Bubble Mega Proyek Meikarta Berakhir Dengan Pelepasan Saham

11
969
CEO Lippo Group yang menggagas mega proyek Meikarta harus melepas sahamnya di Meikarta, dari sebelumnya 54% sekarang tinggal 27% kepada investor asing.

Nusantara.news, Jakarta – Mega proyek Meikarta yang digagas oleh Lippo Group seperti berbalik arah, dari gegap gempita hingga akhirnya berujung pada bergugurannya saham-saham di bawah Lippo Group. Apakah ini pertanda akhir dari gagalnya mega proyek tersebut?

Pada awal Lippor Group memasarkan Meikarta prosesnya sangat gegap gempita. Betapa tidak, bayangkan, kota baru Meikarta akan dibangun megah di kawasan Cikarang dengan nilai investasi mencapai Rp278 triliun. Angka yang sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan penggelembungan (bubble) proyek yang sangat massif.

Teori bubble economy coba diterapkan diterapkan dalam proyek ini. Dikatakan bubble, karena memang kemampuan riil Lippo Group tidak sebesar itu. Artinya, untuk merealisasikan proyek itu, Lippo Group akan mengundang partner sebanyak-banyaknya. Bisa juga bubble adalah sebuah harapan kapitalisasi pasar Meikarta jika semua investor masuk mencapai Rp278 triliun.

Target Lippo, anggaran Rp278 triliun itu bisa menggaet partner dari Jepang, Korea, Taiwan dan banyak lagi, plus pendanaan dari setiap pembeli yang mempercayakan kepada Lippo.

CEO Lippo Group James Riady menyatakan pembangunan kota Meikarta ini melibatkan banyak mitra bisnis. Langkah ini sebagai strategi pendanaan Lippo dalam merealisasikan pembangunan yang direncanakan. Menurutnya, 35% porsi pendanaan berasal dari kas Lippo, sedangkan sisanya dari kerja sama dengan mitra bisnis baik dalam maupun luar negeri.

Ada 120 perusahaan yang bermitra dengan Lippo, 30-40 kontraktor, 20-30 partner dari luar negeri seperti Mitsubishi, Toyota. Mitsubishi berminat bangun 1.000 unit, tapi desainnya khusus lebih ke Jepang. Toyota juga, ingin desain khusus.

Untuk merealisasikan kota baru Meikarta, dibutuhkan lahan 2.200 hektare. Di dalamnya akan dibangun 250.000 unit apartemen, fasilitas umum, hunian komersial, rumah sakit, sekolah, mall, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Maka itu, diperlukan marketing yang besar-besaran, konon Lippo sudah mengeluarkan biaya iklan, promosi dan advetorial sedikitnya Rp1,5 triliun.

Namun yang direkomendasikan Pemprov Jawa Barat untuk dapat dikeluarkan izinnya hanya 84,6 hektare saja. Itupun lahan yang memang sejak lama dikuasai PT Lippo Cikarang Tbk. Praktis tidak ada tambahan izin baru, karena menurut  Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, lahan seluas yang diharapkan Lippo memang tidak ada.

Bubble mega proyek

Ternyata dalam perjalanannya kota baru Meikarta tidak seindah yang diharapkan. Balon proyek yang digelembungkan itu tidak serta merta mengundang minat investor. Sehingga angka Rp278 triliun hanyalah tinggal angka yang sulit untuk direalisasikan, ketika investor tak kunjung masuk, maka meletus lah bubble mega proyek tersebut.

Pemicu utama pecahnya bubble mega proyek itu lantaran izin yang keluar tak sesuai harapan, sehingga mendismotivasi para investor. Jadi berapa potensi riil Meikarta sebenarnya?

Sampai dengan akhir kuartal III-2017, proyek yang baru diluncurkan pada Mei 2017 lalu telah mengantongi pendapatan prapenjualan (marketing sales) senilai Rp4,9 triliun.

Namun, pada akhir Januari lalu perusahaan mengungkapkan PT Mahkota Sentosa Utama, anak PT Lippo Cikarang Tbk, telah menerima pembayaran senilai Rp2,5 triliun dari investor eksternal sebagai uang muka untuk pembelian saham.

Total uang yang akan dibayarkan oleh investor eksternal tersebut mencapai Rp4 triliun. Setelah penjualan saham selesai dilakukan, kepemilikan Lippo dalam proyek Meikarta akan turun menjadi sekitar 27%, dari yang sebelumnya 54%.

Aksi korporasi tersebut lantas memaksa Fitch Ratings untuk menurunkan peringkat jangka Panjang perusahaan. Minggu lalu, Fitch menurunkan peringkat jangka panjang perusahaan menjadi B+, dari yang sebelumnya BB-.

Seperti sudah disebutkan di atas, kebutuhan pembiayaan untuk Meikarta mencapai Rp278 triliun, Masalahnya, PT Lippo Karawati Tbk–pemilik 54% saham PT Lippo Cikarang—dan PT Lippo Cikarang sebagai pemilik proyek tidak memiliki dana sebanyak itu. Per akhir kuartal III 2017, total aset Lippo Karawaci adalah sebesar Rp52,4 triliun, sementara untuk Lippo Cikarang hanya sebesar Rp9,5 triliun.

Jika ingin menarik utang pun, tidak mungkin nilainya mencapai ratusan triliun melebihi nilai aset. Jadi angka proyek Rp278 triliun hanyalah angka bubble yang hanya bisa dicapai jika tahapannya benar. Namun karena tahapannya keliru, belum ada rekomendasi, belum ada IMF, dan Amdal, sehingga akhirnya yang terjadi berbalik arah.

Saham berguguran

Harga saham Lippo Group pun berguguran. Sepanjang 2017, saham emiten ritel Lippo Group, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) merosot 63,35%. Saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) terpangkas 26,94%.

