Bukan Sekedar Popularitas, Jatim Butuh Konseptor yang Cerdas

0
224
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa

Nusantara.news, Surabaya – Suhu politik di Jawa Timur menjelang pemilihan gubernur Jatim 2018 mulai meninggi. Eskalasinya, belakangan ini, nampak mulai bergolak seiring munculnya beberapa nama kandidat bakal calon gubernur (bacagub) ke muka publik. Bahkan, diprediksi, persaingan menuju Grahadi 1 bisa semakin ketat dan keras.

Memang, pelaksanaan Pilgub Jatim masih jauh, tetapi seiring berjalannya waktu, dinamika politik Jatim bisa dirasakan mulai memanas. Eskalasi yang meninggi ini tentu saja berkaitan erat dengan beredarnya nama-nama yang bermunculan yang akan ikut bertarung demi meneruskan tongkat estafet Soekarwo. ‘Curi-mencuri’ start pun dimulai. Adalah nama petahana Saifullah Yusuf  lebih dahulu mentas mendahului pesaingnnya, karena beberapa nama yang dicalonkan maju belum mengambil sikap.

Kader NU ini lebih dulu mendeklarasikan dan diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mempunyai 20 kursi dari total 100 kursi di DPRD Jatim. Beberapa nama yang kini diisukan maju masih bersifat spekulatif saja, meski belum menyatakan atau mendeklarasikan diri, namun dalam waktu dekat ada beberapa calon yang sudah siap untuk bersaing dengan petahana.

Akan tetapi, berdasarkan hasil lembaga survei Poltracking Indonesia, ternyata bukan hanya nama Gus Ipul saja yang mencuat. Data survei tersebut malah menyebut, beberapa nama pilihan masyarakat yang kuat bakal maju Pigub Jatim adalah Mensos Khofifah Indar Parawansa, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Walikota Batu Eddy Rumpoko, Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyo, Bupati Lamongan Masfuk, Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi.

Jatim Butuh Pemimpin yang Cerdas

Dengan berakhirnya masa kepemimpinan Gubernur Soekarwo yang sudah dua periode mengawal Jatim, dan dipastikan tidak akan masuk dalam bursa Pilgub Jatim 2018, membuat publik harus selektif dalam mencari pemimpin yang dinilai bisa meneruskan tongkat estafet Soekarwo. Terutama dalam bidang pembangunan ekonomi agar bisa merata dan mencerminkan keadilan sosial.

Adalah nama Mensos Khofifah Indar Parawansa yang belakangan ini selalu digadang-gadang sebagai sosok yang pas untuk melanjutkan tongkat estafet Soekarwo. Akuntabilitas Khofifah di mata warga Jatim termasuk yang diperhitungkan. Bahkan, selama ini, dianggap sebagai pemimpin yang mempunyai konsep yang cerdas dalam bertindak. Oleh karena itu, figur Khofifah diharapkan mampu membawa perubahan dan mengawal segala warisan dari Gubernur Soekarwo ke arah yang lebih baik lagi.

Tak bisa dipungkiri bahwa Jatim mayoritas penduduknya beragama Islam, dan warga kaum Nadhlatul Ulama diklaim sebagai yang terbesar. Dan kini, sudah waktunya Jawa Timur dipimpin oleh seorang pemimpin dari kalangan NU seperti yang ditegaskan oleh banyak politisi di Jatim.

Tentu saja, dengan situasi kondisi Jatim seperti saat ini, warga Nahdliyin sangat berharap betul munculnya seorang pemimpin regional yang didukung oleh khalayak warga Jatim, yang dianggap mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Harapan warga Jatim itu terfokus pada sosok calon pemimpin yang mempunyai konsep yang jelas, baik cara berpikir maupun segala tindakannya. Bukan hanya mengandalkan modal polularitas semata yang memanfaatkan momentum hanya dengan bekal mondar-mandir mencari sensasi tapi tidak disertai dengan hasil kinerja yang konkrit bagi warganya.

Hal ini pula yang menjadi harapan Walikota Batu Eddy Rumpoko mengenai figur yang bisa meneruskan tongkat kepemimpinan Gubernur Soekarwo, yaitu bisa membawa Jatim lebih baik lagi dan meneruskan apa yang sudah diwarisi oleh Karwo.

“Jatim harus dipimpin oleh seorang konseptor cerdas yang mempunyai program kerja yang baik, dan sudah ada hasil kerjanya. Bukan oleh seorang yang modal popularitas tapi dari kerjanya masih belum jelas. Tegas, dan tidak mengekor untuk mencari popularitas semata,” jelas Eddy Rumpoko kepada Nusantara.news.

Dari  beberapa kriteria yang diwacanakan ini, maka tidak heran jika tokoh dari kalangan Nadhliyin, yang juga cucu pendiri Nadhlatul Ulama (NU) KH Salahudin Wahid lebih condong kepada Khofifah yang dianggap bisa meneruskan apa yang sudah diwariskan oleh Soekarwo, serta dianggap sebagai pemimpin yang tegas dan berkharisma.

Salahudin Wahid atau yang akrab disebut Gus Sholah ini bahkan terang-terangan menyebut Khofifah dianggap sebagai figur yang  mempunyai kemampuan mengimplementasikan visi yang baik, menguasai permasalahan secara detil serta berkemampuan menjalankan target yang telah menjadi  misi kinerjanya. Semua kinerjanya terkonsep dengan baik dan rapih. Itu bisa dibuktikan secara nyata karena Khofifah merupakan bagian dari kabinet kerja andalan Presiden Jokowi saat ini.

“Warga Jatim mayoritasnya ‘kan NU. Seharusnya dari dulu itu gubernurnya Jatim dari NU. Namun, karena banyak faktor, ya, sampai saat ini belum terwujud. Calon pemimpin itu harus memiliki kemampuan mengeksekusi, amanah dalam menjalankan tugasnya yang baik. Diikuti dengan intregritas yang baik pula,” ungkap Gus Sholah.

Pada 2018, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan secara serentak akan memilih masing-masing bupati dari 18 Kabupaten dan Walikotanya, serta memilih satu Gubernur sebagai kepala daerah provinsi. Tentu saja hal ini merupakan momentum yang ditunggu oleh masyarakat Jatim untuk bisa memilih pemimpin yang amanah dan mengerti kondisi ekonomi, sosial, budaya.

 

Seperti diketahui, Jawa Timur adalah salah satu provinsi terbesar kedua di Indonesia, setelah Jawa Barat. Dalam peta politik nasional, Jatim bisa disebut sebagai barometer politik nasional juga setelah DKI Jakarta, sehingga isu politik di Jatim sudah barang tentu akan menjadi konsumsi publik nasional. Hiruk pikuk politik di Jatim tak kalah mentereng dengan DKI Jakarta.

Mengapa? Hal ini terjadi karena dinamika politik Jawa Timur sangatlah tinggi dan tingkat heteroginitas yang juga lebih tinggi dibanding Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Karena itu Jawa Timur tetap menjadi barometer perkembangan politik nasional, sehingga memunculkan adagium bahwa untuk memenangkan kontestasi politik nasional harus memenangkan Jawa Timur terlebih dahulu.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here