Bom Bunuh Diri Masih Mengancam

0
131
Rangkaian teror bom di Surabaya menggunakan bahan peledak TATP yang biasa digunakan ISIS di Suriah. Bahan peledak ini mulai dipakai teroris Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Nusantara.news, Jakarta  –  Pelaku rangkaian aksi teror bom di Surabaya, Minggu dan Senin (13-14 Mei 2014) dipastikan menggunakan bahan peledak berdaya ledak tinggi (hi-explosive). Itu terlihat dari tidak terlalu besarnya volume paket bom, sehingga bisa dibawa dengan mudah oleh perempuan, seperti yang dilakukan Puji Kuswati dan meledak di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Surabaya.

Bom di Polrestabes Surabaya juga sejenis, karena dapat dibawa dengan sepeda motor sambil berboncengan. Itu menunjukkan paket bom yang dibawa tidak terlalu besar. Sementara daya ledaknya, ternyata sangat dahsyat. Serpihan tubuh pelaku terpental sampai ratusan meter dari titik ledakan.

Ketika polisi melakukan penggeledahan di rumah pelaku di Jalan Wonorejo Surabaya, Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) menemukan tiga bungkusan plastik yang masing-masing terdapat dua pipa berisi TATP (triacetone triperoxide). TATP, atau juga disebut TCAP (tri-cyclo acetone peroxide) adalah bahan peledak berkekuatan tinggi yang sering digunakan para teroris bom. “Ini bahan peledak yang sangat terkenal di kelompok ISIS di Suriah dan Irak,” kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Mapolda Jatim, Senin (14/5/2018).

Menurut keterangan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Densus 88/Antiteror berhasil menjinakkan satu koper bom pipa yang berjumlah 54 bom.

Bentuk bom pipa yang di dalamnya terdapat TATP (triacetone triperoxide) sebagai bahan peledak. Bom seperti ini yang ditemukan dalam penggerebekan di rumah teroris di Sidoarjo.

Teror bom di kantor Kelurahan Arjuna, Cicendo, Bandung, 27 Februari 2017 dan di Terminal Kampung Melayu pada 24 Mei 2017 juga menggunakan jenis bahan peledak yang sama. Wakapolri Komjen Pol Syafruddin waktu itu mengungkapkan, materi bahan peledak yang ditemukan Puslabfor Polri di TKP Kampung Melayu adalah TATP.

Menurut Syafruddin, bahan ini banyak digunakan teroris karena mudah dibawa ke mana-mana, bahkan naik pesawat. Artinya, kalau bisa dibawa naik pesawat, tentu jenis bahan peledak ini tak terdeteksi oleh pemindai X-Ray di bandara.  Gara-gara TATP itulah ada larangan bagi  penumpang untuk membawa cairan lebih 100 ml ke dalam pesawat.

TATP memang punya ciri khas. Baunya tidak terlalu tajam. Namun, bahan ini tidak pernah digunakan dalam peledakan komersial maupun oleh militer, karena sifatnya yang sangat sensitif. Guncangan, panas di atas 86 derajat Celcius, gesekan atau radiasi ultra-violet bisa membuat TATP meledak sendiri. Daya ledaknya kurang lebih setara dengan TNT (Trinitrotoluena). Itu sebabnya, TATP mempunyai julukan mengerikan, The Mother of Satan.

“TATP memang bahan peledak yang sangat berbahaya. Daya ledaknya tinggi, dan daya luncurnya mencapai 5.100 meter perdetik,” lanjut Wakapolri.

Beberapa aksi teror di Eropa menggunakan bahan ini sebagai peledak. Misalnya, bom bunuh diri yang dilakukan Salman Abedi di konser Ariana Grande di Manchester pada 22 Mei 2017.  Bom di Katedral Notre Dame, Paris, 6 Juni 2017 juga menggunakan TATP. Begitu juga aksi teror bom di Brussel pada 22 Maret 2016, dan bom di tiga jalur kereta api bawah tanah dan sebuah bus di pusat Kota London pada 7 Juli 2005.

Meski TATP sangat populer di kalangan teroris mancanegara, namun di Indonesia ini merupakan barang baru. Orang pertama yang menggunakan TATP sebagai bahan bom di Indonesia justru bukan teroris dalam pengertian umum. Dia adalah Leopard Wisnu Kumala, yang meledakkan toilet kantin Borneo di Mal Alam Sutera, Tangerang, 9 Juli 2015 silam.

