Bung Tomo, Romantisme Jenderal Kancil dari Tanah Arek

0
611

Nusantara.news, Jakarta – “Andai tak ada takbir, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah!” (Bung Tomo).

Namanya Sutomo, orang menyebutnya Bung Tomo. Setiap kali Indonesia memperingati peristiwa 10 November yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan, setiap kali pula Bung Tomo disebut.

Tokoh berperawakan kecil yang oleh Bung Karno dijuluki Jenderal Kancil ini, adalah sang penyulut api perlawanan arek-arek Surabaya dalam upaya mengusir tentara Inggris yang didomplengi Belanda dalam pertempuran ‘Battle of Surabaya’ yang bersejarah itu.

Inilah pertempuran melawan pasukan asing pertama dan terbesar sesudah Proklamasi 1945. Sebanyak 6.000 – 16.000 pejuang Republik gugur dan 200 ribu warga sipil mengungsi. Di pihak lawan, setidaknya 2.000 orang terbunuh. Bahkan komandan pasukan Inggris, Brigjen A.W.S. Mallaby, pun tewas dalam pertempuran tersebut.

Melalui pidatonya yang heroik di Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia, arek-arek Surabaya memilih mengabaikan ultimatum pimpinan tentara Inggris, Mayor Jenderal Mansergh (pengganti Brigadir Jenderal Mallaby), untuk menyerah.

“Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati! … Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!” pekik Bung Tomo pada salah satu penggalan pidatonya, menjawab ultimatum tersebut.

Orasinya lewat corong radio setiap hari pada pukul setengah enam sore selalu ditunggu. Sejarawan Rusdhy Husein menyebut, orang menyemut di sekitar tiang-tiang pengeras suara yang tersebar di berbagai sudut Surabaya. Suara Bung Tomo di Radio Pemberontakan itu bahkan terdengar hingga ke Yogyakarta.

Harus diakui, tak ada yang meragukan kemampuan si Bung satu ini dalam berpidato dan melakukan agitasi massa. Darah revolusionernya memang sanggup membakar rakyat untuk memberikan perlawanan. Jiwa mudanya akan segera mendidih manakala menyaksikan kemelaratan bahkan kematian rakyat Surabaya akibat kekejaman kolonial.

“Dia itu anak muda yang selalu menggelorakan semangat juang para pemuda khususnya arek-arek Surabaya. Saking bersemangatnya ketika sedang membahas kesulitan rakyat terkait kelangkaan tekstil, dia membuka baju dan membusungkan dada sambil mengatakan ’ini kemeja saya’. Maksud dia untuk menunjukkan kebersatuan dengan rakyat yang menderita,” kata Rosihan yang dikenal sebagai sejarawan dan wartawan senior.

Bung Tomo kemudian membentuk Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), yang di kemudian hari dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia. BPRI bertujuan menampung para rakyat untuk bersiap menghadapi datangnya pasukan Inggris dan NICA. BPRI mempunyai senjata ampuh dalam menggerakkan massa, yaitu Radio Pemberontakan.

Pidato Bung Tomo di Radio Pemberontakan berhasil memberikan semangat kepada rakyat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Berkat Radio Pemberontakan ini terjalin komunikasi antar laskar pejuang.

Tentu saja, Bung Tomo bukan satu-satunya. Pemantik utama perlawanan Perang Surabaya juga dipicu adanya fatwa Resolusi Jihad yang dimotori oleh K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dan ulama-ulama di Jawa Timur. Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan Sabilillah yang dipimpin K.H. Maskur. Sedang H. Zainul Arifin memimpin pasukan pejuang dari kalangan santri dan pemuda. Untuk para kiai sepuh, K.H. Wahab Hasbullah memimpin pasukan Mujahidin. Selain itu, ada pasukan Brimob dari Kediri dan Semarang.

Dalam pusaran momentum Resolusi Jihad itulah sesungguhnya Bung Tomo mulai banyak diperhitungkan. Ia tercatat beberapa kali sowan kepada K.H. M Hasyim Asy’ari ke Tebuireng. Mbah Hasyim–sapaan karib K.H. Hasyim Ays’ari–adalah sosok sepuh yang sangat mengerti bakat “pembakar semangat” yang dimiliki oleh Bung Tomo kala itu.

Kedekatannya dengan Mbah Hasyim itulah yang menjadi bukti autentik bahwa sesungguhnya Bung Tomo adalah sosok santri yang religius. Dan, pekikan ‘Allahu Akbar’ yang fenomenal dalam setiap orasi Bung Tomo, tidaklah mungkin lahir dari jiwa seorang yang kering akan tauhid.

