Bongkar Pasang Staf, “Mode” Panik Donald Trump?

0
43
Donald Trump. Foto: ANTARAFOTO

Nusantara.news – Minggu-minggu ini barangkali adalah hari yang kurang cukup menyenangkan bagi Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Saat kekuasaan dalam genggaman, Trump justru menghadapi kenyataan bahwa dirinya tampak lemah.

Kegagalan legislatif yang telak, misalnya terkait penambahan sanksi baru terhadap Rusia, di saat Trump sedang mencoba meretas babak baru dengan Vladimir Putin. Kongres AS, yang mayoritas adalah kubu Republik, partai pendukung Trump sendiri, menyetujui sanksi atas Rusia terkait campur tangan negara itu dalam Pilpres AS 2016 lalu. Padahal Trump cukup berupaya keras mendorong agar isu Rusia dalam Pilpres tidak muncul ke permukaan, salah satunya dengan memecat Direktur FBI James Comey beberapa waktu lalu. Comey ngotot menyelidiki sejumlah orang di lingkaran dalam Trump yang diduga “bermain” dalam kasus Rusia.

Kegagalan legislatif lain, adalah menghapus sebagian besar Undang-Undang tentang Perawatan Terjangkau atau yang dikenal dengan Obamacare, dimana sejak kampanye telah digadang-gadang Trump. Trump sempat kecewa dengan Kongres terutama dari partainya sendiri. RUU pengganti Obamacare itu ditolak karena dinilai akan menyebabkan jutaan warga Amerika kehilangan asuransi kesehatan.

Sementara itu, pada minggu ini pula Trump terganggu dengan Korea Utara yang mengklaim berhasil mewujudkan impian mereka membuat senjata rudal yang bisa diluncurkan ke daratan Amerika. Di sisi lain, Rusia yang kecewa dengan keputusan Kongres AS menjatuhkan sanksi baru, telah meminta agar ratusan staf kedutaan AS di Moskow angkat kaki segera.

“Mode” kepanikan Trump, yang sedang mengalami kepercayaan rendah dari warganya, menurut sebuah jajak pendapat, ditunjukkan dalam sebuah drama bongkar pasang para pembantunya di Gedung Putih. Trump memecat Reince Priebus, kepala staf Gedung Putih yang telah bersamanya hampir 6 bulan terakhir, pada Jumat pekan lalu.

Trump menganggap Priebus kurang becus mengendalikan West Wing yang kerap kacau dalam bulan-bulan pemerintahannya. Sejumlah kegagalan legislasi salah satunya dianggap karena itu. Trump menginginkan sosok kepala staf yang lebih tegas dan disiplin serta mampu menjalankan agenda-agenda kampanye Trump, lalu dipilihlah mantan jenderal bintang empat marinir, John F. Kelly. Kelly sebelumnya menjabat Menteri Keamanan dalam negeri. Uniknya lagi, Trump mengumumkan pergantian tersebut melalui akun Twitter miliknya dari atas Air Force One saat kembali dari Long Island.

“John Kelly akan melakukan pekerjaan yang fantastis,” kata Trump setelah turun dari pesawat kepresidenannya. Trump juga memuji Kelly dengan sebutan “orang Amerika yang hebat”.

Sebagai mantan jenderal militer, Kelly diharapkan bisa menjadi “komandan” bagi para staf Trump di Gedung Putih, yang selama masa pemerintahan Trump dinilai sebagai paling kacau sepanjang sejarah Amerika. Pertengkaran dan intrik yang berujung pada bocornya informasi internal ke pihak wartawan Istana, hal yang kerap terjadi di Gedung Putih selama era Trump.

Setelah diangkat Kepala Staf, dan disumpah pada hari Senin (31/7) Jenderal Kelly langsung bergerak sesuai arahan bosnya: “menertibkan Gedung Putih”. Segera setelah itu, Kelly pun menetapkan agar semua staf senior, termasuk menantu Trum Jared Kushner dan putrinya Ivanka Trump memberi laporan pada Kelly.