Tak cuma ritel, saham properti Grup Lippo pun menyusut. Saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terkoreksi 34,42% dan saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) merosot 31,68%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Taye Shim menilai, penurunan ini sebagian besar disebabkan faktor sektoral yang juga terkoreksi tajam. Perlambatan konsumsi dan aliran uang ke perbankan secara kolektif menjadikan sektor properti dan ritel berada di fase underperform.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji tak menampik ada beberapa hal yang menekan prospek Lippo Grpup. Misalnya, penurunan peringkat utang Lippo Karawaci.

Pada Rabu (14/2) lalu, Fitch Ratings menurunkan peringkat surat utang Lippo Karawaci menjadi B+ dari sebelumnya BB-. Ini mencerminkan penurunan arus kas yang signifikan dari penjualan properti, seiring keputusan Lippo Group mendivestasikan porsi saham di proyek Meikarta melalui Lippo Cikarang.

Fitch menyebut, pada 31 Januari lalu, PT Mahkota Sentosa Utama, anak usaha Lippo Cikarang yang membawahi Meikarta, telah menerima uang muka penjualan saham senilai Rp2,5 triliun dari investor eksternal. Ini merupakan bagian dari total penjualan proyek Rp4 triliun.

Jika penjualan sudah selesai, porsi saham Lippo di proyek ini akan turun jadi 27% dari 54%, demikian Hasira De Silva dan Robin Sutanto, analis Fitch Ratings, dalam keterangannya, pekan lalu.

Mungkin akan lain ceritanya jika sejak awal Lippo Group menempuh modus administrasi yang lazim. Mengurus IMF, Amdal, rekomendasi sesuai dengan kapasitasnya. Tapi itulah hidup, kadang seseorang tergiur oleh sesuatu yang tidak dimiliki, akhirnya hal kecil itu yang membuat sesorang bisa terpuruk.

Apakah ini pertanda berakhirnya mega proyek Meikarta? Atau justru sengaja mundur selangkah karena maraknya tahun politik 2018 dan 2019,  untuk kemudian maju lagi seribu langkah begitu ada formasi politik baru? Yang jelas semua sedang cooling down.[]

11 KOMENTAR

  1. Mereka yang pesimis yg menilai meikarta tidak dapat berkembang…. fakta di lapangan, penjualan meikarta merupakan penjualan properti tercepat dan terbesar hanya dalam hitungana kurang dari 1 tahun

  2. proyek negara aja diperkuat sama investor asing, apalagi proyek swasta…hal biasa itu dlm suatu proyek, ga perlu di beritakan yang aneh2…udh ada yg awasi kok stiap perkembangan nya

  3. berakhir??ga liat langsung tapi sok berkomentar…haha, tuh liat lgsg ke sono, masih pada jalan tuh proyek meikarta…sales nya juga masih pada jualan di blu plaza dan tempat2 lain, masih lanjut tuh proyek

  4. Yg saat ini sedang dibangun itu cuma gedung2 buat grup lippo doang. Bukan unit2 apt nya yg dijual2in.

    Sales2 meikarta uda ga digaji,jmlh nya uda menyusut sangat tajam,yg skrg masih pameran2 itu dari agen lepasan,bukan jualin produk meikarta doang.

    Katanya lgi urus imb dari dulu tapi ga ada bukti sedang mengurus imb? Sama aja hoax. Ati2 kalau mau beli

    • sales itu dapat digaji?? kalau dijagi bisa bangkrut itu pengembang, karena sales itu seringkali memasarkan berbagai produk pengembang, bisa sampai lima developer yang dia jual, misal kalau dapat gaji 3 juta dari setiap developer saja sudah mendapatkan gaji 15 juta perbulan, hahahha enak sekali, yang saya tau sales itu hanya mendapatkan komisi dari apa yang dia jual ‘laku’, jadi kalau dibilang sales meikarta sudah gak dijadi ya memang dari awal gak digajii,, wong semua sales hanya mendapat komisi penjualan.

  5. bisnis yang baik dan berkembang itu tidak pernah didanai hanya oleh modal sendiri perlu kerja sama dari berbagai investor, jadi kalau saat ini meikarta mulai dibahas dengan issu “bubble mega proyek” , bisa jadi karena dari awal pun sudah terbiasa dengan berbagai issu yang menyudutkan dengan berbagai sudut namunn seperti yang sudah kita lihat, tidak satupun issu itu yg dapat menyurutkan minat masyarakat untuk membeli meikarta, meikarta maju terus.

  6. pelepasan saham itu bukan berarti buruk, pelepasan saham itu artinya bisnis itu dilirik oleh investor, naik turunya suatu saham usaha dipengaruhi berbagai faktor, faktor global juga dapat mempengaruhi turunya harga saham.

  7. Pada Rabu (14/2) lalu, Fitch Ratings menurunkan peringkat surat utang Lippo Karawaci menjadi B+ dari sebelumnya BB-. Ini mencerminkan penurunan arus kas yang signifikan dari penjualan properti, seiring keputusan Lippo Group mendivestasikan porsi saham di proyek Meikarta melalui Lippo Cikarang.

    Ratingnya hutang dari BB- ke B+ kok dibilang peringkat turun, malah sebaliknya kapasitas nilai hutangnya meningkat donk, kok diterjemahin buruk sih, anda membuat berita krn pesanan pesaing developer meikarta mungkin ya.

  8. Pada sok pintar
    Urus dapur sendiri jangan urus dapur orang lain
    Yg bilang lippo jelek lah ini lah itu lah dll

    Ngaca jidad lo pada

    Kalau mau jadi pesaing, jadilah pesaing yang sehat….
    Jangan tidak sehat dengan cara menjatuhkan

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here