Bung Karno, KH Wahab Hasbullah, Tradisi Lebaran dan Halalbihalal

0
588

Nusantara.news, Jakarta – Jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Jahiliyah Arab ternyata sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan. Kedua hari raya itu  merupakan tradisi yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.

Setelah Islam turun,  hari raya umat Islam yaitu hari raya Idul Fitri, dirayakan untuk pertama kalinya selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan, walau 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan shalat Id pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.

Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada hari raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat Id di atas lapang itu. Sejak itulah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan shalat Id di lapangan terbuka.

Sejarah dan Makna Lebaran dan Halalbihalal

Dalam tradisi umat Islam di nusantara,  hari raya Idul Fitri sering disebut hari lebaran. Lebaran berarti “lebar” atau “selesai”. Bisa juga berarti “lebur” yang berarti “hangus” atau “lenyap”. Tentu saja lenyap dalam hal ini diartikan sebagai melenyapkan segala kesalahan dengan jalan saling memaafkan satu sama lain.

Menurut MA Salamun (1954), kata “lebaran” berasal dari tradisi Hindu yang berarti “selesai, usai, atau habis”. Artinya, menandakan habisnya masa puasa. Para wali memperkenalkan istilah lebaran agar umat Hindu yang baru masuk Islam saat itu tidak merasa asing dengan agama yang baru dianutnya. Hal ini diperkuat budayawan Umar Khayam yang menyatakan tradisi lebaran menunjukkan hasil terobosan akulturasi antara budaya Jawa dan Islam.

Konon tradisi ini pertama kali digagas oleh Sunan Bonang yang bertujuan untuk “menyempurnakan” bulan suci Ramadan. Jika dengan puasa, Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dengan-Nya, maka dengan saling meminta maaf kepada sesama, lenyaplah dosa-dosa dan kesalahan kita dengan sesama umat manusia. Dengan demikian, dosa dengan Tuhan lebur, dosa dengan sesama manusia juga lebur. Lambang dari pengampunan kesalahan dan permintaan maaf itu disimbolkan dengan ketupat atau kupat dalam Bahasa Jawa yang berarti “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa, yang membangun kekuatan politik dan penyiaran agama Islam dengan dukungan Walisongo (sembilan wali). Ketika menyebarkan Islam ke pedalaman, Walisongo melakukan pendekatan budaya masyarakat setempat. Di sinilah pentingnya akulturasi.

Raden Mas Sahid, anggota Walisongo yang sohor dengan panggilan Sunan Kalijaga, yang pertama kali memperkenalkan tradisi makan ketupat di hari lebaran.  Tidak hanya itu,  ia juga memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri.

Halalbihalal

Selain tradisi lebaran, kita juga mengenal istilah halalbihalal. Jika kita perhatikan, istilah halalbihalal merupakan sebuah frase/kalimat yang mengandung kata-kata dalam Bahasa Arab, yaitu halal dan bi. Namun demikian, nyatanya frase halal bihalal tidak akan kita temukan dalam kamus bahasa Arab baik klasik atau modern, tidak pula dalam percakapan sehari-hari bangsa Arab, karena memang istilah halalbihalal ini merupakan sebuah istilah unik made in Indonesia.

Secara sosio-budaya, halalbihalal juga sebenarnya merupakan bentuk ekspresi “guyub” dan kegemaran “ngumpul” yang merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sudah berlangsung sejak zaman Hindu-Budha. Dalam konteks tradisi Islam di Indonesia, halalbihalal merupakan tradisi ummat muslim Indonesia yang merujuk pada aktivitas silaturrahmi untuk saling memaafkan atau ‘menghalalkan’ selepas lebaran.

Halal bihalal secara harfiah berarti ”yang halal dengan yang halal”, ”yang boleh dengan yang boleh”, ”saling melepaskan ikatan”, atau ”saling mencairkan hubungan yang membeku sebelumnya”. Dengan kalimat lain, ia dapat berarti acara saling maaf-memaafkan antarsesama umat Islam.

Ada banyak versi soal kapan tradisi halalbihalal ini muncul. Sebagian versi menyebut bahwa tradisi halalbihalal dirintis oleh  KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Keraton menggunakan halalbihalal sebagai ajang silaturrahmi antara Raja dan Permaisurinya dengan seluruh punggawa dan prajurit Keraton.

Sebagian yang lain menyebut, sejarah halalbihalal ini dimulai oleh pemuda Masjid Kauman di Jogjakarta. Saat itu, tahun-tahun usai Proklamasi Kemerdekaan, mereka mau menggabungkan perayaan Idul Fitri dan Proklamasi Kemerdekaan RI. Mereka kemudian menemukan istilah halalbihalal.

Versi lainnya, sebagaimana dituturkan oleh KH Fuad Hasyim (alm) dari Buntet Cirebon, penggagas istilah halal bihalal ini adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama besar Indonesia yang karismatik dan berpandangan modern, hidup pada masa penjajahan dan masa-masa awal negara Indonesia. Setelah Negara Indonesia merdeka pada tahun 1945, Indonesia menghadapi babak baru dalam menghadapi masalah pasca kemerdekaan.

Pada tahun 1948 Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa, di mana para elit politik saling bertengkar, sementara pemberontakan mulai terjadi di mana-mana. Pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 1948, Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Hasbullah ke istana negara. Beliau dimintai saran oleh Bung Karno bagaimana menyelesaikan situasi pelik politik di Indonesia saat itu.

Kiai Wahab mengusulkan agar Bung Karno mengadakan acara silaturrahmi antar elite politik, karena sebentar lagi adalah hari raya Idul Fitri di mana umat Islam disunnahkan untuk bersilaturrahmi. “Silaturrahmi kan sudah biasa, saya ingin (istilah) yang lain,” Jawab Bung Karno.

Kiai Wahab lalu menjawab, “Itu gampang. Begini, para elite politik tidak mau bersatu itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa, dan dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halalbihalal’.”

JJ Rizal menuliskan: “Sejumlah tokoh pada bulan puasa tahun 1946 menghubungi Soekarno. Mereka minta agar ia bersedia di hari raya yang jatuh pada Agustus saat itu, mengadakan perayaan Lebaran dengan mengundang seluruh komponen revolusi, walaupun pendirian politiknya beraneka macam dan kedudukannya dalam masyarakat pun berbeda-beda. Tujuannya, agar Lebaran menjadi ajang saling memaafkan dan memaklumi serta menerima keragaman dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Belakangan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halal bi halal berarti maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aulau dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Kata itu mungkin terlontar di tahun 1963, tentu saja itu bukan kali pertama orang Indonesia bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Apalagi sejarah tradisi lebaran dan saling guyub di Indonesia juga sangat panjang.***

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here