Bung Karno, Presiden yang Membenci Namanya Sendiri

0
557

Nusantara.news, Jakarta –  Jika Anda berkunjung ke Bandung dan melintas ke daerah Cikapundung, Anda akan bertemu Jalan Dr. Ir. Sukarno. Dulu jalan ini bernama Jalan Cikapundung Timur. Tepat di Hari Pahlawan, 10 November 2015, nama jalan itu diubah menjadi Jalan Dr. Ir. Sukarno. Lokasinya persis di samping Gedung Merdeka, sebuah gedung bersejarah di Kota Kembang tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Jalan ini diresmikan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil bersama Guruh Soekarnoputra.

Inilah satu-satunya jalan bernama Sukarno di Indonesia. Biasanya, nama Sukarno selalu diiringi dengan Hatta, Soekarno-Hatta. Nama dua proklamator ini menjadi nama jalan di beberapa kota, bandara di Banten, dan pelabuhan di Makassar.

Tapi, di luar negeri banyak nama jalan Sukarno. Di Rabat, Maroko, ada Rue Soukarno (ditulisnya memang Soukarno). Sebelumnya jalan itu bernama Al Rais Ahmed Soekarno (Pemimpin Ahmed Soekarno). Letaknya dekat stasiun kereta api Casa Voyager. Nama jalan ini diresmikan Raja Mohammed V dan disaksikan Presiden Sukarno pada tahun 1960.

Di Mesir juga ada jalan Sukarno, di daerah Kit-Kat Agouza Geiza. Di Pakistan pun demikian, yaitu Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar dan Soekarno Bazar di Lahore.

Kembali ke nama jalan di Bandung tadi. Coba perhatikan apa yang aneh di namanya? Keanehan pertama, (tapi ini sebetulnya lebih tepat disebut keprihatinan) mengapa negara yang kemerdekaannya diproklamasikan oleh Sukarno itu baru tahun 2015 punya jalan yang diberi nama Sukarno. Itu berarti 70 tahun setelah Sukarno membacakan naskah proklamasi. Sementara negara lain puluhan tahun lebih dulu.

Keanehan kedua, nama jalan itu ditulis dengan “Sukarno”, bukan “Soekarno”. Padahal di semua penamaan lokasi yang menggunakan nama presiden pertama itu selalu ditulis “Soekarno”. Dan, hampir di semua dokumen resmi maupun catatan sejarah, yang umum dipakai adalah “Soekarno”.

Mana yang benar, “Soekarno” atau “Sukarno”?

Sebenarnya, Bung Karno menghendaki namanya ditulis “Sukarno”. Permintaan Bung Karno agar namanya ditulis seperti itu disampaikannya kepada Cindy Adams. Itu sebabnya, dalam buku Cindy Adams yang berjudul Sukarno An Autobiographys as Told to Cindy Adams, tidak ditemui kata “Soekarno”, yang ada hanya “Sukarno”. Buku yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1965 oleh penerbit The Bobbs-Marrill Company Inc, New York merupakan hasil serangkaian wawancara Cindy Adams dengan presiden pertama Indonesia itu.

Rupanya ada alasan patriotis di balik permintaan Bung Karno soal penulisan ejaan namanya itu. Dulu huruf “u” memang ditulis “oe”. Itu berdasarkan Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sejak tahun 1901. Ketika Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901, Ejaan Van Ophuijsen atau juga disebut Ejaan Melayu Kuno itulah yang berlaku. Sehingga namanya ditulis “Soekarno”.

Ejaan tersebut dirancang oleh Prof. Charles van Ophuijsen, guru besar bahasa di Universitas Leiden, dibantu Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ciri-cirinya antara lain, huruf “y” ditulis “j”. Misalnya, “payah” ditulis “pajah”. Huruf “u”ditulis “oe”, seperti “kamoe”, “goeroe”, dan sebagainya. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema. Umpamanya, “makmur” ditulis “ma’mur”, “saat” ditulis “sa’at”.

Setelah Indonesia merdeka, ejaan Melayu Kuno itu diganti dengan Ejaan Republik, atau yang terkenal dengan nama Ejaan Soewandi. Ejaan ini diberlakukan pada 17 Maret 1947 oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Mr. Soewandi dengan Surat Keputusan No. 264/Bhg.A.

Ejaan tersebut berlaku sampai 17 Agustus 1972, ketika pemerintah Orde Baru meresmikan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dengan Keppres No. 57 tahun 1972.

Bung Karno benci namanya dieja dengan “Soekarno”, karena ditulis dalam ejaan kolonial Belanda. Dia menghendaki namanya ditulis dengan ejaan yang disusun dan disahkan oleh pemerintah negaranya sendiri yang sudah merdeka.

Sebagai nasionalis sejati, Bung Karno boleh jadi jengkel bukan kepalang. Tapi apa hendak dikata. Sebelum 17 Maret 1947 ketika Ejaan Suwandi diberlakukan, ejaan yang ada, ya, baru Ejaan Van Ophuijsen. Jika harus diganti, tentu akan merepotkan secara administrasi. Sebab sudah banyak dokumen negara yang ditandatangani Bung Karno sebagai presiden dengan nama “Soekarno”. Dan yang paling penting, naskah Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakannya tanggal 17 Agustus 1945 juga mencantumkan nama “Soekarno”.

Tapi, kemudian Bung Karno lebih memilih memakai nama “Sukarno”. Itu terlihat berbagai keputusan resminya sebagai presiden. Misalnya dalam Keppres No 264 tahun 1962 tentang Larangan Adanya Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i.

Di situ ditulis: Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 15 Agustus 1965, tertanda Presiden Republik Indonesia SUKARNO. Bung Karno tidak lagi menggunakan nama Soekarno. Walaupun (tentu saja) dalam tanda tangannya masih ada huruf “oe”.

Tanda tangan Presiden Sukarno masih menggunakan huruf “oe”, walaupun namanya ditulis SUKARNO.

Tetapi, entah kenapa, keppres yang melarang semua bentuk organisasi yahudi di Indonesia itu justru dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid dengan Keppres No 69 tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.

Lepas dari soal penulisan nama itu, pelajaran yang paling berharga dari cerita di atas adalah betapa tingginya patriotisme dan kepedulian Bung Karno terhadap bahasa Indonesia. Baru dua tahun menjadi presiden, tentu masih terlalu banyak urusan kenegaraan dan pemerintahan yang mesti diselesaikannya di sebuah negara yang baru merdeka. Hampir semua hal berantakan dan harus ditata ulang.

Tetapi, dia menyetujui prakarsa Soewandi untuk merumuskan ejaan baru. Bagi Bung Karno bahasa itu penting. Bahasa menunjukkan bangsa.

Namun, meski Bung Karno memilih memakai nama Sukarno, anehnya semua anak-anaknya justru menggunakan ejaan yang dibenci bapaknya. Coba saja lihat, Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, dan sebagainya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here