Buntut Sanksi Amerika, Rusia Gelar Latihan Militer Besar-besaran

0
82
Vladimir Putin pada acara Hari Angkatan Laut Rusia di St Petersburg, Juli 2017. Foto: TassBarcroft Images

Nusantara.news – Hubungan Rusia-Amerika kembali menegang setelah pemerintahan Donald Trump, yang sebelumnya begitu akrab dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin, menjatuhkan sanksi baru. Padahal, Putin awalnya berharap bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan AS di era Trump, namun rupanya kondisi politik AS tidak memungkinkan untuk itu. Hubungan dekat Trump-Putin malah dikritik habis kalangan Amerika. Putin pun geram, lalu mengusir ratusan diplomat AS yang prosesnya akan berakhir hingga awal bulan nanti.

Bulan September nanti, Rusia akan menggelar latihan militer besar-besaran yang berlokasi di Rusia dan di negara tetangga sebelah barat yang merupakan sekutu terkuatnya di Eropa Timur, Belarusia. Ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi dunia Barat. Konon, Rusia akan mengerahkan sekitar 100 ribu tentara, meskipun duta besar Rusia untuk NATO, Aleksander Grushko, mengatakan hanya akan melibatkan sekitar 13 ribu tentara saja, batas yang dibolehkan internasional.

Jika benar, maka latihan gabungan tentara Rusia yang dilabel Zapad 17 ini adalah yang terbesar setelah berakhirnya Perang Dingin. Latihan rencananya akan dilangsungkan di distrik militer di sebelah barat Rusia, yaitu Kaliningrad, perbatasan antara dua negara.

NATO saja, rencana latihan terbesarnya tahun ini, Trident Javelin 17, yang akan berlangsung 8-17 November hanya akan melibatkan 3.000 tentara. Trident Javelin 17 adalah untuk mempersiapkan latihan tahun depannya lagi yang konon lebih besar, bernama Trident Juncture 2018, yang melibatkan sekitar 35.000 tentara.

Selama perang dingin, Zapad merupakan latihan-latihan terbesar Uni Soviet dan melibatkan kira-kira 100 ribu sampai 150 ribu personil. Namun setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia tidak pernah lagi melakukannya hingga tahun 1999 dan setelah itu rutin dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Tahun 2017 ini direncanakan yang terbesar.

Inikah jawaban Putin atas sanksi baru yang dijatuhkan Amerika?

Moskow menampik jika latihan militer besar-besaran itu untuk menanggapi sanksi terbaru AS. Menurut mereka Zapad 17 adalah latihan rutin setiap empat tahun sekali yang telah terjadwal sejak lama, bukan reaksi atas sanksi AS.

Namun demikian, menurut Daniel Kochis, analis kebijakan untuk urusan Eropa di The Heritage Foundation Margaret Thatcher Centre for Freedom, sebagaimana dilansir The Daily Signal, rencana latihan militer besar-besaran Rusia di Belarusia, sebuah negara kecil di Eropa Timur itu, menyebabkan kekhawatiran di antara negara-negara tetangganya.

Belarusia adalah negara bekas Uni Soviet yang diperintah oleh Presiden Alexander Lukashenko yang otokratis sejak tahun 1994. Lukashenko bahkan disebut sebagai “diktator terakhir di Eropa,” yang memberlakukan peraturan ketat di seluruh negeri.

Lembaga penelitian Freedom House mengklasifikasi Belarusia sebagai negara yang “tidak bebas” dan mencatat bahwa negara tersebut adalah negara otoriter yang dengan kebebasan sipil yang sangat minim.

Bulan Juni lalu, Presiden Donald Trump memperpanjang sanksi AS terhadap Lukashenko dan elite penguasan Belarusia lainnya karena tindakan dan kebijakan mereka telah merusak proses demokrasi atau institusi Belarusia, dan dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia terkait represi politik, dan terlibat dalam praktik korupsi.

