Bom St Petersburg dan Dendam Panjang Ukraina Terhadap Rusia

0
285
Korban ledakan bom di Stasiun Kereta Api St Petersburg, Senin

Nusantara.news, Jakarta – Bom yang meledak di stasiun kereta bawah tanah St Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow, ketika  Presiden Rusia Vladimir Putin tengah berkunjung kota tersebut, memang belum jelas siapa pelakunya. Sampai berita ini diturunkan, pun belum ada yang mengaku bertanggungjawab atas aksi teror tersebut.

Media-media Barat, seperti sudah terpola, biasanya mengaitkan dengan ISIS atau kelompok teror yang dicap Islam lainnya. Dalam konteks Rusia, tuduhan kerap pula dilemparkan kepada pemberontak Chechnya yang memang telah sering mengancam melakukan serangan.

Namun jangan pula dilupakan, Rusia juga tengah menghadapi ancaman serius dari radikalisasi di Ukraina. Ukraina saat ini mendelegasikan sebagian haknya untuk melakukan tindak kekerasan kepada ‘tentara swasta’ dalam bentuk batalion sukarelawan. Selain itu, ada juga beberapa kelompok paramiliter, seperti Sektor Kanan, yang beroperasi di Ukraina. Semua struktur non-negara itu saat ini memandang Rusia sebagai musuh. (Lihat: https://nusantara.news/bom-di-st-petersburg-aksi-radikal-ukraina/)

Rusia dan Ukraina ini memang musuh bebuyutan. Mereka sama-sama bangsa Slavia, istilah yanga merujuk pada bangsa yang pada abad ke-6 terdapat di Eropa Timur dan kemudian menyebar ke Eropa Tengah, Semenanjung Balkan, Asia Tengah dan Siberia. Dalam bangsa Slavia, ini etnis Rusia memang mayoritas, sekitar 80 persen. Sisanya adalah etnis Ukraina, Belarusia, Armenia, Chenchen (di Chechnya) dan lain-lain. Tapi kendati sebangsa Rusia dan Ukraina tak pernah akur. Di Ukraina sendiri, bahasa sehari-hari adalah Ukrainian, dan hanya sekitar 20 persen yang berbahasa Rusia, itu pun yang bermukim di Ukraina timur dan selatan yang berbatasan dengan Rusia.

Puncak konflik sebetulnya berawal dari pembentukan Uni Soviet. Dalam catatan sejarah Rusia, Uni Soviet didirikan pada tanggal 30 Desember 1922 setelah kaum Bolshevik menang dalam Perang Sipil Rusia. Pendirinya adalah RSFS (Republik Sosialis Federasi Soviet) Rusia, RSFS Transkaukasia, RSS (Republik Sosialis Soviet) Ukraina, dan RSS Byelorusia. Negara-negara ini (minus  Transkaukasia) yang pada tanggal 8 Desember 1991 menyepakati Perjanjian Belavezha yang membentuk Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS), yang kemudian berujung pada putusan Majelis Agung Uni Soviet untuk membubarkan Uni Soviet  pada tanggal 26 Desember 1991.

Sejak itu hubungan Rusia dan Ukraina, kembali bagai macan dan kucing. Disebut macan, karena memang Rusialah sebagai negara anggota Uni Soviet terbesar, yang mewarisi hak dan kewajiban negara itu di pangggung internasional, termasuk hak veto di PBB. Ukraina disebut kucing, sebab memang mini secara ukuran. Hanya saja mereka mewarisi tradisi kebesaran lama, sehingga tidak merasa ciut berhadapan dengan bekas saudaranya serumah yang kini jadi tetangga itu.

Rusia dan Ukraina memang punya riwayat pertengkaran yang panjang. Dulu, negara ini bernama Republik Rakyat Ukraina (Ukrayins’ka Narodnia Respublika), yang diproklamasikan 25 Januari 1918. Tapi negara ini tak berumur panjang. Negara ini digulingkan oleh Pavlo Skoropadskyi, seorang pemimpin militer, atas bantuan pemberontak Polandia. Mereka membentuk negara baru, Republik Soviet Ukraina, dengan ibukota Kharkiv. Sementara Republik Rakyat Ukraina beribukota Kiev, yang  sampai detik ini menjadi ibukota resmi negara itu.

