KTT BRICS 2017

BRICS, antara Harapan dan Dilema

0
103
FOTO: ZUMAPRESS

Nusantara.news – Kelompok 5 negara berkembang utama BRICS yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahunan di kota Xiamen, Provinsi Fujian Cina, 3-4 September 2017, dalam deklarasinya mendesak agar dilakukan reformasi menyeluruh terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB. Hal ini agar PBB lebih representatif, efektif dan efisien.

Tidak ada proposal spesifik yang ditawarkan terkait reformasi PBB, namun tampaknya ini menjadi semacam harapan agar negara-negara BRICS, yang mewakili negara-negara berkembang, bisa lebih “berbicara” di PBB. Pada akhirnya  dengan motor Cina, BRICS diharapkan bisa lebih berperan dan mendominasi di panggung PBB, menggantikan dominasi Amerika Serikat selama ini.

Kelompok negara-negara BRICS yang tampaknya kali ini lebih didominasi Cina—karena Cina ingin menggunakannya sebagai “kendaraan” menguasai panggung global—juga mendorong agar PBB meningkatkan keterwakilan negara-negara berkembang.

Sejumlah isu mengemuka dalam deklarasi pertemuan puncak kelompok BRICS tersebut, di antaranya soal perlawanan terhadap proteksionisme perdagangan Amerika Serikat era Presiden Donald Trump. Sebuah kebijakan yang berpijak pada jargon “America First” namun dirasakan merugikan negara-negara mitra perdagangan terutama Cina, dimana ekspor terbesarnya mengalir ke Amerika.

Isu lain, tentang terorisme, untuk mengakomodasi India, negara yang bertetangga dengan Pakistan dan Afghanistan, dua negara yang akrab dengan gerakan terorisme. Sebab Cina, relatif jarang terimbas masalah terorisme. Negara-negara BRICS sepakat untuk mendesak dunia internasional bekerja sama memerangi kelompok-kelompok terorisme. Diangkatnya isu terorisme ini juga sekaligus menandai kemenangan diplomatik India, karena teroris dimaksud mencakup kelompok-kelompok yang ada di Pakistan.

Dalam deklarasi setebal 43 halaman, Presiden Cina Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brazil Michel Temer dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengatakan, mereka akan bekerja sama untuk “memperbaiki tata kelola ekonomi global guna mendorong tatanan internasional yang lebih adil”.

Tidak hanya itu, BRICS, sebagaimana negara-negara lain juga mengecam keras uji coba nuklir keenam dan paling besar oleh Korea Utara yang dilakuan beberapa hari sebelum puncak pertemuan tersebut. Kelompok ini mendorong agar isu nuklir Korea Utara seharusnya diselesaikan melalui cara damai dan dialog langsung dari semua pihak yang terkait.

Antara Harapan dan dilema

Cina, sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia, menginginkan BRICS memainkan peran yang lebih dalam urusan internasional. Kelompok ini juga mendapat harapan dan peluang ketika Amerika Serikat yang selama ini memimpin internasional tiba-tiba “turun panggung” di era Donald Trump, dengan dalih “America First”. Di sisi lain, Eropa juga sedang mengalami ketidakstabilan politik dan ekonomi dengan keluarnya negara ekonomi utama Eropa, Inggris, dari Uni Eropa (Brexit).

Namun BRICS bukan tanpa dilema. Di tengah peluang dan harapan di depan mata, sejumlah pengamat menunjukkan fakta bahwa pengaruh BRICS di dunia global telah semakin berkurang seiring dengan persaingan politik dan ekonomi yang sedang berlangsung di internal BRICS sendiri, antara Cina dan India, serta keterpurukan ekonomi yang dihadapi Brazil, Rusia dan Afrika Selatan.

Satu contoh, dalam menangani terorisme, deklarasi kali ini menyebutkan sejumlah organisasi termasuk kelompok militan berbasis di Pakistan, Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Mohammad, kelompok Negara Islam (IS) dan al-Qaeda. Ini adalah pertama kalinya ada daftar spesifik dugaan kelompok teroris dalam dokumen BRICS.