Belarusia sejauh ini adalah sekutu Rusia, meskipun hubungannya dengan negeri beruang merah itu juga pasang-surut. Kadang-kadang mereka bertengkar juga. Misalnya, Belarusia menolak permintaan Rusia untuk membangun pangkalan udara di negara itu.

Belarusia adalah satu-satunya mantan anggota Uni Soviet yang menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa pertama mereka dan telah berkembang sejak perpecahan Uni Soviet.

Kerja sama militer merupakan komponen kunci dari hubungan kerja sama Rusia dan Belarusia dan terus berlangsung hingga sekarang.

Benarkan Rusia akan mengerahkan 100 ribu tentara?

Mantan Panglima Tertinggi NATO Jenderal Philip Breedlove memperkirakan bahwa latihan besar-besaran itu akan melibatkan 100 ribu tentara, sehingga seharusnya menjadi perhatian serius NATO. Negara-negara Barat seperti Estonia, Latvia, Lituania, dan Polandia juga terus “mengintip” perkembangan latihan yang mengkhawatirkan tersebut. Zapad sendiri berarti “Barat”.

Brigadir Jenderal Angkatan Udara John Healy baru-baru ini menyatakan, Rusia tidak transparan terkait rencana latihan Zapad dan tidak melibatkan negara-negara Barat untuk mengamati.

Markas NATO di Brussels juga belum memiliki rencana untuk menanggapi manuver Rusia tersebut. Seorang pejabat NATO mengatakan, “NATO akan memantau secara ketat latihan  Zapad 17 tapi tidak merencanakan latihan besar lainnya (tandingan). Latihan kami direncanakan jauh hari sebelumnya dan tidak terkait dengan latihan Rusia.”

Wakil presiden AS, Mike Pence, pernah membahas tentang Zapad 17 dalam sebuah kunjungan ke Estonia bulan Juli lalu, dan menyebut kemungkinan penerapan sistem pertahanan rudal Patriot AS di negara itu. AS juga mengatakan dapat menempatkan pasukan tambahan ke Eropa timur selama latihan Rusia berlangsung.

Kekhawatiran soal reaktor nuklir

Sebetulnya, latihan militer bukanlah satu-satunya kekhawatiran, negara-negara Baltik itu juga khawatir mengenai pembangunan reaktor nuklir Rusia di daerah Astravets, Belarusia yang berjarak 12 mil dari perbatasan Lituania dan hanya 24 mil dari ibu kota Lithuania Vilnius.

Bekerja sama dengan Belarusia, selain latihan militer, Rusia juga berencana membangun sebuah reaktor nuklir di negara tersebut, lokasinya di sekitar perbatasan Belarusia dan Lithuania.

Pembangkit nuklir akan mendinginkan reaktor dengan memanfaatkan air dari Sungai Neris, sungai yang juga dipergunakan untuk menyediakan kebutuhan air di kota-kota Lithuania seperti Kaunas dan untuk air minum di Vilnius.

Pemerintah Lithuania protes karena Belarusia belum pernah melakukan studi dampak lingkungan yang tepat untuk reaktor tersebut, sehingga proyek tersebut menurut mereka harus dihentikan karena ketidakpatuhan proyek terhadap standar internasional untuk melindungi lingkungan dan keselamatan dari nuklir,” di samping alasan-alasan lain.

Sejumlah kecelakaan dalam pembangunan reaktor menjadi perhatian serius, termasuk sebuah laporan tentang jatuhnya tungku reaktor seberat 330 ton saat pemasangan.

“Reaktor nuklir itu merupakan salah satu ancaman terbesar bagi negara kita,” kata Perdana Menteri Lituania Saulius Skvernelis bulan Juni lalu.

Ancaman lebih besar lagi mungkin bukan tentang masalah lingkungan, tapi secara politik keberadaan reaktor nuklir itu semakin memperkuat posisi Rusia di Belarusia yang membuat negara itu menjadi lebih bergantung pada energi Rusia setelah proyek tersebut selesai. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here