Bom Waktu di Laut Cina Selatan

0
106
Laut Cina Selatan

Nusantara.news – Kekhawatiran konflik Laut Cina Selatan berujung perang terbuka antar negara-negara berkepentingan bisa menjadi kenyataan, jika tidak ada titik temu dalam penyelesaian atau win-win solution antara pihak-pihak yang terlibat sengketa di wilayah itu.

Jika hal ini benar-benar terjadi, Indonesia sebagai negara yang memiliki kepentingan dengan perairan Laut Cina Selatan mau tidak mau bakal terlibat. Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu sudah menyatakan, Indonesia akan memperkuat penjagaan keamanan wilayahnya di kawasan Laut Cina Selatan meski menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin ada konflik bersenjata.

Tentu saja, bukan penyelesaian dengan cara perang yang diharapkan. Namun ketegangan demi ketegangan antar negara yang bersengketa tanpa penyelesaian berarti yang terjadi belakangan ini, semakin menegaskan bahwa perairan Laut Cina Selatan menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Perang bisa meletus setiap waktu.

Otoritas Cina pada pertengahan tahun ini telah dengan keras menyatakan siap menghadapi konfrontasi militer yang bakal terjadi di Laut Cina Selatan, bahkan jika harus berhadapan dengan militer Amerika sekalipun yang disinyalir oleh sejumlah media di Cina telah memperkeruh suasana.

Sikap keras Cina muncul jelang keputusan pengadilan Mahkamah Internasional di Den Haag yang memutus perkara gugatan Filipina atas Cina terkait sengketa Laut Cina Selatan pada Juli 2016 lalu. Sejak awal, Cina menyatakan tidak akan menerima putusan apapun, dan nyatanya hasil putusan yang memenangkan gugatan Filiphina itu ditolak mentah-mentah oleh Beijing.

Dengan begitu Cina bertekad mempercepat peningkatan kemampuan pencegahan militernya. Meski tidak menginginkan perseteruan secara militer dengan AS dalam waktu dekat, namun Cina tidak mau membiarkan begitu saja AS ikut campur tangan dalam sengketa Laut Cina Selatan. Sejauh ini negara yang digadang-gadang sebagai kekuatan kedua di dunia ini masih berharap sengketa dapat diselesaikan lewat jalur perundingan meski tidak menafikan kemungkinan penyelesaian dengan konfrontasi militer. Wajar jika latihan militer Cina di kawasan Laut Cina Selatan terus ditingkatkan.

Sejarah panjang sengketa Laut Cina Selatan

Sengketa kawasan perairan Laut Cina Selatan memiliki sejarah yang panjang, khususnya konflik atas kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel. Dulu, perebutan kedua kepulauan ini sudah melibatkan banyak negara antara lain Inggris, Perancis, Jepang, Vietnam dan Cina. Saat ini, banyak lagi negara yang melibatkan diri dalam lingkaran persengketaan tersebut, terutama sejak Komisi PBB tentang Batas Landas Kontinen pada Mei 2009 menetapkan pengajuan klaim untuk rak kontinental diperpanjang di luar 200 mil garis pantai. Akibatnya Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan lain-lain baik secara terpisah atau bersama-sama mengajukan perpanjangan, hal inilah yang memicu protes Cina.

Kepulauan Spratly dibatasi oleh perairan Philipina, Vietnam, Indonesia dan Malaysia, terletak sekitar 1.110 km dari pelabuhan Yu Lin, Pulau Hainan, Cina dan 500 km dari pantai Kalimantan bagian utara. Sedangkan Paracel berada di sebelah utara Spratly berjarak 300-an km sebelah tenggara Cina. Cina melalui berbagai forum meyakinkan dengan bukti-bukti sejarah dan arkeologis untuk mengklaim gugusan pulau-pulau tersebut.

Vietnam juga mengaku sudah menguasai kepulauan tersebut sejak abad ke-17. Selain merujuk Hukum Internasional juga menyertakan aspek historis. Menurut catatan sejarah Vietnam Kepulauan Paracel disebut Hoang Sa dalam bahasa Vietnam, dulunya masuk wilayah distrik Binh Son, Vietnam. Tak hanya Vietnam negara-negara lain juga punya klaim dan bukti masing-masing terhadap gugusan pulau-pulau ini. Kawasan yang diperebutkan ini berserak di antara 200-an pulau yang sebenarnya sebagian besar tak berpenghuni, hanya gundukan karang-karang dan minim sumber air tawar.

Secara garis besar konflik kepulauan di Laut Cina Selatan terbagi dua. Kepulauan Paracel antara Cina versus Taiwan, dan Kepulauan Spratly antara Cina versus beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, Taiwan, Vietnam dan Brunai Darussalam.

Kenapa dua gugusan kepulauan Spratly dan Paracel diperebutkan? Secara geografis memang sangat menguntungkan ketimbang kepulauan lain. Selain merupakan jalur perairan internasional jalur ini dianggap strategis  dari aspek pertahanan karena geo-possition artinya jika menguasai Spratly berarti akan mengontrol lintasan rute pelayaran antara Pasifik atau Asia Timur menuju Lautan Hindia.. Dan faktor lain, lebih-lebih kedua kepulauan ini memiliki kandungan sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas alam yang menggiurkan.

Bagaimana posisi Indonesia?

Indonesia memang tidak terlibat secara langsung dalam konflik Laut Cina Selatan, meski sebetulnya terdapat garis singgung perbatasan perairan yang juga ikut diklaim Cina sebagai wilayah perairan tradisionalnya yaitu di kawasan Kepulauan Natuna. Pemerintah Indonesia berkali-kali menyatakan masih berhubungan baik dengan Beijing terkait sengketa Laut Cina Selatan walaupun fakta di lapangan terjadi beberapa kali konflik dengan kapal nelayan Cina di kawasan perairan Natuna yang tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan konflik perbatasan di Laut Cina Selatan.

Sejauh ini pemerintah Indonesia masih belum terlihat sikapnya atau dalam kata formalnya non-blok dalam konteks sengketa ini. Sejumlah pengamat menyarankan agar Indonesia tidak lagi bersikap diam-diam, terutama setelah kejadian konflik dengan kapal nelayan Cina di Kepulauan Natuna, dalam kata lain Indonesia harus berani tegas terhadap pemerintah Cina. Namun apa mungkin? Apapun, yang terpenting pemerintah Indonesia harus memproteksi diri dengan berbagai cara untuk menyelamatkan batas wilayah negara dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dari jarahan pihak asing manapun.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here