Buruh China Banjiri Indonesia, Sudahkah Pulang?

0
213

Nusantara.news, Jakarta – Dua tahun terakhir, negeri ini dibanjiri warga negara asing (WNA) khususnya asal Cina. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkum HAM, sepanjang tahun 2016 saja ada 8,9 juta orang asing yang masuk Indonesia. Apakah mereka sudah kembali ke negaranya atau masih berada di Indonesia?

Maraknya WN asal Cina tersebut dimungkinkan dengan terbitnya UU No.6/2011 tentang Keimigrasian yang menghapus kewenangan kepolisian sebagai institusi pengawas orang asing (POA). Sebagai gantinya, dibentuk Timpora (tim pengawasan orang asing) yang dikoordinir oleh Dirjen Imigrasi yang memiliki personil khusus pengawasan dan penindakan (Wasdakim) terbatas tak sampai 100 petugas.

Apa dampak negatif dari serbuan WN Cina ke Indonesia?

Dampak ekonomi

Sebelum menjawab hal itu, perlu diketahui bahwa jumlah penduduk Cina saat ini berdasarkan data dari CIA (Central Intelligence Agency) World Factbook Tahun 2016, menempati urutan teratas di dunia, yakni sekitar 1,37 milliar jiwa atau tepatnya adalah 1.373.541.278 jiwa. Jumlah tersebut merupakan 18,8% dari keseluruhan jumlah penduduk dunia ini. Adapun luas wilayahnya 9.596.961 km2.

Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, tentu bukan hal mudah bagi Pemerintah Cina untuk   menghidupi dan mensejahterakan rakyatnya. Di antara kebijakan yang memungkinkan untuk dilakukan adalah mengerahkan warganya untuk ekspansi ke negara lain, misalnya menjadi tenaga kerja. Bila hal itu tidak dilakukan, bisa dibayangkan bagaimana miliaran orang di satu wilayah terbatas harus berjuang memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.

Karena itu, tak heran Pemerintah Cina langsung merespon tawaran Pemerintah Indonesia untuk kembali membuka jalur sutra kedua negara. Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat pidato dalam forum “Indonesia-China, Trade, Investment, and Economic Forum”, di Beijing, China pada 9 November 2014, tak lama setelah ia dilantik menjadi Presiden RI.

Di hadapan para pengusaha Indonesia dan Cina, Jokowi mengundang Cina untuk menginvestasikan dananya dalam sejumlah proyek besar di Indonesia, di antaranya kereta cepat, pembangunan fasilitas listrik di Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Serta sejumlah proyek lain yang menggiurkan.

Tawaran kerjasama itu seakan menjadi solusi bagi Cina untuk menjawab kebutuhan miliaran rakyatnya. Untuk itu,  Wakil Perdana Menteri Cina Liu Yandong melakukan kunjungan balasan pada tanggal 27 Mei 2015. Bertempat di Auditorium FISIP UI, Yandong menyatakan Cina akan mengirimkan banyak warga negaranya untuk datang ke Indonesia sebagai bentuk kerjasama kedua negara.

Ucapan Yandong terbukti, kini jutaan WN Cina sudah membanjiri Indonesia.

Kehadiran buruh asal Cina itu tentu menjadi pesaing bagi jutaan rakyat Indonesia yang masih membutuhkan pekerjaan tersebut.

Nah, di sinilah kekhawatiran itu muncul. Sebab, kedatangan TKA Cina sebagai buruh di proyek yang digarap pengusaha Cina itu jelas mengambil hak jutaan rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai buruh. Kondisi ini lambat laun akan menimbulkan gesekan dan bisa berujung bentrokan fisik antara TKA Cina dengan pribumi. Apalagi, upah yang diterima TKA Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan buruh pribumi.

Seperti diungkapkan pihak Polda Banten beberapa waktu lalu bahwa ada 70 buruh kasar asal Cina yang datang secarara ilegal dibekuk di Serang. Kasubdit I Indag Ditkrimsus Polda Banten AKBP Dani Arianto mengungkapkan, ada buruh yang diupah hingga Rp15 juta per bulan.

Buruh asal Cina yang jumlahnya 70 persen lebih banyak dari pada buruh lokal itu ikut dalam proyek pembangunan pabrik semen di Pulo Ampel, selain menjadi buruh, ada juga TKA yang bekerja sebagai staf di kantor dengan gaji Rp20 juta hingga Rp 25 juta per bulan. Saat itu, pihak kepolisian menemukan bukti mereka bekerja mengenakan seragam PT Indonesia River Engineering.

Begitupun yang terungkap di Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sekitar 200 TKA ilegal asal Cina bekerja sebagai buruh kasar pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain jumlah TKA Cina yang dominan, juga upah mereka lebih besar yakni Rp5 juta per bulan sedangkan buruh lokal hanya sekitar Rp1.5 juta per bulan.

Proyek pembangunan PLTU yang berkapasitas 2×150 MW tersebut dikerjakan oleh PT Mabar Elektrindo Medan bekerja sama dengan perusahan asal China, Sanghai  Electric Power Contruction CO. LTD.

 

Dampak terhadap keamanan negara

Untuk soal gangguan keamanan negara, sudah terbukti dengan penangkapan empat WNA asal Cina menyewa 4 ribu hektar lahan di Bogor yang ditanami cabai mengandung bakteri. Hasil pemeriksaan petugas, dua dari empat WN Cina diketahui tidak memiliki paspor dan dua lainnya menyalahgunakan visa.

Cabe yang berbakteri itu rencananya akan dijual ke pasar-pasar lokal. Tak terbayangkan bagaimana jika sampai cabai itu dikonsumi. Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Antarjo Dikin mengungkapkan bibit cabai itu terinfeksi bakteri erwinia chrysantemi atau organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1.

Antarjo Dikin menyatakan sesuai UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina, 4 petani China tersebut terancam pasal berlapis, selain imigrasi juga kena pasal pelanggaran UU Karantina. Apalagi kalau mereka terbukti jadi pengedar benih itu.

Mereka terancam maksimal penjara 3 tahun dan denda maksimal Rp 150 juta. Namun, hingga saat ini, kelanjutan kasusnya sudah tidak diketahui.

Kasus lain yang banyak melibatkan imigran gelap asal Cina adalah kejahatan ciber dan penyelundupan narkoba.

Pakar hukum tata negara, Prof Yusril Ihza Mahendra sudah mengingatkan soal ancaman dari serbuan WN Cina tersebut khususnya terhadap keamanan negara.

Yusril mengaku khawatir sebab tidak ada yang bisa menjamin soal latar belakang setiap WN Cina yang masuk ke Indonesia. Bisa jadi, mereka tantara, intelijen atau bahkan ahli sabotase.

Sebab di Cina berlaku wajib militer. Jika para pekerja Cina adalah tentara yang diselundupkan untuk pada saatnya akan digunakan untuk menginvasi negara ini, siapa yang tanggung jawab? []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here