Bursa Efek Terkapar Trump Tak Lagi Berkoar

0
313
Para trader memelototi valuasi bursa efek yang nilainya anjlok setelah meroket dalam satu tahun terakhir

Nusantara.news, New York – Index harga saham di Wall Street bertumbangan, bahkan amblas ke titik yang lebih parah ketimbang saat terjadinya krisis 2008. Sebut saja pada Senin (5/2) kemarin, index Dow Jones Industrial Average turun hingga 1.175 poin. Angka itu lebih tinggi ketimbang saat kejatuhan Dow Jones pada krisis 2008 yang hanya 777,68 poin.

Kejatuhan Dow Jones pada 2008 terjadi setelah Kongres menolak rencana bailout perbankan senilai 700 miliar dolar AS paska bangkrutnya bank investasi Lehman Brother. Wall Street juga pernah bergejolak pada peristiwa “Black Monday” Agustus 2011 ketika Standard & Poor’s menurunkan peringkat kreditnya di AS.

Kebanggaan Trump

Saat indeks harga saham di bursa efek AS ditutup melemah hingga 4,6% atau pada level 24,345 tiba-tiba Presiden AS Donald Trump sama sekali tidak menyinggung bursa efek saat berkunjung ke Ohio. Padahal saat harga saham meroket Trump selalu berkoar membanggakan kinerja ekonomi pemerintahannya.

Pergerakan harga saham Dow Jones dalam satu tahun terakhir

Selama ini siapa pun Presiden AS memang menghindari berbicara soal bursa efek. Barrack Obama sesekali memang bicara bursa efek. Tapi setelah ekonomi AS bergerak ke arah pemulihan. Tidak seperti Trump yang dalam pidato kenegaraannya pekan lalu masih berkoar tentang melejitnya harga saham.

“Pasar saham terus mencetak rekor satu ke rekor lainnya, menguntungkan 8 triliun dolar lebih dalam priode waktu yang singkat,” ucapnya.

Memang, sudah semestinya Presiden AS tidak mengulas secara langsung apa yang sedang menjadi kecenderungan di Wall Street. Gene Sperling, penasihat ekonomi era Presiden Bill Clinton dan Barack Obama menilai Trump berbulan-bulan telah keliru memfokuskan begitu besar ke pasar saham.

“Sekalipun pasar saham naik tiga kali lipat semasa pemerintahan Bill Clinton, pandangan Clinton adalah Anda harus selalu fokus ke kebijakan Anda dan pesan publik Anda pada masalah sehari-hari rakyat, sebaliknya fokus ke pasar saham akan membuat Anda membutakan diri dari ekonomi riil,” kenang Sperling kepada Reuters.

Juru Bicara Gedung Putih Raj Shah berusaha menghibur diri saat menumpang Air Force One bersama Trump terbang ke Ohio. Kepada wartawan Raj Shah berkata, “Lihat, pasar berfluktuasi dalam jangka pendek. Kita semua tahu itu. Tapi fundamental perekonomian ini sangat kuat dan sedang menuju arah yang benar.”

Redam Inflasi

Selama berpidato di sebuah pabrik di Blue Ash, Ohio, Trump sama sekali tak menyinggung pasar saham. Ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya sebelum indeks Dow Jones rontok ke titik terendah sejak 2008.

Para pembantunya di Gedung Putih pun berusaha meyakinkan pasar. “Fokus Presiden adalah pada fundamental ekonomi jangka panjang kita, yang tetap sangat kuat.” Gejala itu disebut ekonom di Gedung Putih karena investor AS bereaksi terhadap perubahan prospek ekonomi AS dan global, dan apa artinya biaya pinjaman.

Jerome Powell saat Dilantik menjadi Ketua the Fed pada Senin (5/2) kemarin

Bursa efek mencatatkan penjualan saham besar-besaran sejak Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (2/5) lalu merilis kenaikan upah. Jika gaji naik akan mendorong tingkat konsumsi yang tinggi dan rentan inflasi.

Untuk menghindari inflasi Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga yang membuat investor cemas. Para investor berharap, The Fed menaikkan suku bunga dua atau tiga kali di 2018 ini.