Republik Soviet Ukraina, bersama RSFS Rusia (yang juga mewakili RSS Belorusia) dan pemberontak Polanda yang membuat negara baru bernama Polanda Kedua (walaupun tidak pernah eksis sebagai negara) mengadakan pertemuan di Riga, Latvia, pada 18 Maret 1921. Mereka menghasilkan kesepakatan yang disebut Treaty of Riga, yang berisi pembubaran Republik Rakyat Ukraina, yang kemudian dinyatakan sebagai perjanjian berakhirnya perang sipil di negeri itu. Sejak itu, konflik antara Republik Rakyat Ukraina dan Republik Soviet Ukraina terus terjadi. Akhirnya memang kubu Kiev akhirnya bisa dikalahkan berkat bantuan Moskow.

Nah, Republik Soviet Ukraina inilah yang menandatangani kesepakatan pendirian Uni Soviet pada 30 Desember 1922 bersama Rusia, Transkaukasia dan Belorusia. Jadi bukan Republik Rakyat Ukraina.

Rakyat Ukraina sebetulnya tidak mendukung Republik Soviet Ukraina. Itu sebabnya, di masa awal pembentukannya, Republik Soviet Ukraina tidak berani memilih Kiev sebagai ibukota, dan memilih Kharkiv yang jaraknya 478 km dari Kiev. Sebab Kharkiv letaknya tak jauh dari perbatasan Rusia. Mereka baru masuk ke Kiev setelah Tentara Merah Rusia memastikan Republik Rakyat Ukraina benar-benar tamat.

Tetapi, benar-benar tamatkah Republik Rakyat Ukraina? Ternyata tidak. Sejak presiden pertamanya, Mykhailo Hrushevsky digulingkan, mereka tetap berusaha bertahan sebagai negara. Mereka melakukan perlawanan di pelarian. Bahkan usaha perlawanan di pelarian itu berbentuk pemerintahan yang dipimpin presiden. Tercatat ada empat presiden  Republik Rakyat Ukraina yang berstatus dalam pembuangan, yakni Andriy Livytskyi (1926–1954), Stepan Vytvytskyi (1954–1965), Mykola Livytskyi (1965–1989) dan Mykola Plaviuk (1989–1992). Setelah itu mereka tampaknya menyerah pada kenyataan. Apalagi wilayah yang dulu mereka klaim sebagai kekuasaannya, kini sudah berpindah tangan. Selain ke Ukraina sendiri, sebagian juga menjadi wilayah negara Belorusia, Polandia, Slovakia dan Moldova.

Kendati harus menerima kenyataan tidak bisa menjadi satu negara, sulit memastikan apakah bara dendam lama sudah benar-benar padam. Apalagi, selama bergabung dengan Uni Soviet sampai sekarang, Ukraina direkayasa untuk selalu bergantung kepada Moskow, terutama di bidang energi. Padahal, negara ini sejatinya kaya dengan sumber daya alam. Konon tanahnya salah satu yang tersubur di dunia.

Setelah dibuat memiliki ketergantungan, Rusia juga melemahkan posisi Ukraina dalam berbagai forum dunia. Negara itu dihalang-halangi untuk bergabung ke Uni Eropa dengan cara menekan Presiden (saat itu) Viktor Yanukovich. Rakyat Ukraina marah besar. Ketika Viktor Yanukovich memutuskan mendekat ke Rusia dan membatalkan rencana bergabung ke Uni Eropa, pecahlah demonstrasi berdarah di negeri itu pada Februari 2014.

Pada 23 Februari kemarin juga terjadi aksi unjukrasa besar-besaran yang dimotori partai-partai sayap kanan. Mereka mengecam pemerintah tidak berdaya menghadapi Rusia yang menduduki Crimea.  “Glory Ukraina!” teriak mereka. “Lawan Putin!” Pendudukan Rusia di Crimea memang membuat merada orang Ukraina. Konflik yang terjadi sejak Maret 2014 itu setidaknya sudah merenggut nyawa hampir 10.000 orang. Rusia sendiri menegaskan tak akan melepaskan Crimea.

Nah, kembali ke soal teror bom di stasiun kereta St Petersburg, tidakkah itu pesan yang jelas dari kebencian warga Ukraina terhadap Rusia dan Putin? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here