Romantisme di tengah pertempuran

Selain pejuang yang piawai berorasi, Bung Tomo juga lihai dalam menulis. Kelihaiannya itu ia tunjukkan pula ketika menulis surat cinta kepada calon istrinya, Sulistina, gadis anggota palang merah yang bertugas merawat pasukan republik yang gugur dan terluka. Kisah itu tertuang dalam buku Bung Tomo Suamiku, yang ditulis oleh Sulistina.

Kiri: Bung Tomo dan Sulistina (istrinya) bersama anak pertamanya yang masih bayi yang diberi nama Bambang Sulistomo. Kanan: Sulistina semasa hidup di usia 82 tahun

Bung Tomo sebagai sosok yang terkenal berpenampilan rapi dan tampan ini, pada zamannya memang menjadi salah satu idola rakyat, termasuk sejumlah perempuan yang berebut perhatian darinya. Namun Sulistina sangat berbeda dengan para gadis itu. Gadis cantik itu cuek saja ketika Bung Tomo datang. Ia tidak sadar, Bung Tomo telah jatuh cinta kepadanya sejak padangan pertama.

Ah kamu kok sombong temen nang aku, enggak delok aku belas, padahal liane delok aku. (Ah kamu kok sombong sekali kepadaku, tidak lihat sama sekali, padahal yang lainnya melihat aku)” kenang Sulistina, menirukan perkataan bergaya Suroboyoan dari mulut Bung Tomo yang naksir berat kepadanya.

Perjuangan Bung Tomo menaklukkan calon istrinya tak berhenti sampai di situ. Bung Tomo lalu menuliskan surat: “Kalau ada musuh yang siap menembak, dan yang akan ditembak masih pikir-pikir dulu, itu kelamaan. Aku dikenal sebagai seorang pemimpin yang baik dan aku adalah seorang pandu yang suci dalam perkataan dan perbuatan. Pasti aku tidak akan mengecewakanmu.”

Bung Tomo melanjutkan. “Seorang pejuang tidak akan mengingkari janjinya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku ingin menikahimu kalau Indonesia sudah merdeka. Aku akan membahagiakanmu dan tidak akan mengecewakanmu seumur hidupku.”

Menurut Sulis, saat itu tidak banyak lelaki yang berani mendekatinya. Namun, pria kelahiran tanah Arek (Surabaya), itu-lah yang berani mendekatinya. “Bahkan ia berani menyatakan cintanya kepada saya. Dari sana saya menyadari bahwa di balik sosok Mas Tomo yang keras, juga memiliki sisi romantis”.

Mereka kemudian memulai kisah cintanya pada Januari 1946. Namun karena kota Surabaya masih dikuasai tentara Sekutu, mereka pun bertemu secara sembunyi-sembunyi. Bung Tomo yang dikenal sebagai pemimpin pasukan BPRI saat itu merupakan salah satu tokoh yang diincar oleh tentara sekutu. Bahkan, karena masih diburu Belanda, usai menikah Bung Tomo harus pindah ke Yogyakarta.

Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan pernah menulis bahwa saat itu masyarakat memandang percintaan dan perkawinan bertentangan dengan sifat revolusi yang tengah menjadi-jadi. Sebab, pejuang yang dimabuk asmara dinilai akan melemahkan militansi dan cenderung menjadi hambatan.

Sorotan pun dialamatkan kepada Bung Tomo, ketika hendak menikah di masa revolusi. Muncul pro dan kontra. Ada yang menyayangkan mengapa Bung Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menikah sebelum perjuangan selesai. Selayaknya janji Moh. Hatta yang baru menikahi pujaan hatinya setelah Indonesia merdeka.

“Kami dapat menerima kekecewaan ini. Tetapi tak dapat menjelaskan secara pribadi apa yang menjadi pertimbangan pernikahan kami,” kata Sulistina dalam buku Bung Tomo Suamiku.

Sulistina dan Bung Tomo akhirnya tetap menikah dan dikaruaniai lima orang anak. Sebenarnya, Bung Tomo juga memiliki perasaan bersalah. Untuk itu dia meminta izin dan persetujuan dari kelompok pemuda yang dipimpinnya di BPRI.

