Bom Kembali Meledak, Bukti Jatim Belum Aman

0
152
Petugas Jihanda Polda Jati mengamankan sebuah tas yang diduga berisi bom di Pasuruan (RRI)

Nusantara.news, Surabaya – Provinsi Jawa Timur dikenal dengan wilayah yang aman, damai, terjaga kerukunan antar umat dan warganya, namun seiring berjalannya waktu predikat itu pudar. Mengapa? Banyak sebab, misalnya terkait peristiwa besar dan mendunia, yakni meroketnya nama teroris bersaudara, Amrozi, Ali Ghufron dan Ali Imron, asal Desa Tenggulun, Kabupaten Lamongan, pelaku teror Bom Bali 12 Oktober 2002, silam. Nama lainnya yang juga terpatri sebagai pelaku teror sebut saja Faturahman Al Ghozi dari Madiun, serta masih banyak nama-nama lain.

Setelah terjadi serangkaian peristiwa peledakan bom di Surabaya, Minggu 13 Mei 2018,  terjadi ledakan kembali di Desa Pogar, Bangil, Pasuruan, Kamis 5 Juli 2018, sekitar pukul 11.30 WIB.

Kronologisnya, dari sebuah rumah tiba-tiba terdengar suara ledakan, sejumlah saksi menyebut ledakan lebih dari dua kali, tepatnya di rumah Saprani yang dikontrak oleh satu keluarga. Mereka, kepala keluarga bernama Abdullah (42), identitasnya tertera asal dari Desa Daya Lampoawe, Kecamatan Simpang Tiga, Aceh. Seorang perempuan, Dina Rohana, asal Sidoarjo lahir 16 Juni 1978, beralamat di Perumahan Arbain Blok 6B RT 07/01 Desa Gempeng, Bangil, dan anaknya yang masih kecil. Dalam insiden itu, anaknya umur sekitar 6 tahun terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Keterangan sejumlah saksi, Hariono misalnya yang warga Pogar RT 01. RW 01, yang saat kejadian berada di sebuah warung depan rumah sumber ledakan, menyebut melihat seorang lelaki yang juga kedapatan terluka dengan terburu-buru keluar dari rumah mengendarai sepeda motor. Lelaki itu menghilang, diduga sebagai penghuni rumah dan juga pemilik bom.

Terkait insiden itu Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin menyebut telah mengantongi identitas penghuni rumah. Termasuk lelaki bernama Anwardi, penghuni rumah kontrakan yang diduga pemilik bom yang meledak. Polisi menyebut, kini tengah dilakukan pengejaran oleh petugas.

“Dia (lelaki yang diduga Anwardi) kabur dan saat ini terus kita kejar,” terang Irjen Pol Machfud Arifin, Kamis (5/7/2018).

Untuk memuluskan langkahnya melarikan diri, lelaki itu sempat melontarkan kalimat ancaman kepada sejumlah orang yang mendekati rumahnya saat mendengar suara ledakan, dengan mengatakan dirinya masih membawa bom di di dalam tas.

Dari rangkaian peristiwa itu, jelas kembali membawa dampak psikologis tak hanya bagi warga sekitar lokasi kejadian, juga masyarakat di wilayah Jawa Timur lainnya. Kewaspadaan dengan mengenali orang baru di kampungnya harus dilakukan, tidak sebaliknya menutup diri atau egois tidak mengenal warga tetangganya.

Ketakutan dan dihinggapi rasa tidak aman pun kembali hinggap di benak banyak orang. Pergi ke pusat keramian atau yang disebut menjadi target serangan, termasuk sebaliknya tempat lain yang tidak menjadi sebutan target, karena bisa saja terjadi.

Petugas Brimob bersiaga pasca ledakan bom gereja di Surabaya, Mei 2018 lalu (Foto: Tudji)

Identitas pelaku bom, juga memunculkan penilaian negatif dan kecurigaan. Misalnya, berkaca dari peristiwa Bom Bali, banyak kita dengar pengakuan dihinggapi rasa cemas saat bepergian utamanya ke wilayah Bali, ini umumnya dialami mereka yang ber KTP Lamongan. Itu lantaran, pelaku terbukti beridentitas Lamongan.

Soal Siskamling, jika benar sistem jaga dan ronda kampung diterapkan tentu warga termasuk pengurus kampung tidak kesulitan mengetahui siapa saja penghuni rumah kontrakan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Keberadaan, fungsi dan tugas Babinsa dari TNI serta Bhabinkamtibmas dari Polri juga harus kembali ditinjau perannya.