Leopard adalah seorang ahli IT dengan jabatan supervisor senior di sebuah perusahaan dekat mal tersebut, yang tengah kesulitan uang. Dia mengancam akan meledakkan mal tersebut  jika manajemen Mal Alam Sutera tidak memberinya uang Rp300 juta. Leopard sudah dua kali meletakkan  bom di mal itu. Bom pertama tanggal 6 Juli 2015, tapi tidak meledak. Bahan peledak berbentuk serbuk putih itu dimasukkan ke dalam kotak rokok Marlboro, yang diledakkan dengan switching sebagai pemantik api

Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, bom buatan Leonard berdaya ledak tinggi. Namun kerusakan akibat ledakan tidak parah. “Sebab jumlah yang digunakan hanya sedikit. Hanya sekitar 10 gram,” kata Tito.

Kalau TATP yang dipakai dalam jumlah besar tentu berbeda akibatnya. Sebagai perbandingan, bom di London 7 Juli 2005 menggunakan TATP sebanyak 4,5 kilogram. Akibatnya, 52 orang meninggal dunia, dan 700 orang lebih terluka.

Bom di kantor Kelurahan Arjuna Bandung dan bom di Kampung Melayu, karena memang dirancang oleh teroris betulan, tentu lebih canggih dari buatan Leopard. Jumlah TATP yang digunakan juga lebih banyak. Berbeda dengan Leopard yang hanya menempatkan bomnya dalam bungkus rokok, teroris di dua tempat ini menggunakan wadah berupa panci presto bertekanan tinggi sebagai penyimpan TATP. Sehingga daya ledaknya jauh lebih kuat. Saking kuatnya ledakan, tubuh korban tercerai berai.

Bom di Kampung Melayu juga merupakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan dua orang, Ichwan Nurul Salim dan Ahmad Sukri. Mereka adalah anggota jaringan Jamaah Anshorud Daulah (JAD) pimpinan Bahrun Naim dan Aman Abdurrahman. Ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB, sedangkan ledakan kedua terjadi 5 menit kemudian. Orang yang diduga pelaku itu tewas bersama korban meninggal lainnya.

Total orang tewas akibat bom di Kampung Melayu sebanyak 5 orang. Dua orang yang tewas diduga pelaku, 3 orang lainnya adalah anggota Unit Turjawali (Pengaturan, Penjagaan dan Patroli) Satuan Tugas Umum (Satgasum) Direktorat Sabhara Polda Metro Jaya. Anggota Polri yang gugur adalah Bripda Taufan, Bripda Ridho dan Bripda Adinata. Sedangkan 10 orang korban luka adalah 5 personel polisi dan 5 orang warga sipil.

Oleh sebab itu, masuk akal jika aksi teror di Surabaya juga menggunakan bahan peledak serupa. Karena, seperti dikatakan Kapolri, aksi itu dilakukan oleh JAD Surabaya yang dipimpin Dita Oepriarto. Dita adalah pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Dita adalah suami dari Puji Kuswati, yang meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro, serta ayah dari Yusuf Fadil (18 tahun) dan Firman (16 tahun) yang melakukan aksi bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Gubeng Surabaya.

Artinya, sudah beberapa kali TATP digunakan sebagai bahan peledak bom teror di Indonesia. Digunakannya TATP oleh Leopard Wisnu Kumala di Mal Alam Sutera tentu mesti menjadi catatan khusus bagi Polri. Sebab, Leopard yang bukan teroris saja bisa memperoleh bahan itu –meski hanya 10 gram—dan  membuatnya menjadi bom, tentu para teroris lebih mudah lagi mendapatkannya dan merakitnya menjadi bom yang lebih dahsyat.

Bahan baku TATP ini pun diperjualbelikan secara bebas, karena bukan tergolong bahan kimia berbahaya. Bahan itu antara lain asam sulfat  (H2SO4), cairan yang tempo hari dipakai menyiram penyidik KPK Novel Baswedan. Asam sulfat dicampur dengan aseton atau propanon serta hidrogen peroksida (H2O2).

Bisa dikatakan, dengan penggunaan TATP ini, cara kerja teroris memasuki pola baru, baik dari segi perakitannya maupun bahan peledak yang dipakai.

Untuk perakitan, bom teror dulu dirakit oleh teroris ahli seperti Dr. Azahari Husin, Ali Imron atau Dul Matin alias Joko Pitono yang ahli membuat firing divice. Kini dengan TATP siapa pun bisa membuat bom. Leopard adalah contohnya. Leopard mengaku belajar merakit bom TATP itu dari internet.

