Broken Windows Bendera

0
88

KASUS bendera Merah Putih yang dicetak terbalik di buku panduan SEA Games Kuala Lumpur membuat Indonesia marah. Mulai dari Menpora Imam Nahrawi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko PMK Puan Maharani sampai Presiden Joko Widodo menyatakan kegeramannya terhadap kasus tersebut.

Pihak Malaysia, sampai tingkat menteri mereka, sudah minta maaf. Terakhir permintaan maaf disampaikan Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi. Tidak diketahui mengapa bukan Perdana Menteri Najib Tun Razak yang meminta maaf. Padahal, dalam etika diplomatik, kalau presiden suatu negara menyatakan keberatan terhadap suatu insiden dari negara lain, maka jawaban yang setimpal juga harus diberikan kepala negara atau kepala pemerintahan dari negara yang memulai insiden tersebut.

Apalagi ini soal bendera, simbol kehormatan sebuah negara. Padahal, insiden yang dilakukan Malaysia ini, menurut pepatah Melayu yang pasti sangat dipahami artinya oleh orang Malaysia, bagaikan menggetil puncak kedal orang. 

Kalau kita berbaik sangka, mungkin itu bukan kesengajaan. Namun, apakah ini kesalahan manusiawi atau bukan, tetap tak boleh dianggap angin lalu. Sebab, dalam acara sebesar SEA Games, sebetulnya mustahil ada kesalahan, karena setiap produk kepanitiaan di acara setingkat itu pasti melalui pemeriksaan yang ekstrateliti. Apalagi, menyangkut soal bendera, yang sekali lagi, pasti sangat sakral bagi negara pemiliknya.

Terus terang, sebaik-baiknya sangka kita terhadap Malaysia, tidak dapat kita menemukan celah untuk memahami kesalahan yang amat bodoh itu sebagai ketidaksengajaan. Maka kita menyatakan dukungan terhadap sikap tegas pemerintah Indonesia yang menyampaikan protes kepada Malaysia.

Bahwa Presiden Joko Widodo meminta soal ini tak perlu dibesar-besarkan, itu satu hal. Tetapi, tidak membesar-besarkan masalah bukan berarti tidak meminta pertanggungjawaban dan permohonan maaf Malaysia. Jangan memandang kecil persoalan ini, sebab orang tak pernah tertarung pada batu besar. Batu penarung itu biasanya kerikil kecil.

Tidak mentoleransi pelanggaran kecil, akan mencegah pelanggaran besar. Itu pesan utama teori Broken Windows.

Broken Windows sebetulnya teori dalam kriminologi hasil uji coba Philip Zimbardo di akhir dasawarsa 1960-an di California dan New York. Zimbardo memecahkan kaca jendela mobil yang diparkir, dan karena polisi tidak mengambil tindakan apa pun, orang-orang di sekitar pun ikut-ikutan memecahkan kaca-kaca mobil. Itu sebabnya disebut Broken Windows. Uji coba ini dirumuskan secara teoritis oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling di tahun 1982 yang menyimpulkan, kalau kejahatan kecil tidak ditindak maka kejahatan besar akan mengikutinya dengan mudah.

Ketika William Bratton diangkat menjadi kepala New York Police Departement dia menerapkan teori Broken Windows ini, dan hasilnya angka kriminalitas di kota itu turun dengan drastis.

Logika teori Broken Windows ini harus dipakai dalam menanggapi  kasus dibaliknya bendera Indonesia oleh panitia SEA Games Malaysia. Kalau negara tidak bersikap keras terhadap pelanggaran kecil, dia akan dimakan oleh pelanggaran besar. Harus ada pesan yang tersampaikan ke forum pergaulan dunia, bahwa Indonesia –walaupun tidak pernah membesar-besarkan masalah—keras menjaga kehormatannya.

Untuk itu, tentu saja pemerintah harus konsisten. Jika pemerintah bersikap tegas dalam menghadapi kasus kecil, tentu harus ada tindakan yang seimbang dalam menyikapi kasus besar. Dimana kayu bengkok, di sanalah musang meniti, kata peribahasa Melayu.

Hal ini tentu tidak berlaku pada kasus bendera dibalik saja, tapi juga dalam hal-hal lain, terutama dalam pengelolaan masalah di dalam negeri. Sekali pemerintah membiarkan pelanggaran kecil terjadi, akan sulit mencegah yang besar.

Konsistensi pemerintah penting. Kalau pemerintah bak layang-layang putus, terbang mengikuti arah angin belaka, orang lain akan merasa jika bangsa ini tak berpenjaga.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here