Buntut Catut Saldo, Bank Mandiri Timbang Kerjasama Dengan Gojek

1
269
Pemilik dan sekaligus CEO PT Gojek Indonesia telah menggagas bisnis aplikasi yang diendorse transportasi, sedang bersengketa dengan PT Bank Mandiri Tbk terkait rencana pengenaan pungutan Rp2.500 atas saldo top up Gopay

Nusantara.news, Jakarta – Sengketa produk digital mulai muncul, menyusul sikap Gojek yang mencatut nama PT Bank Mandiri Tbk, saat akan memotong saldo Gopay sebesar Rp2.500 per pengisian saldo (top up).

Sengketa ini berawal ketika para nasabah Gopay–salah satu produk unggulan Gojek dalam bentuk deposit—mendapat short message service (sms) rencana pemotongan setiap pengisian saldo. Setiap pelanggan Gojek akan dikenakan potongan sebesar Rp2.500 per penambahan saldo atau top up via Bank Mandiri.

Celakanya, dalam sms kepada setiap pelanggan, kebijakan pemotongan saldo Gopay itu mengatasnamakan Bank Mandiri. Pemotongan mulai berlaku pada 15 September 2017.

“Atas kebijakan baru Bank Mandiri, nilai pengisian saldo GO-PAY Anda akan dipotong Rp2.500 oleh Bank Mandiri per 15 September 2017.” Demikian isi pesan singkat tersebut yang dikirimkan pada 13 September 2017. Pesan itu disampaikan dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan Inggris.

Tentu saja para pelanggan kaget, terutama para pelanggan yang melakukan top up hanya Rp10.000, Rp50.000 atau Rp100.000 ke Gopay lewat Bank Mandiri. Rerata pelanggan keberatan dengan potongan itu, karena pada dasarnya saldo Gopay itu adalah uang titipan nasabah dan tidak ada transaksi apapun, hanya menggeser dananya di rekening bank ke saldo Gopay.

Nasabah akan menggunakan dana titipannya di Gopay ketika menggunakan jasa Gojek, Gocar, Go Send dan lainnya. Ketika jasa itu dipakai, maka saldo Gopay nasabah akan berkurang, namun nasabah diuntungkan karena Gojek memberi diskon khusus bagi pengguna pembayaran lewat Gopay.

“Jadi atas alasan apa Gojek memotong Rp2.500? Sebagai pajak, jasa, biaya administrasi atau uang preman? Saya ngisi Gopay seminggu bisa tiga kali,” kata pengguna jasa Gopay, Niken Wulansari kepada Nusantara.News.

Berbeda halnya dengan pelanggan yang sekali melakukan top up saldo mencapai Rp500 ribu atau Rp1 juta, potongan Rp2.500 tidak menjadi beban yang merisaukan.

“Ya jamak lah kalau dipotong Rp2.500 setiap kali top up. Hitung-hitung pajak atau pungutan atas jasa yang diberikan Gopay,” kata pelanggan Gojek, Ronal Ramdani kepada Nusantara.News.

Dibantah Mandiri

Pertanyaannya, apakah sms itu benar hasil kesepakatan Gojek dengan Bank Mandiri? Atau hanya klaim sepihak Gojek saja?

Ternyata pihak Bank Mandiri membantah pengenaan biaya administrasi tersebut. Menurut Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas, perseroan tidak mengizinkan pengenaan beban biaya tambahan ke konsumen dalam konteks Gopay

“Tidak ada pengenaan biaya ke customer. Kami tidak memperkenankan pengenaan biaya seperti itu,” katanya ketika dikonfirmasi.

Rohan menjelaskan pihaknya tidak bernegosiasi dengan manajemen Gojek soal potongan saldo top up. Secara tegas ia menyatakan bahwa beban administrasi tidak dapat dikenakan ke konsumen yang juga merupakan nasabah Bank Mandiri.

“Kami sudah surati Gojek bahwa biaya itu tidak boleh di-pass through ke konsumen. Ini analoginya mirip dengam toko yang masih membebani konsumen kartu kredit padahal kami tidak memperbolehkan,” jelas Rohan.

Rohan sendiri masih belum memastikan apakah akan tetap mempertahankan atau memutus kerja sama dengan Gojek. PT Bank Mandiri Tbk akan memanggil manajemen Gojek untuk meminta klarifikasi atas pernyataan tersebut.

“Nanti kami pertimbangkan apa yang sebenarnya terjadi, setelah kami berbicara dengan Gojek,” jelasnya.

Sedangkan Public Relation Manager PT Gojek Indonesia, Rindu Ragilia seperti kurang paham. Dia justru bertanya kembali mengenai bantahan dari Bank Mandiri.

“Boleh diinformasikan [Mandiri] membantahnya bagaimana ya mas?” ujarnya. Namun, Rindu berjanji segera mengecek kebenaran kabar tersebut secepat mungkin.

“Kalau ada update kami segera kabari, ” ujarnya.

Beberapa kemungkinan

Melihat struktur masalah antara Bank Mandiri dan Gojek di atas, tampaknya ada kemungkinan yang bisa terjadi.

Pertama, potongan saldo top up Gopay itu tidak pernah ada. Artinya sms Gojek itu hanya akal-akalan mencatut nama Bank Mandiri agar potongan Rp2.500 itu menjadi legal.

Kalau ini yang terjadi, maka secara bisnis Gojek tidak etis dan cenderung mencari untung di atas nama besar Bank Mandiri di hadapan nasabahnya yang sekaligus pelanggan Gojek. Makanya atas tindakan tidak etis ini bisa saja Bank Mandiri menghentikan kerjasama dengan Gojek, maklum bank adalah industri trust, industri kepercayaan.

Ketika kepercayaan sudah disalahgunakan, bahkan digunakan untuk mencari tambahan income sepihak, maka setiap saat kepercayaan itu dicabut.

Kedua, bisa saja ada komunikasi antara Bank Mandiri dan Gojek untuk mengenakan potongan sebesar Rp2.500, namun formatnya belum selesai didiskusikan. Hanya saja Gojek sudah mendahului lewat pengumuman sms-nya kepada setiap pelanggan.

Ini pun masih masuk kategori tidak etis, harusnya kesepakatan itu di-drafting secara jelas dan disepakati kedua belah pihak sebelum di-publish.

Ketiga, bisa jadi sms mengenai pungutan Rp2.500 itu dilakukan pihak ketiga yang mengetahui rencana tersebut. Tujuan pihak ketiga itu adalah dalam rangka merusak hubungan bisnis antara Bank Mandiri dan Gojek.

Manakah dari ketiga kemungkinan di atas yang sebenarnya terjadi? Tentu semua berpulang pada keterbukaan antara Bank Mandiri maupun Gojek, terutama kejujuran salah satu atau keduanya.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here