Dari sisi bahan baku bom, sebelum dipakainya TATP, biasanya para teroris Indonesia selalu menggunakan bahan peledak senyawa tunggal, seperti Tetryl, PETN (Pentaerythritol Tetranitrate), TNT  dan RDX (Royal Demolition Explosive) yang juga disebut sikloit, heksogen, atau T4. Bahan peledak senyawa tunggal adalah bahan peledak yang terdiri dari satu macam senyawa bahan peledak saja.

Pada umumnya, bahan peledak ini bersifat deflagrative (menghancurkan) dan bukan combustive (membakar). Jika ada api yang berkobar ketika terjadi ledakan, itu menyiratkan ada bahan campuran lain yang digunakan.

Namun bahan peledak organik ini susah didapat, karena harus diselundupkan dari Filipina Selatan atau negara-negara bekas konflik lainnya. Karena itu, jika tidak tersedia bahan peledak organik yang cukup untuk beraksi, mereka membuat bahan peledak campuran. Bahan-bahan itu antara  Potassium Chloride (KCl), Ammonium Nitrate Fuel Oil (ANFO), Kalium Nitrat (saltpeter,atau KNO2) dan sejenisnya. Bahan peledak senyawa tunggal yang terbatas itu digunakan untuk detonator dan booster. Isinya antara lain Tetryl, PETNTNT dan RDX.

Namun, untuk mencapai daya ledak yang besar, bahan campuran  yang digunakan harus dalam jumlah besar pula.

Itu sebabnya, bahan bom yang diledakkan di Sari Club  di Legian, Denpasar itu, diangkut dengan menggunakan minibus Mitsubishi L-300. Karena total beratnya 1.250 kilogram. “Jika jumlah itu dikonversi ke bahan peledak senyawa tunggal, maka jumlahnya cukup 95 kilogram saja,” ujar seorang perwira Labfor Denpasar, kepada wartawan Nusantara.news ketika ituModus operasi dan bahan peledak yang sama juga terjadi dalam teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003. Sang pengantin bernama Asmar Latin Sani membawa bom dengan minibus Toyota Kijang yang diparkirnya di depan lobi hotel. Bom di Jalan Rasuna Said, di depan Kedubes Australia, pada 9 September 2004 juga menggunakan mobil boks.

Aksi teror di Surabaya kemarin semakin mempertegas bahwa teroris sudah beralih ke bahan peledak TATP, yang bahan bakunya mudah didapat dan gampang dibuat. Dari sisi teroris, dengan adanya TATP ini, mereka bisa beraksi lebih efisien. Era bom mobil seperti pada Bom Bali I, Bom Hotel Marriott atau Bom Kuningan tampaknya sudah ditinggalkan, karena berbiaya tinggi.

Kenyataan ini sangat mengkhawatirkan, karena menunjukkan adanya celah yang menganga untuk aksi teror berikutnya.

Banyak hal yang perlu dievaluasi. Soal pengawasan bahan peledak, misalnya. Dalam Pasal 1 aat (1) UU Darurat No. 15 Tahun 1951 yang mengubah Ordonnantie Tijdelijke Byzondere Strafbepalingen  (Stbl. 1948 No. 17) dan UU Nomor 8 Tahun 1948, sudah ditegaskan bahwa siapa yang tanpa hak mempunyai bahan peledak dihukum dengan hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun. Dan Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Pengawasan, Pengendalian dan Pengamanan Bahan Peledak Komersial juga sudah mengatur rambu-rambu yang  sangat ketat.

Namun, ketentuan ini hanya mengatur tentang bahan peledak komersial. Sementara teroris sudah beralih menggunakan bahan-bahan baru yang secara teknis tidak tergolong bahan peledak komersial tersebut.

Selain meningkatkan pengawasan bahan peledak dan varian barunya, cara pengamanan di sejumlah tempat vital  yang menggunakan metal detector juga perlu dievaluasi. Cara seperti ini bukan saja sudah sangat ketinggalan zaman, tapi juga memang tidak tepat untuk mencegah teror bom. Karena alat ini hanya bisa mendeteksi logam dan tidak bisa mencium bahan kimia. Di sejumlah negara, selain menggunakan metal detector, petugas keamanan juga sudah dilengkapi radiation detector yang dapat mendeteksi radiasi bahan kimia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here