Bongkarlah Aib Capres

0
78

TATKALA Capres Jokowi membongkar fakta bahwa Capres Prabowo Subianto mempunyai lahan ratusan ribu hektar di Kalimantan Timur dan Aceh, pastilah itu dimaksudkan mengungkap aib lawannya. Sebab, kalau fakta tersebut dinilai Jokowi sesuatu yang wajar dan sah, ya, tak mungkinlah diumbarnya dalam debat capres yang ditonton orang se Indonesia itu? Justru karena Jokowi menganggap kepemilikan lahan seluas itu sebagai aib, maka dia membongkarnya di depan umum. Targetnya, tentu saja, Prabowo mendapat nilai minus.

Bahwa kemudian kepemilikan lahan tersebut terbukti diperoleh Prabowo secara sah –dan dinyatakan sendiri oleh Wapres Jusuf Kalla—itu soal lain. Poinnya adalah Jokowi sudah membongkar hal yang dinilainya sebagai cacat sang penantang.

Dalam debat pertama antara pasangan capres-cawapres, Jokowi juga sudah menyerang mengenai banyaknya mantan napi korupsi yang menjadi calon anggota legislatif Partai Gerindra.

Jadi, sudah dua kali Jokowi menyerang langsung lawannya. Ketika membongkar soal lahan Prabowo kemarin, para pendukung capres nomor urut 02 itu naik pitam. Mereka memprotes KPU, dan mengadu ke sana ke mari.

Mari kita dudukkan masalahnya. Debat itu adalah bagian dari kampanye pemilu. Dalam setiap kampanye, bongkar-membongkar cela itu galib adanya. Tapi, masalahnya, adalah apakah kampanye seperti ini adalah perbuatan politik yang tercela, atau malah terpuji. Sebagian orang mengatakan  ini adalah kampanye jahat karena menjurus pembunuhan karakter. Tetapi sebagian lagi berpendapat sebaliknya.

Kita berpandangan, sejauh kampanye itu tidak mengungkap hal-hal yang berbau fitnah, ya, apa salahnya. Jika yang dibongkar adalah hal-hal yang sepenuhnya faktual tentang diri sang calon pemimpin, itu justru penting.

Oleh karena itu, dalam debat berikutnya, wajib hukumnya bagi Prabowo menyerang Jokowi. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk membuka fakta sesungguhnya tentang pemimpin.

Tentu saja itu tidak bisa disebut kampanye hitam –jika istilah itu dianggap berkonotasi negatif.  Kalau memang bukan fitnah tanpa dasar, tak ada salahnya. Publik perlu tahu semua sisi, terutama sisi buruk, dari seorang calon pemimpin sebelum publik memutuskan memilih mereka.

Sebab, sisi baik setiap calon, semua orang sudah tahu. Toh itu yang mereka kampanyekan sepanjang waktu. Tapi, sisi buruknya, manalah mungkin mereka akan memaparkan aib dirinya sendiri. Oleh karena itu, diharapkan pihak lawanlah yang membongkar cacat tersebut.

Kampanye seperti ini justru memberi informasi pembanding kepada rakyat untuk menilai calon pemimpinnya. Tidak fair, jika rakyat mendengar informasi yang bagus-bagus saja dari sang calon pemimpin, tanpa satu titik noda pun sepanjang hidupnya.

Jadi, kampanye begini justru diperlukan, agar publik bisa melihat seorang calon pemimpin dari berbagai sisi. Dengan mengetahui sisi baik dan sisi buruk itu, rakyat Indonesia tidak seperti membeli kucing dalam karung dalam pemilihan presiden.

Sejauh serangan itu faktual, punya bukti yang kuat, harus dipandang sebagai bagian dari demokrasi. Tapi, kalau tuduhan hanya bersandar di alam khayal, bersumber dari pengetahuan yang terbatas atau pemahaman yang tak sempurna, si penyerang pun harus bersikap jantan. Jika memang menganggap dirinya layak menjadi pemimpin, dalam kondisi seperti itu pilihannya hanya satu: Mengaku salah, dan meminta maaf.

Pihak yang diserang harus menanggapinya dengan dewasa. Bantahlah kalau memang salah, tapi jangan mengelak seandainya benar. Lakukan klarifikasi secara hukum. Ya, secara hukum. Kalau tidak, tuduhan itu akan menjadi pengganjal selamanya, karena publik tak  tahu apa cerita sesungguhnya.

Bahwa kampanye seperti yang dilakukan Jokowi kemarin ditanggapi pendukung Prabowo sebagai serangan personal, tidak ada yang perlu dipersoalkan tentang itu. Bagi kita sebagai pemilih justru memerlukan serangan seperti itu dilakukan sesering mungkin, bahkan di luar panggung debat.

Jika kedua sama-sama memiliki cacat, ya, tak perlu dirisaukan juga. Toh manusia tak ada yang sempurna. Biarlah rakyat yang menentukan, untuk memilih mana yang derajat keburukannya paling rendah.

Jadi, kedua pasangan capres-cawapres dan semua pendukung mereka harus menggali semua keburukan lawannya. Siarkan kepada khalayak tanpa ada yang tersisa. Agar kita bisa menilai siapa Jokowi dan Prabowo sebenarnya. Serahkan kepada rakyat untuk menilai, apakah serangan itu hanya bermodalkan mulut berbisa, atau berbicara dengan data dan logika.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here