Bom di St Petersburg, Aksi Radikal Ukraina?

0
46
Korban teror bom di stasiun kereta bawah tanah di St Petersburg, Rusia, Senin

Nusantara.news, Moskow – Sepuluh orang tewas dalam ledakan diduga bom Senin, (3/4) sore waktu setempat, di Metro bawah tanah St Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow. Di saat bersamaan Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mengunjungi kota tersebut.

Belum bisa dipastikan pihak mana pelaku pengeboman karena otoritas Rusia masih melakukan penyelidikan. Namun, seperti biasanya, sejumlah media sudah mengait-ngaitkan ledakan tersebut dengan kelompok ISIS. Ditambah lagi, tersebar informasi di media sosial bahwa sehari sebelum ledakan, ISIS menyebarkan foto dengan ancaman, “Kami Akan Membakar Rusia”.

Pada bagian lain, sejumlah media juga mengaitkan peristiwa ledakan itu dengan peristiwa-peristiwa teror sebelumnya yang melibatkan ekstemisme Islam. Independent.co.uk, media asal Inggris misalnya, menyebut sederet peristiwa yang dikaitkan dengan terorisme Islam. Misalnya, 38 orang tewas pada tahun 2010 ketika dua wanita meledakkan bom bunuh diri di kereta bawah tanah (metro) kota Moskow. Lalu lebih dari 330 orang, setengahnya anak-anak, tewas pada tahun 2004 ketika polisi menyerbu sebuah sekolah di selatan Rusia setelah penyanderaan oleh militan Islam. Pada tahun 2002, 120 sandera tewas ketika polisi menyerbu sebuah teater Moskow untuk mengakhiri penyanderaan lain.

Media menyebut bahwa Rusia selama ini telah menjadi target serangan militan Chechnya pada tahun-tahun terakhir. Pemimpin pemberontak Chechnya telah sering mengancam melakukan serangan. Kelompok Negara Islam yang merekrut para pemberontak Chechnya dituding sebagai pelaku teror selama ini. Para pemberontak IS (Islamic State) diklaim selama ini telah melakukan ancaman serangan di seluruh Rusia sebagai pembalasan atas intervensi militer Rusia di Suriah.

Memang, Angkatan Udara dan pasukan khusus Rusia mendukung Presiden Bashar al-Assad dalam memerangi kelompok pemberontak dan pejuang ISIS yang sekarang sedang diusir dari Suriah, sehingga tudingan ke arah ISIS menguat.

Tuduhan yang dialamatkan kepada kelompok Islam, memang selalu menyertai setiap aksi teror. Namun jangan pula dilupakan, Rusia juga tengah menghadapi ancaman serius dari radikalisasi di Ukraina. Ukraina saat ini mendelegasikan sebagian haknya untuk melakukan tindak kekerasan kepada ‘tentara swasta’ dalam bentuk batalion sukarelawan. Selain itu, ada juga beberapa kelompok paramiliter, seperti Sektor Kanan, yang beroperasi di Ukraina. Semua struktur non-negara itu saat ini memandang Rusia sebagai musuh.

Namun demikian, Presiden Putin yang tengah melakukan pertemuan dengan rekan Belarusia-nya Lukashenko di St Petersburg, tidak buru-buru menyimpulkan. Dia menyatakan belasungkawa sesaat setelah ledakan yang “kemungkinan merupakan serangan teror” itu.

“Motif ledakan belum diketahui, sehingga terlalu dini untuk berbicara tentang hal itu. Penyelidikan akan menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi,” kata Putin, sesaat sebelum memulai pertemuan dengan Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko.

Laporan awal  sempat menyebutkan ada dua ledakan, tapi kemudian direvisi bahwa hanya ada satu ledakan di satu gerbong kereta yang berjalan di antara dua stasiun.

Kantor Gubernur wilayah setempat menyebut bahwa kekuatan bom setara dengan 200 gram TNT dan ditempatkan di dalam gerbong kereta. Ledakan yang kuat menyebabkan pintu kereta terlempar dan rusak berantakan.

Menurut laporan media pemerintah TASS, sebagaimana dikutip CNN (3/4) insiden tersebut memaksa penutupan seluruh sistem metro di St Petersburg.

Juru bicara Komite Nasional Anti-teroris Andrei Przhezdomsky mengatakan, ledakan tersebut disebabkan oleh alat peledak yang belum dikenali pada sebuah mobil.

“Sejauh ini, kita katakan itu adalah bahan peledak yang belum dikenali, peneliti dan spesialis bom pelayanan keamanan pemerintah Federal tengah menyelidiki penyebab pasti ledakan ini,” kata dia. Sementara menurut dia, evakuasi kereta bawah tanah itu telah selesai dilakukan.

Kantor Jaksa Agung Rusia, sebagaimana dilaporkan TASS, secara tegas menyebutkan ledakan di kereta bawah tanah St. Petersburg adalah serangan teroris.

Ledakan tersebut terjadi saat kereta berada di sebuah terowongan antara stasiun Sennaya Ploshchad dan stasiun Tekhnologichesky Institute.

Seorang saksi di stasiun Sennaya, Stanislav Listyev, mengatakan dia ikut merasakan ledakan dan melihat asap keluar dari terowongan.

“Saya ketika itu akan menuruni eskalator di Sennaya, sekitar jam setengah dua, dan pada saat itu saya merasakan gelombang ledakan dari bawah. Semuanya penuh dengan asap, orang-orang mulai panik. Kereta berhenti dan evakuasi segera dimulai,” katanya kepada CNN.

“Saat ini ada sekitar 50 orang terluka, para dokter bekerja untuk mereka. Jumlah ambulans yang ada adalah 17, dan akan terus akan ditambah,” kata sekretaris pers Kantor Gubernur, Andrei Kibito.

Menteri Luar Negeri Rusia Boris Johnson mengatakan di akun twitter-nya, “ngeri oleh berita ledakan.” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here