Dalam iklan perkawinan Bung Tomo dengan Sulistina di harian Boeroeh, 16 Juli 1947, pucuk pimpinan tertinggi BPRI menyetujui perkawinan itu pada 19 Juni 1947, dengan perjanjian:

“Setelah ikatan persahabatan mereka diresmikan, mereka akan lebih memperhebat perjuangan untuk rakyat dan revolusi; meskipun perkawinan telah dilangsungkan, mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami-istri sebelum ancaman terhadap kedaulatan negara dan rakyat dapat dihalaukan.”

Iklan tersebut, menurut Soe Hok Gie, memperlihatkan Bung Tomo merasa berdosa karena perkawinannya dilangsungkan di tengah suasana pertempuran. Mereka juga seolah-olah ingin menepis jika sewaktu-waktu ada tudingan, ‘hanya mencari kenikmatan pribadi’.

Penggugat dua orde

Bung Tomo lahir di Kampung Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920. Ayahnya adalah Kartawan Tjiptowidjojo dari keluarga kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sementara ibunya pernah menjadi distributor lokal perusahaan mesih jahit.

Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya. Setelah mengikuti jenjang pendidikan dasar, ia masuk pendidikan sekolah pertama di MULO. Pada usia 12 tahun, ia sempat keluar dari sekolahnya dan bekerja kecil-kecilan. Namun, setelah itu, ia melanjutkan sekolahnya di HBS lewat korespondensi, tapi tak pernah lulus secara resmi.

Setelah itu, Sutomo bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Di sini, ia seolah mendapatkan pendidikan pengganti pendidikan formal. Ia mendapatkan kesadaran nasionalisme dan perjuangan dari kegiatan kepanduan ini. Bahkan ia menjadi anggota pandu terbaik se-Hindia Belanda dan mulai dikenal oleh banyak orang.

Selain aktif di kepanduan, Bung Tomo juga terlibat dalam dunia tulis menulis. Dia mengawali kariernya sebagai wartawan pada usia 17 tahun. Media tempatnya bekerja antara lain harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer. Bung Tomo pernah menjabat wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang, Domei, dan pemimpin redaksi kantor berita Antara di Surabaya pada 1945.

Melalui Antara, ia menyebarkan berita proklamasi Kemedekaan Indonesia dan menggugah masyarakat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dari bangsa-bangsa asing yang ingin kembali menjajah republik. Dia memberitakannya dalam bahasa Jawa agar tidak terkena sensor oleh penjajah Jepang.

Setelah kemerdekaan, Bung Tomo menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata (veteran) sekaligus Menteri Sosial Ad Interim (1955 – 1956) di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 mewakili Partai Rakyat Indonesia yang ia dirikan.

Pada periode itu, karier Bung Tomo di kancah politik nasional timbul tenggelam. Kadang mesra dengan penguasa, kadang berseberangan. Pada saat Sukarno menerapkan Demokrasi Terpimpin, Bung Tomo berpendapat bahwa konsepsi ini terlalu dipaksakan dan belum apa-apa sudah harus diterima oleh masyarakat Indonesia.

Ia juga mengeritik Bung Karno dan para jenderal yang dilihatnya mengalami dekadensi moral karena melemahkan nilai keutuhan keluarga dengan beristeri lebih dari satu dan terjebak dalam “main perempuan”.

Setelah Sukarno jatuh dan digantikan oleh Suharto, sikap kritis beliau tidaklah luntur. Kepada Presiden Soeharto, kritik Bung Tomo adalah seputar ‘cukongisme’ sebagai realisasi nepotisme melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha non-pribumi. Selain itu, Bung Tomo juga mengritik keras peran asisten pribadi (aspri) yang dianggapnya sering menabrak batasan.

Semua kritik dan gugatan Bug Tomo kepada pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru itu tercatat dalam buku “Bung Tomo Menggugat” setebal 246 halaman yang diterbitkan pada 2008. Akibat sikap kritisnya itu, pada 11 April 1978, ia ditahan oleh pemerintah. Setahun kemudian, ia dibebaskan.

Perjalanan hidup Bung Tomo akhirnya terhenti di usia 61 tahun. Dia wafat di Padang Arafah, Arab Saudi, pada tanggal 7 Oktober 1981 saat melakukan ibadah haji. Jenazahnya dibawa pulang ke Indonesia lalu dimakamkan di pemakaman umum di Jalan Ngagel, Surabaya.

Setelah 27 tahun kepergiannya, pemerintah baru memberikan gelar pahlawan nasional kepada Bung Tomo pada tahun 2008. Sangat terlambat memang, tetapi kepahlawanan Bung Tomo telah diakui sejarah jauh sebelum gelar itu resmi disematkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here