Buruh Jatim Tolak Kehadiran TKA Cina

0
216

Nusantara.news, Surabaya –  71 tahun lamanya Indonesia merdeka setelah 350 tahun dijajah oleh Belanda. Revolusi 1998 dianggap sebagai tonggak bersejarah bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang berkembang dan lebih baik lagi bebas dari penjajahan. Kini, dalam waktu dua tahun saja Indonesia sudah kembali dijajah oleh Komunis Cina, apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?

Sadar atau tidak sadar. Faktanya, Indonesia akan dijadikan Indocina. Mau bukti? Lihat saja, selama dua tahun terakhir isu penampakan komunis yang lekat dengan lambang palu arit sudah mulai meresahkan warga. Bahkan imigran Cina eks tentara merah juga mulai merangsek ke Indonesia.

Proyek reklamasi yang dibekingi oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama salah satu bentuk ekspansi Cina yang ingin menjajah Indonesia. Belum termasuk pembentukan ormas-ormas yang digawangi oleh Cina-cina di Indonesia. Fenomena terbaru saat ini duit recehan dan uang kertas rupiah sudah mirip dengan duit Yuan yang notabene adalah mata uang negeri Tirai Bambu. Apakah Bangsa Indonesia rela dijajah kembali seperti penderitaan 350 tahun lamanya.

Seperti tema lagu grup band papan atas Armada Band yang berjudul mau dibawa kemana. Masyarakat bertanya-tanya mau dibawa kemana Negara Kesatuan Republik Indonesia era kepemimpinana Presiden Joko Widodo. Bahkan sindiran yang ramai berkembang di media sosial (medsos) dengan slogan “Enak Jamanku Toh?” seakan menjadi fakta perbandingan era rezim Soeharto dan Jokowi.

Di Jawa Timur, penolakan terhadap pekerja asing sudah mulai terasa sekali. Berdasarkan data fakta dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jatim ada 3.460 TKA yang masuk ke Jawa Timur. Sementara di surabaya, dari data yang berhasil dihimpun sudah mencapai 500 orang dan tersebar dibeberapa perusahan daerah maupun pemerintah.

Dari jumlah itu, Kabupaten Gresik menjadi salah satu tujuan penempatan TKA oleh berbagai perusahaan. Data Disnaker Gresik menyebutkan bahwa jumlah TKA di Gresik saat ini mencapai 375 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 48 orang TKA bekerja untuk Wuhuan Engineering Co. Ltd yang merupakan salah satu kontraktor proyek Amoniak-Urea (Amurea) II milik PT Petrokimia Gresik (PG).

Gresik Tolak TKA asal Cina

Di gresik, membanjirnya Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal asal Cina  tanpa ada tindakan tegas sehingga membuat buruh lokal marah. Selasa (20/12) kemarin, sejumlah federasi buruh di Gresik menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menolak TKA asal Cina bukan tenaga ahli yang dipekerjakan di Gresik. Termasuk keberadaan puluhan buruh kasar asal Cina yang mengerjakan proyek Amorea II milik PT Petrokimia Gresik.

Selain menolak keberadaan TKA ilegal asal Cina, federasi buruh tersebut meminta Pemkab Gresik melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Gresik, untuk memanggil perusahaan yang telah mempekerjakan TKA ilegal itu, karena ditengarai melanggar UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Hal ini dikemukakan oleh federasi buruh Gresik dalam sebuah aksi unjuk rasa yang digelar di sepanjang jalan Dr Wahidin Sudirohusodo hingga di depan Kantor Disnakertrans dan Kantor Bupati Gresik Sambari Halim. Salah satu koordinator aksi, Arpin Sirait, mengatakan buruh lokal menolak keras keberadaan TKA asal Cina bukan tenaga ahli untuk bekerja di Gresik.

Sebab, tenaga kasar lokal masih banyak. Bahkan jumlahnya ribuan yang belum mendapat ruang kerja di Gresik. Karena itu, aksi kali ini sampaikan agar Bupati Gresik menyikapi secara serius terkait keberadaan TKA asal China tersebut. “Kita berani menolak TKA ilegal masuk di Gresik supaya perusahaan yang beroperasi di Gresik, memberdayakan buruh lokal. Jangan justru berafiliasi dengan TKA apalagi TKA China tenaga kasar yang ilegal. Ini sangat melukai hati buruh lokal,” ujarnya.

Sementara Direktur Teknik & Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Arif Fauzan menyatakan Amurea II merupakan salah satu proyek strategis pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan nasional. Hal ini berdasarkan pada Instruksi Presiden (Inpres) RI nomor 2 Tahun 2010 tentang Revitalisasi Industri Pupuk.