NU dengan komitmen membantu petugas kepolisian menjaga keamanan dengan mengerahkan personil Barisan Serba Guna (Banser), tidak ada salahnya jika kembali melakukan koreksi. Bentuk kewaspadaan dan kesiapsiagaan seperti apa yang telah dijalankan, ini harus kembali dibenahi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi, alias kecolongan.

Pengamat terorisme Ridwan Habib, menduga ledakan yang terjadi itu bisa jadi merupakan bagian dari serangkaian perencanaan teror yang gagal. Dia menyebut, peristiwa itu mirip dengan peristiwa ledakan bom yang terjadi di sebuah rumah susun di kawasan Desa Wonocolo, Sidoarjo, yang kemudian terbukti merupakan rangkaian dari teror bom gereja dan kantor polisi di Surabaya, Mei silam.

Dikatakan, bom meledak saat sedang disiapkan untuk melakukan aksi teror di sejumlah tempat. Bahkan, dimungkinkan juga di lakukan di lokasi strategis, instansi pemerintahan di Jawa Timur. Tidak berlebihan jika peristiwa bom di Surabaya mencoreng jidat para petinggi di provinsi itu. Betapa tidak, saat ledakan terjadi para petinggi termasuk banyak ulama dan alim berada di Halaman Mapolda Jawa Timur, mengikuti gelaran doa untuk mewujudkan Jawa Timur aman. Bisa jadi, diluar dugaan siapa pun, ledakan yang tak berselang lama terjadi di tiga gereja. Tentu itu memunculkan pertanyaan, bagaimana hasil deteksi dini yang didapat oleh petugas keamanan di Jawa Timur? Fungsi Bhabinkamtibmas dan Babinsa, juga elemen keagamaan yang komit ikut menjaga keamanan utamanya di tempat ibadah?

Harus dipahami bahwa teror bom tidak akan berhenti dan mengancam sejumlah tempat, itu juga diingatkan pengamat teror. Ridwan yakin akan muncul kembali serangkaian peledakan lainnya yang tidak terduga dengan atau tanpa perencanaan. Lantaran kelompok teroris Jaringan Ansharud Daulah (JAD) tidak akan berhenti melakukan serangan. Meski, dalam penanganan teror bom gereja di Surabaya, pimpinan kepolisian menyebut sebagai keberhasilan penindakan, dengan menangkap renteran terduga jaringannya, namun pencegahan belum terwujud.

“Akan selalu muncul rasa tidak puas meskipun serangan teror dianggap berhasil,” ucap Ridwan Habib.

Akan ada serangan baru? Target baru dan wilayah baru yang tidak gampang diketahui bisa saja terjadi, kalau deteksi dan tindakan dini atau pencegahan tidak dilakukan. Perilaku sekelompok komunitas masyarakat yang bisa saja disebut lepas dari pengawasan, juga masuk kategori bahaya dan menguatkan kalau wilayah Provinsi Jawa Timur belum sepenuhnya aman.

Siskamling Harus Digiatkan

NU, para ulama, kiai kampung, RT, RW dan masyarakat di semua wilayah di Jawa Timur, juga di berbagai tempat lainnya di negeri ini harus kembali dibangkitkan kesadarannya. Karena masyarakat sekarang mulai egoistik, tidak banyak memiliki kepedulian dengan lingkungan juga model hidup bertetangga. Melalui Siskamling dan ronda keliling wilayah harus dijalankan, dengan koordinasi petugas di wilayah terendah, yakni Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Khairul Fahmi, Pengamat Terorisme dari Institute for Security and Strategic (ISESS) menyebut yang dilakukan oleh pelaku teror akan berhenti, namun tidak untuk waktu yang lama. Mereka akan kembali berulah dengan serangan atau tindakan radikal yang mengacak dan tidak terduga.

Selain kejelian aparat keamanan, Siskamling menjadi cara efektif menjaga dan mewujudkan ketertiban dan keamanan lingkungan. Banyak manfaat jika Siskamling dihidupkan kembali, selain akan terus terjaga silahturahmi atau komunikasi antar warga yang cenderung mulai meninggalkan kebersamaan. Manfaat lain juga mengiringi, misal saat petugas ronda berkeliling selain bisa melihat langsung kondisi rumah-rumah warga, dan pasti dengan mudah akan mengetahui siapa saja yang tinggal di kampungnya, pekerjaan dan kebiasaan yang dilakukan.

