BRICS dan Cina – Tatanan Baru Dunia yang Adil (4)

0
359

Nusantara.news – Hegemoni kapitalisme global yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dengan motor multi-national corporation (MNC) telah menimbulkan kesenjangan sosial dan rasa ketidakadilan pada masyarakat dunia. Negara-negara BRICS akan menjadi entitas perdagangan dunia dengan gabungan GDP (Gross Domestic Product) mencapai 20 triliunan USD.

Namun pada tahun 2012 (3 tahun setelah pendirian BRICS) muncul buku berjudul “Breakout Nations”, menyebutkan bahwa sulit suatu negara akan tumbuh selama satu dekade. Terbukti sampai dengan tahun 2015 hanya India yang masih bisa tumbuh dan memikat investor global. Sedangkan ekonomi Cina, Brazil, dan Rusia mengalami perlambatan ekonomi. Pertumbuhan kelas menengah dan pertumbuhan cepat menjadi sorotan utama negara Barat terhadap negara-negara BRICS.

Pada tahun 2010 PDB Cina mengungguli Jepang, dan tahun 2015 mengungguli AS menjadi terbesar di dunia, walau secara ekonomi AS masih No.1 di dunia. Pada tahun 2011 majalah Forbes merilis bahwa milyarder negara-negara BRICS mengungguli jumlah milyader negara-negara Eropa (300), bahkan 2 orang India (301) menjadi 10 orang terkaya di dunia. Brazil melonjak karena harga pangan dan minyak, pada tahun 2012 menjadi No.6 dalam ekonomi dunia (2,5 Triliun USD), di atas Inggris (2,4 Triliun USD). Namun pada tahun 2014 Brazil kembali melambat.

Lebih buruk, Standard & Poor (S&P) memprediksi prospek pertumbuhan India bisa lebih buruk, apalagi tren Nasionalis Populisme dimana investasi pulang kandang. Pada tahun 2012, ternyata India merupakan negara pertama yang kehilangan status Investment Grade. Cina menjadi negara terbesar di WTO, mengungguli AS pada tahun 2013 dengan nilai pertumbuhan 4 Triliun USD. Sementara AS hanya 3,5 Triliun USD, dan selalu meningkat pertumbuhannya setiap tahun.

Pada KTT BRICS tahun 2016, Xi Jinping menekankan bahwa Cina akan bergandengan tangan dengan negara-negara BRICS untuk merumuskan cetak biru yang baru, karena corporate capitalism dianggap gagal, hanya menimbulkan kesenjangan sosial, dan ketidakadilan politik dan ekonomi.

Di saat yang sama, hadir tren Nasionalis Populisme, dan juga protes terhadap kapitalisme global, serta sistem demokrasi Liberal.

Xi Jinping menegaskan bahwa pemulihan pertumbuhan ekonomi dunia masih rapuh. Perdagangan dan investasi global tetap lesu, kontradiksi yang mengakibatkan krisis moneter global, dan masih jauh dari penyelesaian. Cina menjadi Ketua BRICS di tahun 2017.

Xi Jinping menekankan, Cina menantikan upaya bersama semua pihak untuk melaksanakan kesepahaman yang tercapai dan meningkatkan hubungan kemitraan guna membuka lembaran baru kerjasama BRICS.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan pemulihan pertumbuhan ekonomi dunia yang masih rapuh, perdagangan dan investasi global masih tetap lesu, kontradiksi yang mengakibatkan krisis moneter internasional masih jauh dari penyelesaian, Xi Jinping mengajukan lima butir usulan:

  1. Terus mendorong reformasi struktural, memperbarui pola pertumbuhan, dan membina ekonomi jenis terbuka.
  2. Terus meningkatkan dialog Selatan–Utara, dan kerjasama Selatan–Selatan guna mendorong ekonomi global, mewujudkan pertumbuhan yang kuat, seimbang, dan inklusif.
  3. Negara-negara BRICS hendaknya bergandengan tangan dalam menghadapi masalah-masalah global, termasuk bencana alam, perubahan iklim, epidemi menular, dan terorisme dengan harapan dapat memberikan sumbangan bagi ketenteraman masyarakat internasional dalam jangka panjang.
  4. Terus meningkatkan representasi dan hak suara negara-negara New Emerging Market dan negara-negara berkembangan guna mendorong pembinaan hubungan antar negara tipe baru yang kooperatif dan menang bersama.
  5. Berupaya mengembangkan dan memelihara dua mekanisme, yaitu Bank Pembangunan BRICS, dan Traktat tentang Pembentukan Reserve Darurat atau Treaty for the Establishment of a BRICS Contingent Reserve Arrangement dalam rangka memberikan jaminan kuat bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang.

Pertanyaan besarnya, apakah negara-negara BRICS bisa mempertahankan persatuan persekutuan yang solid? Karena di saat bersama negara-negara Eropa dimotori Inggris akan keluar dari Uni Eropa. Sementara Trump bertekad akan memenangkan perang dingin dengan Cina. Rusia terjebak ISIS di Suriah. India dan Brazil sibuk dengan persoalan ekonomi dalam negerinya.

Keperkasaan Dollar Amerika Serikat pasca kemenangan Trump telah menyedot devisa Cina, karena harus melepas persediaan USD yang dimilikinya, agar Yuan/RMB tidak terjebak pada lobang yang lebih dalam. Dollar Amerika Serikat saat ini sudah melebihi nilai fundamentalnya.

Trump akan dilantik pada tanggal 20 Januari 2017, dan akan segera mengundang kembali investor AS di luar negeri, serta insentif pajak dan Deregulasi Perbankan agar iklim investasi semakin sehat, sehingga AS kembali menjadi besar, mengungguli Cina, seperti tekad Trump?

Seharusnya Presiden Joko Widodo jangan terburu-buru memilih Cina, dan meninggalkan AS sebagai partner strategis, karena jika AS bangkit akan timbul masalah pada pemerintahan Joko Widodo yang salah menyikapi perang dingin Cina vs AS.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here