dan Gegerkalong,” ujar Boy, yang sekarang Kapolda Papua itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here