Pastinya, jika ada perilaku menyimpang di masyarakat di sebuah kampung/desa akan gampang diketahui atau terdeteksi. Apalagi jika dalam ronda di depan pagar disediakan kaleng berisi segenggam beras atau uang receh yang bisa diambil petugas ronda, itu bisa terkumpul untuk kas kampung, dan banyak kegunaannya.

“Siskamling cara efektif untuk cegah dini dan memproteksi hal-hal yang bisa saja timbul setiap saat,” ucap Fahmi.

Untuk mewujudkannya, bila perlu perangkat desa/kelurahan atau Kepolisian Sektor (Polsek), Koramil atau Kodim setempat ikut menyemangati digelorakannya kembali Siskamling, bila perlu dilombakan dengan dilakukan penilaian dengan imbalan hadiah. Tentu pemangku kepentingan tingkat desa/kelurahan juga ikut turun langsung melihat daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Pun elemen keagamaan seperti NU dan Banser, Muhammadiyah dan personil Kokam, serta lainnya juga dengan nyata ikut melibatkan diri di kegiatan kampung. Tidak hanya sekedar berkomitmen ‘Siap melawan teroris’ atau ‘Kami tidak takut dengan teroris’ dan ‘Mengutuk teror sebagai kebiadaban dan anti kemanusiaan. Serta seremonial ikrar lainnya, tetapi harus dengan perbuatan nyata, turun ke kampung/desa dan terlibat langsung fenomena di masyarakat.

Misalnya yang telah dilakukan Edi Priyanto, Ketua RT.23 RW.07 Desa Sekardangan, Kelurahan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo ini. Mewujudkan kampung aman dan nyaman di kampung yang berjuluk “Kampung Edukasi Sampah” predikat yang didapat dari Kabupaten Sidoarjo, Edi menerapkan Siskamling kepada semua penghuni tanpa ada perbedaan status sosialnya di masyarakat.

“Selain meningkatkan kepedulian dan sarana silaturahim, program Siskamling ini bisa sebagai sarana dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif,” kata Edi.

Terbukti, program itu bisa menjadi solusi menyelesaikan berbagai masalah sosial di lingkup terkecil, yakni tingkat RT. Karena kepedulian antar tetangga satu dengan yang lain terjalin dengan baik. Kegiatan Siskamling bisa dijadikan ajang untuk bersosialisasi dan berkomunikasi antar warga, sehingga hubungan semakin erat. Komunikasi yang baik juga bisa menjamin lahirnya kepedulian antar sesama dan juga terhadap lingkungan yang saat ini kekerabatan semakin pudar.

Siskamling dijalankan malam hari secara bergilir sambil berkeliling lingkungan melihat rumah-rumah warga. Tujuannya mengetahui fenomena dan situasi lingkungan, dengan cara mencermati setiap gejala awal. Kemudian bisa untuk menemukan penyebab yang potensial. Upaya tersebut juga sebagai salah satu cara preventif, mencegah timbulnya ancaman keamanan melalui kegiatan pengaturan, penjagaan, dan patroli atau ronda. Termasuk sangat efektif untuk mendeteksi gejala atau gerakan terorisme, dan mencegah peredaran narkoba serta kemungkinan lainnya yang timbul kemudian menjadi gangguan Kamtibnas.

“Kami juga menjalankan “Jimpitan Receh”, yakni uang receh yang disiapkan di sebuah kaleng di depan rumah dan diambil setiap Jum’at malam oleh warga yang melakukan tugas jaga Siskamling,” urai lelaki asal Klaten itu.

Hasilnya, sebulan yang bisa di dapat hingga 800 ribu rupiah itu, salah satunya bermanfaat untuk membeli kamera CCTV. CCTV itu telah terpasang fungsinya mengawasi seluruh sudut kampung, dan dapat diakses oleh seluruh warga melalui ponsel. Artinya, fasilitas publik itu memiliki akurasi pengawasan yang melekat, saling mengawasi satu dengan yang lainnya. Keberadaan kamera pantau CCTV, juga berguna memudahkan dan saling memberikan informasi yang sifatnya langsung.

Pendek kata Siskamling harus kembali dihidupkan, membaur dengan masyarakat, mengetahui siapa saja yang tinggal di daerah itu dan apa kegiatannya, dan semua elemen harus mendukung dan mengikuti. Itu semua untuk menjaga agar peristiwa radikal tidak terulang kembali, tidak hanya sekedar ucapan Jawa Timur aman.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here