Bukan Dijajah, Indonesia Justru Melawan Selama 350 Tahun

0
435

Nusantara.news, Jakarta- Sekitar dua abad lalu, dunia berada di bawah telapak kaki bangsa Eropa. Hampir semua bangsa masuk ke dalam genggaman kolonialisme atau penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Kerajaan Inggris pada masa itu, misalnya, memiliki jajahan di lima benua.

Di belakangnya menyusul Prancis, Spanyol, Portugal, Belanda, dan Jerman. Apa yang baik dan beradab dibuat berdasarkan nilai-nilai mereka. Segala hal yang bertentangan dengan nilai-nilai mereka dianggap barbar, tidak beradab, maka perlu untuk ditaklukkan.

Semboyan yang berkibar kencang pada masa itu adalah gold (emas), gospel (Injil Kristiani), dan glory (kejayaan). Kekayaan alam dikeruk habis, dibeli dengan harga murah, bahkan dirampas, lalu dibawa ke negara-negara Eropa untuk membangun tanah airnya. Di dalam proses itu, bangsa yang menjadi korban kolonialisme tenggelam dalam kemiskinan, perang saudara, dan penderitaan yang panjang. Indonesia adalah salah satu di dalamnya, konon bahkan dijajah hingga 350 tahun.

Namun benarkah? Bagaimana sebuah bangsa begitu “bodohnya” merasa telah dijajah selama ratusan tahun?

Di balik mitos 350 tahun

Setiap memperingati hari proklamasi Indonesia atau saat kita belajar sejarah di sekolah dasar sampai SMA, ketika ditanya berapa tahun Indonesia dijajah Belanda, secara serempak kita menjawabnya 350 tahun (3,5 abad). Apakah benar Indonesia dijajah selama 350 tahun? Selemah atau sepasrah itukah negara yang punya akar sejarah keberanian raja-raja nusantara dijajah selama itu?

Mitos ini tampaknya perlu dibongkar dan dikritisi sehingga ada pelurusan sejarah bagi bangsa ini. Sebab, selama berpuluh tahun kita telah dicekoki dengan informasi yang tidak jelas, bahkan tak bisa dipertanggungjawabkan secara historis maupun akademis.

Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka. Juga tidak sepenuhnya keliru ketika Bung Karno mengatakan, “Indonesia dijajah selama 350 tahun!” Sebab, ucapan ini hanya bentuk propaganda untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1945-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Bung Karno menyatakan propaganda itu untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda.

Kala itu, Belanda gencar menggalang opini untuk mengukuhkan kembali kekuasaan di Hindia Belanda yang sempat diambil alih Inggris pada 1811 – 1816. Melalui kurikulum pendidikan saat itu, Belanda mencoba menanamkan anggapan bahwa Indonesia telah mereka kuasai sejak kedatangan Cornelis de Houtman tahun 1596.

Propaganda ini diperkuat oleh ucapan Gubernur Jenderal De Jonge tahun 1930-an, bahwa Belanda telah berkuasa di Hindia Timur sejak hampir 300 tahun yang lalu, dan akan tetap demikian hingga 300 tahun berikutnya. Colijn, rekan sejawatnya, juga sesumbar dengan pongahnya, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.”

Ternyata, jika diteliti dari segi hukum dan sejarah kolonial, Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Hal ini dibuktikan oleh studi seorang ahli hukum dan sejarah keturunan Belanda dan Jawa, Prof. Mr. Gertrudes Johan (G.J) Resink. Dalam studinya, guru besar Universitas Indonesia kelahiran Yogyakarta tahun 1911 ini, membantah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Menurutnya, penjajahan Belanda yang dikatakan selama 350 tahun menguasai Kepulauan Indonesia sebenarnya tidak lebih dari mitos politik belaka yang tidak bisa bertahan melawan ujian kebenaran sejarah (selengkapnya bisa dilihat di buku Bukan 350 Tahun Dijajah karya G.J. Resink, 2012).