Sebelumnya, Cina sebagai sekutu kunci Pakistan telah berulang kali menghalangi upaya India untuk memasukkan pemimpin Jaish-e-Mohammad, Masood Azhar, ke dalam daftar hitam teror di Dewan Keamanan PBB. India juga telah menuduh Pakistan menguasai dan melatih militan untuk melancarkan serangan terhadap wilayahnya.

Sementara itu, Cina merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memegang hak veto dan ditengarai telah menggunakan pengaruhnya tersebut untuk mendapat keuntungan dalam persaingan politik dan ekonomi dengan India. Cina baru-baru ini mengalah atas India dalam konflik perbatasan di dataran tinggi Himalaya, satu hal yang tak pernah dilakukan Cina dalam konflik-konflik geopolitik.

BRICS sejak terbentuknya pada tahun 1999 telah mengalami penurunan. Lonjakan ekonomi Cina, yang pernah menyumbang dua pertiga dari keseluruhan PDB, telah kehabisan tenaga, dimana tingkat pertumbuhan dua digit tinggal masa lalu. Pada 2016, tingkat pertumbuhan PDB Cina jauh lebih rendah, yaitu 6,7 persen. Untuk tahun 2018, ekonomi Cina diperkirakan akan berkembang hanya 6 persen.

Saat ini Cina mengalami sejumlah masalah dalam negerinya, di antaranya kelebihan kapasitas Cina di bidang industri berat, booming real estate yang sangat spekulatif dan meluasnya utang perusahaan yang tinggi, cadangan devisa negara akhirnya menyusut dengan cepat.

Rusia tampaknya juga tengah berada dalam keadaan yang lebih suram. Penurunan harga minyak dan sanksi yang diberlakukan oleh Barat atas aneksasi Moskow di Krimea, dan terakhir sanksi baru Amerika telah merugikan ekonomi, menurunkan nilai rubel dan mendorong terjadinya inflasi. Situasi tersebut   mendorong Presiden Vladimir Putin untuk mulai menjual dan memprivatisasi kekayaan negara dalam upaya menyalurkan uang ke dalam pundi-pundi kosong pemerintah.

Situasi di Brasil bahkan lebih dramatis lagi. Secara politik dan ekonomi, salah satu negara harapan Amerika Latin itu sedang dalam keadaan krisis. Anjloknya harga minyak menyebabkan kemerosotan ekonomi dan menyebabkan angka pengangguran meningkat. Terlepas dari kekacauan politiknya yang dihadapi Brazil saat ini, pemerintah negara itu juga menghadapi kesulitan keuangan seperti yang disaksikan seluruh dunia selama turnamen sepak bola Piala Dunia tahun 2014.

Anggota lain, Afrika Selatan juga tengah berjuang secara ekonomi. Pertumbuhan ekonominya melambat selama lima tahun terakhir, ketidakseimbangan perdagangan sangat tinggi dan utang pemerintah telah mencapai tingkat kritis, ditambah ketidakpastian politik dan pemerintahan yang buruk serta menakutkan investor asing.

India sebetulnya sumber harapan di BRICS, sebab itu dalam perselisihan perbatasan Cina yang punya “hajat” rela mengalah. Perekonomian India terus meningkat, menurut  IMF meningkat 7,6 persen di tahun ini dan tahun depan.

Bahkan tingkat inflasi rata-rata dua digit sekarang terkendali. India juga menjadi semakin menarik bagi investor asing, terutama karena sektor yang sebelumnya tertutup semakin terbuka untuk investasi langsung dari asing.

Tapi India masih menghadapi tantangan besar, setidaknya dua pertiga penduduknya masih belum menikmati kue kemakmuran yang diraih. Jika dibandingkan dengan tahun 1970-an misalnya, sekitar 800 juta orang India yang tinggal di daerah pedesaan sekarang justru memiliki lebih sedikit akses terhadap makanan. Tak bisa dimungkiri, ini adalah situasi yang tidak bisa dipertahankan, terutama bagi anggota kelompok BRICS.

BRICS jika ingin berperan penting di panggung global, tentu harus mengatasi dilema-dilema tersebut. Tentu juga diperlukan visi dan tujuan bersama yang kuat di antara kelima negara tersebut. Bukan sekadar untuk menjadi “kendaraan” bagi salah satu negara anggotanya. Misalnya, untuk memuluskan ambisi Belt and Road Initiative-nya Cina semata. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here