Tapi yang jelas, turunnya Down Jones telah menyeret yang lain. Indeks saham S & P 500 turun 4,1%. Begitu juga indeks teknologi berat Nasdaq turun 3,7%. Di bursa efek London, indeks FTSE 100 juga turun hingga 1,46% ataau melemah 108 poin.

Sell-off sepanjang Senin kemarin didorong oleh perusahaan yang bergerak menjual saham untuk memasukkan lebih banyak uang ke dalam aset seperti obligasi yang mendapat keuntungan dari kenaikan suku bunga, tutur Erin Gibbs, manajer portofolio untuk S & P Global Market Intelligence.

“Ini bukan keruntuhan ekonomi, ini bukan kekhawatiran bahwa pasar tidak akan berjalan dengan baik, atau perusahaan Amerika tidak akan berhasil dengan baik,” ujar Erin.

Bahkan Erin menyebut bahwa “Ini adalah kekhawatiran ekonomi sebenarnya berjalan lebih baik dari yang diperkirakan dan jadi kita perlu mengevaluasi kembali.

“Pertumbuhan global yang lebih kuat telah mendorong bank sentral di Eropa, Kanada dan tempat lain untuk meringankan kebijakan yang diterapkan untuk merangsang ekonomi setelah krisis keuangan. Perlu dicatat di sini, hari Senin (5/2) kemarin Jerome Powell dilantik sebagai ketua baru Federal Reserve AS (the Fed).

Pasar menurun, yang menyebar secara global, menggarisbawahi tantangan yang dihadapi bankir dan bankir lainnya – untuk membuat keputusan yang menopang pertumbuhan ekonomi tanpa mengkhawatirkan investor.

Gejolak Poco-Poco

Sejak terpilih menjadi Presiden AS pada November 2016, Presiden Donald Trump telah tweet beberapa kali tentang kenaikan pasar saham AS. Kenaikan harga saham itu dimaksimalkan menjadi sesuatu yang menguntungkan dirinya secara politik.

Trump dan Penasehat Senior Gedung Putih sekaligus menantunya Kushner

Sebut saja pada tanggal 7 Januari, dia menulis: “Pasar Saham telah menciptakan keuntungan luar biasa bagi negara kita dalam bentuk tidak hanya Record Setting Harga Saham, tapi sekarang dan masa depan Jobs, Jobs, Jobs. Tujuh triliun dolar nilai yang tercipta sejak pemilihan besar kita. menang!”

Namun tiba-tiba Dow Jones yang diharapkan menjadi tulang punggung kebangkitan industri AS nilainya mengempis hingga sepertiga dari jumlah kenaikan sejak Trump berkuasa pada Januari 2017.

Kini investor harus bersiap membiasakan diri menghadapi pasar yang fluktuatif (choppy stock market), ulas Jason Draho yang bekerja di UBS Wealth Management Americas. “Perbedaan antara tahun ini dan tahun lalu adalah kita akan melihat lebih banyak periode volatilitas seperti ini karena pasar bereaksi terhadap inflasi yang lebih tinggi,” ujarnya.

“Kami tidak terbiasa dengan hal itu karena sudah lama sekali kami mengalami koreksi yang signifikan,” beber Draho. Dan sekarang ini, imbuhnya, investor tampaknya telah bersiap menghadapi penurunan setelah berbulan-bulan meraih keuntungan.

Di tengah terpuruknya pasar pada Senin kemarin, situs web untuk beberapa perusahaan yang mengelola uang besar ikut-ikutan oleng. Sejumlah perusahaan di Wall Street juga mengungkap, mereka telah menerima telepon dari orang-orang yang khawatir dengan investasi mereka.

Tentu saja Indonesia perlu pasang kuda-kuda mengantisipasi krisis yang semoga saja hanya berjalan insidental. Paling tidak para pelaku usaha di dalam negeri akan membiasakan diri menghadapi tarian harga saham, seketika naik dan seketika turun, namun akan selalu kembali ke titik awal sebagaimana tarian poco-poco. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here