Debat Infrastruktur Makin Panas (1)

Buat Apa Punya Jalan Tol Kalau Tarifnya Mahal?

0
389
Penetapan tarif tol Trans Jawa yang terlalu mahal dikhawatirkan akan menyulitkan penyelenggara tol untuk balik modal.

Nusantara.news, Jakarta – Tema infrastruktur diperkirakan akan menjadi topik paling hanya menjelang dan setelah debat kedua pada 17 Februari 2019 mendatang. Sebab pada tema ini banyak sekali klaim keberhasilan, sebanyak kritik pedas yang menyertainya. Akankah infrastruktur menjadi pintu tol Jokowi menuju Presiden 2019-2024? Atau justru menjerumuskannya menjadi mantan presiden?

Seperti diketahui, pada debat kedua pada 17 Februari yang akan digelar di hotel Sultan, Senayan, ada tiga tema yang diangkat, yakni energi dan pangan, infrastruktur dan sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Peserta debat kedua ini khusus calon presiden Jokowi melawan calon presiden Prabowo, calon wakil presiden kedua kubu tak dilibatkan, namun diperkenankan untuk hadir.

Diprediksi debat ini akan sengit didominasi oleh persoalan infrastruktur. Tujuan kebijakan pemerintah membangun infrastruktur adalah untuk memangkas biaya logistik, namun dalam pelaksanaannya kebijakan itu salah arah. Sehingga berujung pada penerapan tarif tol yang sangat mahal, bahkan lebih mahal dari tarif tol negara tetangga.

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono rerata tarif tol kendaraan golongan I adalah Rp1.300 per kilometer. Bahkan Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Herry TZ mengungkapkan tarif tol ada yang mencapai Rp1.500 per kilometer, atau paling mahal, yakni di Tol Bekasi—Cawang–Kampung Melayu (Becakayu).

Bagaimana dengan negara lain? Ternyata tarif jalan tol di negara-negara utama ASEAN memiliki tarif yang jauh lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia.

Di Singapura, tarif tol terpanjang yakni Tual (42,8 km) adalah Rp777,94 per kilometer. Sementara itu, di Vietnam Rp1.217,50 per kilometer, di Filipina Rp1.053,03 per kilometer, kemudian Malaysia hanya Rp492,5 per kilometer dan Thailand Rp440 per kilometer.

Artinya, Indonesia memiliki tarif tol paling mahal di antara negara besar ASEAN lainnya.  Tidak hanya di ASEAN, ternyata tarif tol Indonesia juga masih lebih mahal dibandingkan dengan China yang hanya Rp961,52 per kilometer. Tidak heran, apabila Presiden Jokowi berpendapat seharusnya tarif tol di Indonesia bisa diturunkan karena dinilai tidak kompetitif.

Tarif tol yang terlalu mahal dapat membelokkan tujuan kebijakan diadakannya infrastruktur, yakni untuk memangkas biaya logistik. Karena faktanya biaya logistik malah lebih mahal, maka banyak perusahaan logistik mengeluh, setelah dihantam tarif tol yang mahal, masih harus menanggung beban kenaikan biaya logistik di bandar udara.

Termasuk perusahaan ekspedisi sejak tarif tol dipatok setinggi langit, para sopir truk mereka lebih memilih jalan pantura atau jalan arteri yang lama. Selain jalannya masih mulus, lancar, juga gratis. Mungki sesekali berpapasan dengan lampu merah, pasar tumpah, selebihnya lancar tanpa harus keluar biaya tol.

Apalagi rerata sopir truk hanya dibekali biaya akomodasi perjalanan Rp1 juta bersama kenek untuk perjalanan dua hari. Kalau harus bayar tol, praktis, mereka tidak makan dan tidak bisa beli bensin selama dua hari.

Konsekuensi mahalnya tarif tol, membuat jalan tol yang ditarif mahal sepi, mereka yang mampu membayar biaya tol tentu menikmati lengangnya jalur-jalur tol mahal seperti Cikopo-Palimanan, Kertosono-Mojokerto, Batang-Semarang, Solo-Ngawi. Mereka lebih memilih jalur arteri yang murah meriah.

Jika demikian halnya, buat apa membangun tol, bahkan belakangan menjelang Pilpres terlihat Presiden Jokowi mengebut pembangunan jalan tol? Menteri PUPR Basuki mengatakan ada sejumlah ruas tol yang harus diselesaikan tahun ini.

Seperti ruas tol Pasuruan-Banyuwangi, kemudian Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), kemudian Terbanggi Besar-Kayu Agung-Palembang, yang dijadwalkan selesai pada Juni 2019. Tol Bakauheni-Terbanggi Besar kata Basuki akan lebih dulu diresmikan.

Dia juga menerangkan Tol Pasuruan-Probolinggo sudah siap dan tinggal menunggu diresmikan. Bahkan tol tersebut sebelumnya sudah dibuka secara fungsional.

Berdasarkan info tol dari bpjt.pu.go.id, total tarif Kendaraan Golongan V (truk dengan lima gandar atau lebih) dari Jakarta-Surabaya mencapai Rp1.382.500. Sementara untuk golongan I (kendaraan pribadi) hanya Rp600 ribu.

Tarif tol Trans Jawa dinilai terlalu mahal, lebih mahal dari jalan tol negara-negara ASEAN, sehingga Presiden Jokowi meminta para pengusaha jalan tol mengevaluasi tarif tol tersebut.

Pertanyaannya, apakah yang menyebabkan tarif tol Trans Jawa begitu mahal?[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here