Bongkar Patung Cina di Tuban yang Diresmikan Ketua MPR!

0
553
Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen

Nusantara.news, Surabaya – Banyak alasan mengapa Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur mendapat protes keras dari warga untuk segera dirobohkan.

Tak hanya warga Tuban saja yang menyoal, berbagai ormas dan lembaga sedikitnya 50 lembaga organisasi pemuda dan masyarakat siap untuk menggelar aksi menolak keberadaan bangunan atau situs yang bukan bagian dari sejarah Indonesia tersebut. Apa alasan utamanya sehingga Patung Dewa Cina itu harus dibongkar?

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh redaksi Nusantara.news Jawa Timur bahwa permohonan ijin pembangunan patung tersebut di awal sejak 15 Maret 2016, secara administrasi masih belum memenuhi persyaratan sesuai dengan Perda Kabupaten Tuban nomor 6 tahun 2011 tentang retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

Adapun administrasi persayaran yang belum terpenuhi adalah belum melampirkan akte pendirian Yayasan TTID Kwan Sing Bio. Bahkan rencana pembangunannya sudah pernah diadakan rapat kerja dan peninjauan oleh Komisi A DPRD Kabupaten Tuban bersama SKPD yang membidangi soal Klenteng. Hasilnya ada sebagian warga sekitar merasa tidak pernah diajak sosialisasi mengenai pendirian patung.

Nah, pada saat kunjungan dengan Komisi A dan Eksekutif disepakati bahwa pembangunan patung dan gedung di lokasi klenteng harus dihentikan sampai ada ijin dari Pemkab Tuban. Namun pada kenyataannya pihak Pengurus Yayasan TITD tetap meneruskan pembangunan sehingga Satpol PP memberikan surat peringatan secara berturut-turut:

Pertama, melalui surat Bupati Tuban tanggal 15 Maret 2016 nomor 300/1249/414.110/2016 perihal peringatan perizinan yang ditujukan kepada Ketua yayasan TITD Kwan Sing Bio Tuban. Kedua, melalui surat Bupati Tuban tanggal 28 Maret 2016 nomor 300/1422/414.110/2016 perihal peringatan kedua soal perijinan. Dan yang terakhir pada tanggal 7 April 2016 nomor 300/1610/414.110/2016.

Wakil Ketua komisi A DPRD Tuban, Fahmi Fikroni, SH saat dikonfirmasi oleh Nusantara.news menyatakan, sejatinya sampai saat ini izin pembangunan dari bangunan dari patung tersebut masih menyisakan masalah. Dan, jika hal tersebut dilanggar maka ancamannya adalah pidana.

“Sehingga jelas pendirian patung dewa perang Cina terbesar se-Asia Tenggara ini tidak berijin. Belum termasuk protes dari warga sekitar yang tidak pernah diajak berdiskusi terkait dengan akan dibangunnya Patung Dewa tersebut. Saya, kebetulan bertempat tinggal berhadapan dengan patung tersebut, sampai detik ini saya tidak pernah diajak diskusi, toh jika soal ijin HO mestinya saya ikut tanda tangan, dong,” jelas Roni yang kini memposisikan diri sebagai warga bukan anggota dewan Tuban.

Senada, pemerhati budaya yang selama ini peduli kepada nilai-nilai kebangsaan Prihandoyo pendiri Rumah Pancasila yang ikut mengawal demo untuk segera bongkar patung dewa perang Cina, mengungkapkan banyak alasan yang melatarbelakangi mengapa patung tersebut harus dibongkar. Menurutnya, patung tersebut bukan bagian dari ritual pemujaan suatu agama yang diakui di Indonesia, dan bukan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia pula.

“Patung tersebut tidak mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia yang sesuai dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, tidak nasionalisme, serta tidak mengindahkan rasa kearifan terhadap budaya lokal dan Boemiputera Nusantara. Tidak mengandung nilai pendidikan sejarah bagi putra dan putri generasi penerus bangsa, serta karakter dan ukuran patung mengindikasikan sebagai simbol kekuasaan, penindasan dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Selain itu, patung tersebut melambangkan keangkuhan Cina dengan ukurannya sekaligus dianggap sebagai simbol penghinaan terhadap perjuangan pendiri bangsa Indonesia,” jelasnya.

Prihandoyo juga menambahkan, di negara manapun didunia ini, tidak ada orang mendirikan patung pahlawan bangsanya di negara orang lain, bahkan Amerika yang paling liberal pun apa tidak akan mengijinkan patung pahlawan bangsa lain berdiri di Amerika. Anehnya lagi, pemerintah kecolongan, patung tersebut diresmikan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Patung Kwan Sing Tee Koen yang di bangun di Tuban itu, bahkan jauh lebih besar dan lebih tinggi dari patung Pahlawan di negeri ini, termasuk monumen Proklamator pendiri NKRI, celaka nya, patung itu diresmikan ketua MPR RI, Zukifli Hasan.

“Ternyata, patung Cina ini bukan yang pertama, sebelumnya telah dibangun lebih dulu di Taman Ismail Marzuki (TMII), patung Po An Tui dan di Kenjeran Surabaya, patung Dewi Kwan Im. Fenomena apa yang terjadi dengan bangsa ini, mana para Ulama di kota Wali Tuban ? Mana TNI, mana Polri, mana penjaga persada negeri ini, mana yang biasa teriak NKRI harga mati, ternyata kita semua telah mati rasa,” tanya Prihandoyo.[].

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here