‘Buku Biru’, Jurus Baru Kampanye Prabowo

1
455

Nusantara.news, Jakarta – Di tengah suhu politik jelang Pilpres 2019 yang memanas, Prabowo dan timnya mengeluarkan ‘Buku Biru’ untuk sosialisasi kampanye. Ada 8 bagian di buku ini, yaitu: visi dan misi, struktur BPN, riwayat hidup Prabowo, riwayat hidup Sandiaga, alasan memilih Prabowo-Sandi, frequently asked question (FAQ) Prabowo, FAQ Sandiaga, dan testimoni. Foto-foto Prabowo dan Sandiaga saat kampanye diselipkan di antara halaman.

Tentu saja, terobosan Badan pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga ini patut dipuji. Pasalnya, saat ini publik sudah mulai muak dengan narasi-narasi provokatif yang miskin gagasan serta program yang dilontarkan kedua kubu. Cara kubu Prabowo ini bisa dikatakan selangkah lebih maju dari kubu Jokowi-Mar’uf Amin.

Dengan adanya ‘Buku Biru’, kubu Prabowo mencoba menjelaskan kepada publik perihal pikiran dan rencana kerja jika terpilih memimpin Indonesia. Selain kontennya yang mudah dipahami karena berisi penjelasan ringkas (to the point), buku ini juga punya kemasan yang menarik: artistik dan elegan. Di sampul depan buku ini ada tulisan “Adil makmur bersama Prabowo-Sandi”, tagline dalam kampanye keduanya selama ini.

Isi buku ini sejalan dengan apa yang dijelaskan dalam buku panduan Political Campaign Planning Manual yang diterbitkan oleh National Democratic Institute for International Affairs. Di sana disebutkan bahwa kampanye yang tidak bertele-tele atau to the point akan memberikan pemahaman yang meyakinkan kepada calon pemilih. Sebab informasi yang diberikan akan langsung bisa diterima dengan baik tanpa ada distraksi yang berarti. Hal ini sangat mungkin bisa dicapai lewat buku biru Prabowo-Sandi.

Yang menarik, salah satu isi ‘Buku Biru’ itu adalah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sensitif terkait pasangan nomor urut 02 itu. Pada bagian FAQ Prabowo, total ada 36 pertanyaan yang sering ditanyakan terkait Prabowo. Jawaban disiapkan untuk menangkis pertanyaan-pertanyaan sensitif itu, dari tudingan penculik, kaitan dengan PT Kiani Kertas Nusantara, hubungan dengan Titiek Soeharto, hingga apakah Prabowo punya ‘anu’.

Beberapa pertanyaan dan jawaban yang ada di buku biru, misalnya:

FAQ: Prabowo sebagai penculik!
Jawaban: Bukan menculik tetapi mengamankan. Dan yang mengamankan itu bukan Prabowo tetapi oleh Tim Mawar. Yang diamankan sebanyak 9 orang, sudah bebas semua dalam keadaan hidup dan sebagian jadi kader Gerindra.

FAQ: Prabowo pelanggar HAM!
Jawaban: Kalau melanggar HAM kenapa beliau bisa bebas ke negara manapun? Bahkan beliau dipilih oleh Megawati menjadi Cawapresnya pada Pilpres 2009?

Sebenarnya, Prabowo beberapa kali sudah mencoba menjawab pertanyaan seputar isu sensitif tersebut secara langsung, misalnya terkait dengan keterlibatan penculikan. Namun, seringkali kesempatan itu disampaikan dalam wawancara dengan kantor berita atau saluran resmi lainnya. Belum pernah Prabowo menyampaikan secara terbuka di hadapan publik seperti yang dilakukan oleh Jokowi.

Berbeda dengan Prabowo, Jokowi lebih memilih untuk mengklarifikasi secara langsung di berbagai kesempatan. Jokowi bahkan tidak segan menunjukkan kegeramannya bahkan ingin “menabok” orang-orang yang gemar memfitnah dirinya. Media dan panggung klarifikasi Jokowi sebagai petahana tentu saja jauh lebih banyak dibanding Prabowo.

Trik Marketing Politik Prabowo-Sandi

Jika ditarik ke belakang, cerita soal penggunaan buku sebagai media kampanye bukanlah hal baru dalam dunia politik. Di Amerika Serikat (AS), penggunaan buku biru atau sejenis booklet merupakan salah satu cara yang digemari oleh politisi. Barack Obama menjadi salah satu politisi itu.

Pada Pilpres 2012, Obama menggunakan booklet yang berisi program-program kampanye untuk kepentingan kampanye di daerah swing states. Melalui buku saku itu, Obama mencoba menjelaskan rencana kerja untuk periode berikutnya di wilayah yang belum jelas loyalitasnya, semisal di Ohio, Virginia, atau New Hampshire.

Menurut Direktur Utama dari Inovation Protocol, Sasha Strauss, penggunaan booklet penting dalam strategi marketing politik. Menurutnya, buku saku ibarat brosur yang didapat dalam sebuah acara. Meski tidak selalu dibaca, namun keberadaannya akan menjadi pengingat (physical reminder) bagi masyarakat. Artinya, potensi keberadaan buku biru di tengah-tengah publik akan sangat mudah diakses dari lintas kalangan.

Sampul ‘Buku Biru’ Prabowo-Sandi dan salah satu halamannya

Dalam politik, cara meraih pemilih sangat mirip dengan yang terjadi dalam dunia marketing. Branding adalah hal penting dalam proses jualan tersebut. Dalam konteks buku biru, perbedaan antara Obama dengan Prabowo adalah pada konten yang disajikan. Obama memasukkan strategi terperinci untuk mencapai target ekonomi, sementara Prabowo masih menuliskan pencapaian visi misi melalui program aksi yang perlu penjelasan lebih lanjut.

Misalnya dalam salah satu poin program aksi ekonomi soal ‘melindungi dan merevitalisasi pasar tradisional’. Program aksi tersebut dipandang masih normatif sehingga akan mengundang pertanyaan lanjutan dari publik atau calon pemilih. Mislanya, bagaimana caranya melindungi dan merevitalisasi pasar tadisional? Bagaimana langkah mengatasi menjamurnya Mall, yang bahkan berdiri di tengah pasar tradisional sekalipun? Begitupula soal poin ‘meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan’, seperti apa konkretnya?

Pun begitu, dalam kadar tertentu bisa dipahami bahwa buku tersebut dibuat seringkas mungkin dan fokus pada substansi. Sebab penjelasan yang terlalu teknis dan detail selain cenderung akan membosankan bagi yang membacanya, juga akan disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan ketika dirinya terpilih.

Barangkali tim Prabowo akan menggunakan medium lain untuk menjabarkannya lebih rinci. Artinya, selain mengedarkan buku biru, tim Prabowo sebenarnya bisa menyampaikan secara rinci terkait dengan program aksinya. Misalnya lewat acara debat yang digelar KPU, uji publik di hadapan sivitas kampus, ataupun pada segmen-segmen kalangan tertentu. Kita tunggu saja.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here