Merujuk pada penelitian G.J. Resink dan ucapan para penguasa Hindia Belanda tersebut, justru yang benar adalah sebaliknya, yakni Belanda membutuhkan waktu sekitar 300 tahun untuk menaklukkan seluruh wilayah yang sekarang dikenal bernama Indonesia. Penafsiran ini tentu saja mengembalikan keadaan yang sebenarnya, bahwa bangsa Indonesia tidak bisa dikatakan mengalami penjajahan Belanda, melainkan justru Belanda yang menghadapi perlawanan dari bangsa Indonesia.

Selama ratusan tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC, pemerintah Belanda justru harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Nederlandica. Belanda harus menerima berbagai perlawanan dari para pemimpin rakyat, seperti dalam Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh tahun 1912, sehingga orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun. Jadi, sebenarnya baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia. Namun jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Kembali pada mitos Indonesia dijajah 350 tahun oleh Belanda, mari kita buktikan. Kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia “dijajah’’ Belanda. Jika awal penjajahan dihitung tahun 1602 saat berdirinya VOC (semacam BUMN Belanda), maka ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Jika dihitung tahun 1800 saat pemerintah Belanda mengambil alih VOC yang bangkrut, ditambah 350, maka kita baru merdeka tahun 2150. Atau jika dihitung lebih awal lagi saat pertama kali Belanda pimpinan De Houtman datang ke nusantara yaitu di Banten tahun 1596, jika ditambahkan 350 maka kita merdeka tahun 1946.

Tidak ada orang yang tahu secara pasti dari mana angka 350 tahun itu muncul. Kalaupun dihitung sejak kedatangan pertama kali armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman seperti yang disebutkan di atas, rasanya itu tidak tepat juga. Bukankah saat pertama kali mereka datang ke Pelabuhan Banten tujuannya hanya berdagang rempah-rempah, bukan melakukan penjajahan? Faktanya, Cornelis de Houtman bahkan diusir dari Banten dan akhirnya tewas dalam pertempuran dengan pendekar dari Aceh.

Belanda pada saat itu sama seperti pedagang-pedagang dari negara lain (Portugis, Spanyol, Inggris, India, Cina) menjalin hubungan dagang dengan daerah-daerah di Nusantara yang berdaulat. Alih-alih menjajah, mereka bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan justru mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten.

Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan, juga berperang mengusir Belanda. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

Kalaupun Belanda dapat menguasai Nusantara dihitung sejak 1816 setelah merebut kembali dari tangan Inggris, mereka hanya menguasai sebagian kecil wilayah. Ha itu pun, Belanda tidak menundukkan wilayah-wilayah tersebut dalam waktu yang bersamaan. Hingga awal abad ke-20, wilayah Siak, Goa, Kutai, dan Sumba masih berstatus setara dengan Belanda. Jika kemudian kita menggunakan konsep NKRI, maka sebagai bangsa, barangkali Indonesia “dijajah’’ tidak sampai 40 tahun.

Sedangkan Indonesia sebagai sebuah negara, bisa disebut dijajah (lebih tepatnya diserang) hanya 4 tahun (1945-1949), yakni melalui agresi militer Belanda I dan II. Serangan Belanda itu pun mendapat perlawanan rakyat di daerah-daerah.

Sebelum 1945, secara de facto dan de jure, memang Republik Indonesia belum ada. Logika historisnya, nama Indonesia sendiri baru disebut-sebut di kalangan ilmuwan ketika seorang etnolog Jerman bernama Adolf Bastian (1826-1905) menulis sebuah buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu). Nama Indonesia kemudian mulai populer menjelang Sumpah Pemuda tahun 1928.

Dan sebelum menjadi negara, wilayah Indonesia memang dikenal sebagai Hindia Belanda. Artinya India milik Belanda. Itu untuk membedakan dengan Hindia Barat atau India yang dimiliki Inggris. Dua nama itu murni hasil kesepakatan antara bangsa penjajah semata. Dan jauh sebelum ada nama Hindia Belanda, kawasan kita lebih dikenal sebagai Nusantara (artinya di antara pulau-pulau).

Negara Republik Indonesia sendiri secara resmi baru terbentuk sejak diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Jika terbentuknya saja baru tahun 1945, lantas kapan pula Belanda pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun? Yang benar adalah Indonesia melakukan perlawanan selama tiga setengah abad![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here