Korban penertiban pertama Kelly adalah Direktur Komunikasi Gedung Putih, Anthony Scaramucci. Dia dipecat setelah menjabat posisi itu sepuluh hari saja. Padahal pengangkatan Scaramucci yang merupakan kolega Trump dalam dunia bisnis itu, telah memakan dua staf senior Trump lain, yaitu Reince Priebus, kepala staf yang lama, dan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer. Mereka tergusur setelah Scaramucci dilantik.

Kelly terpaksa memecat Scaramucci karena mantan pebisnis Wall Street itu dihujani kritik publik setelah menelpon seorang wartawan untuk menyampaikan makian kasar tentang para koleganya sendiri, salah satunya tentang Reince Preibus dan penasihat senior Trump, Steve Bannon.

Dalam percakapan telepon itu, dia melontarkan pernyataan vulgar tentang Bannon, kepala strategi Presiden. Dia juga mengumpat Priebus sebagai seorang penderita skizofrenia yang paranoid dan menuduh mantan kepala staf itu membocorkan informasi ke media.

Scaramucci juga sesumbar akan memecat setiap anggota tim komunikasi Gedung Putih sebagai bagian dari “perang suci” terhadap “para pembocor”.

Kelly menilai tindakan Scaramucci adalah bentuk ketidak-disiplinan dalam posisinya sebagai direktur komunikasi, dan inilah yang tengah ditegakkan Kelly: kedisiplinan.

Juru bicara Trump, Sarah Sanders, mengatakan bahwa Presiden juga menganggap pernyataan Scaramucci kepada wartawan tentang sejawatnya di Gedung Putih tidak pantas untuk seseorang dalam posisi itu.

Dalam masa jabatannya yang pendek itu, Scaramucci sempat sesumbar bahwa atasannya adalah presiden langsung, bukan kepala staf.

Dalam setengah tahun pertama di masa jabatannya sebagai presiden AS Donald Trump sudah didera berbagai pengunduran diri serta pemecatan para pejabat elite, terutama yang terkait dengan masalah sensitif, misal penyelidikan keterlibatan Rusia dalam Pilppres 2016 lalu, yang jika terbukti, jelas akan sangat tidak menguntungkan bagi Trump.

Sebelum pemecatan Scaramucci dan penggantian Reince Preibus, penasihat keamanan nasional Michael Flynn juga dipaksa mundur hanya 23 hari setelah dia menjabat. Flynn terseret pusaran masalah keterlibatan Rusia yang tengah diselidiki FBI.

Presiden Trump juga akhirnya memecat Direktur FBI James Comey terkait penyelidikan perkara Rusia, Jaksa Agung Sally Yates juga dipecat terkait kebjakannya tentang imigrasi, dan jaksa federal Preet Bharara yang tak mau mengangkat telepon dari Trump juga dipecat. Jaksa Agung sekarang, Jeff Sessions yang jabatannya belum berjalan enam bulan, juga terancam dipecat setelah Trump mengecamnya.

Trump mungkin panik karena banyak kebijakannya yang mentok, baik disebabkan tidak adanya restu Kongres, meski sebagian besar Republik, maupun disebabkan perangkat pemerintahannya yang tidak mau menjalankan dengan berbagai alasan. Kepanikan Trump diwujudkan dengan terus membongkar pasang para pembantunya, stafnya di Gedung Putih yang sejak awal sudah berkubu-kubu-an.

Dengan dipasangnya sang jenderal marinir sebagai kepala staf, mungkin Trump berpikir dia akan bisa mengelola Gedung Putih dengan lebih terkomando. Namun Trump lupa, meski Kelly mungkin bisa mengatur semua staf di Gedung Putih agar tertib dan disiplin, tapi bukankah belum tentu dia mampu “menertibkan” sang presiden, yang justru kerap menjadi sumber kekacauan yang sesungguhnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here