Proyek ini lanjut Arif Fauzan, tendernya dimenangkan oleh konsorsium kontraktor asal China Wuhuan Engineering Co. Ltd bersama kontraktor nasional PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan nilai proyek mencapai USD 523 juta. “Dalam kontrak kerjasama disebutkan bahwa penggunaan tenaga kerja, sepenuhnya menjadi tanggungjawab kontraktor,” tuturnya.

Data per November 2016 menyebutkan bahwa total pekerja proyek Amurea II mencapai 1.645 orang. Jumlah ini terdiri dari 1.597 orang pekerja lokal dan 48 orang TKA China. Seluruh pekerja asing tersebut telah mengantongi kartu izin tinggal sementara (KITAS) dan sah untuk bekerja di Indonesia.

“Sebanyak 17 TKA asal China di proyek Amurea II saat ini sedang proses perpanjangan KITAS. Sebagai konsekuensi, maka pekerja asing tersebut tidak diperbolehkan masuk dan bekerja di area PG. Kontraktor wajib mengurus proses administratif tersebut sampai selesai agar mereka dapat kembali masuk dan bekerja di lingkungan proyek,” ungkap Arif Fauzan.

Soekarwo Klaim Lemahnya Pengawasan Inteljen

Menanggapi demo buruh di Gresik terkait penolakan TKA asal Cina, Gubernur Jawa Timur Soekarwo  menilai akibat lemahnya pengawasan dari inteljen. Orang nomor satu di Jatim ini mengakui penegakan Perda No.8 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan di Jatim masih lemah.

Karena itu dalam waktu dekat akan dibicarakan bersama Komisi A dan Komisi E serta pimpinan DPRD Jatim, Biro Hukum Pemprov Jatim, dan Dekan Fakultas Hukum beberapa Perguruan Tinggi di Jatim terkait sistem pengawasan yang terbaik. “Jatim bukan kebobolan Tenaga Kerja Asing karena kasusnya sudah seluruh Indonesia. Ini pekerjaan intelijen, tahun 2017 nanti perda penyelenggaraan tenaga kerja baru bisa dioptimalkan,” jelas Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo.

PB NU Prihatin Maraknya TKA asal Cina

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) merasa prihatin seiring dengan membludaknya tenaga asing yang masuk ke Indonesia. Meski belum ada pasti yang dirilis oleh pemerintah, namun kehadiraannya sudah meresahkan seiring dengan banyaknya pengangguran dengan maraknya tenaga asing mengaku prihatin dengan banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Meskipun belum ada data pasti yang dirilis pemerintah, seharusnya hal tersebut tidak terjadi karena masyarakat Indonesia juga masih banyak yang menganggur. Hal ini meresahkan masyarakat.  

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini mengatakan, menurut data yang dimiliki PBNU, tenaga kerja asing telah tersebar di Indonesia. Padahal di tengah masyarakat masih banyak terdapat pengangguran terbuka. “Ini meresahkan,” katanya pada jumpa pers di gedung PBNU Jakarta Selasa (20/12).

Ia mengemukakan, tahun ini terjadi kasus, polisi menangkap 70 tenaga kerja asal Tiongkok di sebuah pabrik semen. Pabrik tersebut mempekerjakan 30 persen tenaga kerja lokal dan 70 persen tenaga kerja asing. Bayaran yang mereka terima pun sangat besar dibanding buruh lokal. Buruh asing mendapat 15 juta per bulan sementara buruh lokal 2 juta.

“Rata-rata tenaga kerja lokal menadapat bayaran 200 ribu. Sementara tenaga kerja asing sekitar 500 ribu. Sementara penggangguran cukup tinggi. Perekonomian Indonesia juga merosot jauh. Kegiatan ekspor berkurang, pendapatan dan daya beli masyarakat menurun, sementara harga-hara masih tinggi,” jelasnya.

Atas dasar itu, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj menyampaikan, PBNU mendesak kepada pemerintah agar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang tercantum pada sila kelima. Kedua, kata dia, mengingatkan kepada pemerintah dan pengusaha untuk memperhatikan kembali hal-hal yang mendasar sebelum mempekerjakan tenga asing di Inonesia.

“Pemerintah harus sensitif menjaga perasaan rakyat dan mengkaji ulang kebijakan pembangunannya bila dalam prakteknya tidak menjadikan rakyat sebagai partnernya. Serta  mendorong pemerintah aktif membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dan memperkuat negosiasi kesepakatan dalam kerja sama investasi,” ujar pengasuh pesantren Al Tsaqafah ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here