Bukti Janji Trump Bukan Bualan

0
195
Pemandangan tembok batas Meksiko-AS di Sonora (AP)

Nusantara.news, Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus membuktikan janji-janjinya saat kampanye Pilpres AS 2016 lalu. Setelah perintah hapus Obamacare, mundur dari Kemitraan Trans-Pasifik, kini dia membuktikan janjinya yang satu lagi: membangun tembok perbatasan dengan Meksiko serta melakukan pengetatan terhadap imigran.

Saat berpidato di Kementerian Keamanan Dalam Negeri, Rabu (25/01) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa tembok perbatasan akan mencegah masuknya imigran gelap dan penyelundup narkoba.

“Negara tanpa perbatasan bukanlah negara, terhitung mulai hari ini Amerika Serikat akan mengambil alih kembali perbatasannya,” kata Presiden Trump sebagaimana dikutip CNN.

Sebelumnya, Trump menandatangani surat keputusan pembangunan tembok yang panjangnya bisa mencapai 2.000 atau sekitar 3.145 kilometer yang bakal menelan biaya hingga 40 miliar USD (Rp533 triliun).

Trump rencananya akan menggunakan biaya pembangunan tembok dengan mengajukan anggaran ke Konges, dan dia akan meminta Meksiko untuk membayarnya.

“Akan ada pembayaran (dari pemerintah Meksiko),” kata Trump.

Rencana pembangunan tembok yang secara serius akan dilakukan Trump semakin menunjukkan, presiden AS yang satu ini benar-benar akan membawa Paman Sam menjadi negara yang sangat proteksionis. Bukan saja karena pembangunan fisik tembok yang akan menyulitkan orang lalu lalang keluar masuk AS, tapi karena rencana tersebut juga dibarengi dengan nota eksekutif Trump tentang pengetatan migran dan pengungsi.

Sejumlah media di AS memberitakan, proposal yang saat ini sedang digodok tim pemerintahan Trump terkait dengan larangan masuknya orang-orang dari sejumlah negara yang dianggap bermasalah seperti Suriah, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Pemberian visa bagi warga ketujuh negara tersebut ditangguhkan.

Kurang dari satu minggu setelah menjadi presiden, pergerakan Trump sangat agresif untuk memulai berbagai kebijakan yang proteksionis. Sampai batas ini, Trump masih menunjukkan belum mau bergerak lebih moderat. Dia menunjukkan konsintensi dengan apa yang dijanjikannya.

Sebab itu, saat ini ada sekitar 11 juta imigran ilegal, sebagian besar berasal dari Amerika Latin, yang terancam “diusir” dari AS.

“Kami akan mengembalikan supremasi hukum di Amerika Serikat,” kata Trump, usai meneken kedua nota eksekutif terkait imigran itu.

Trump akan mengakhiri praktek yang dikenal “tangkap lepas” dimana pihak berwenang menangkap imigran gelap di wilayah AS tapi tidak segera menahan atau mendeportasi mereka. Trump akan lebih represif.

Seperti halnya keputusan Trump untuk menghapus Obamacare sebelumnya, kebijakan terkait imigrasi ini juga agaknya akan menghadapi gelombang protes yang cukup besar. Tidak saja dari dalam negeri tapi juga dari luar.

“Dinding perbatasan adalah tentang teater politik dengan mengorbankan kebebasan sipil,” kata Christian Ramirez, Direktur advokasi imigran Southern Border Communities Coalition.

“Ini secara de facto akan mengubah komunitas ini menjadi zona militer,” kata Ramirez.

Tindakan keras Trump soal kewarganegaraan memang membuat khawatir para imigran yang menjadikan AS sebagai impian hidup mereka dengan mengharapkan izin kerja sementara. Tapi begitulah ketetapan Trump yang ingin lebih mengutamakan warga Amerika (America First).

Apakah Trump realistis?

Meksiko sudah sejak awal memprotes keras kebijakan Trump soal rencana pembangunan tembok pembatasan dan mengatakan sebagai tindakan yang konyol dan tidak realistis. Rakyat Meksiko pernah menyindir rencana Trump sebagai ‘mustahil’ dilakukan karena biayanya yang begitu besar, mereka membuat ‘lelucon’ soal rancangan tembok raksasa yang membentang di perbatasan AS-Meksiko.

Presiden Meksiko Pena Nieto mengatakan dia menyesal dengan keputusan itu dan tidak menyetujui rencana Trump membangun dinding baru di sepanjang perbatasan, apalagi harus ikut mendanainya.

Dari dalam negeri AS, Pengadilan dan Kongres mungkin akan menjadi penghalang bagi rencana-rencana dan cara Trump memperketat imigrasi.

Di belakang keputusan kebijakan Trump, sudah mengantri lawan-lawannya yang siap bergerak untuk melakukan litigasi. Bisa jadi hal ini akan menimbulkan gejolak. Sejumlah kelompok advokasi sudah merencanakan perlawanan atas rencana ambisius Trump tersebut dengan cara mengadukan ke pengadilan.

Jadi, rencana Trump pada akhirnya akan bisa berjalan atau sebaliknya akan terhenti, sangat bergantung pada dua lembaga yang berada di luar kendalinya: Kongres dan Pengadilan.

“Tidak semua hal bisa dia lakukan sendiri,” kata Mark Krikorian, Direktur eksekutif Pusat Studi Imigrasi, yang mendukung kebijakan perketatan imigrasi sebagaimana dilansir Reuters.

Apapun itu, dan bagaimana nanti prosesnya, Trump sudah menunjukkan soal konsistensi pada proteksionisme. Hal yang membuat negara-negara lain khawatir akan adanya masalah gelombang pengungsi yang tak tertangani, serta soal terusirnya jutaan tenaga kerja dari AS yang akan membebani negara asal, sebagai dampak dari kebijakan tersebut. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here