Buruh Spanyol Mogok di Hari Perempuan Internasional

0
59
Perempuan di Spanyol menyerukan pemogokan dan boikot belanja di hari Kamis, 6 Maret ini.

Nusantara.news, Madrid – Buruh perempuan di Spanyol memperingati Hari Perempuan Internasional dengan melakukan pemogokan selama 24 jam pada Kamis Pahing (8/3) ini. Mereka menuntut kesetaraan gender dan dihapuskannya diskriminasi seksual. Gerakan mereka didukung oleh 10 Serikat Pekerja dan para politisi perempuan di negeri itu.

Dalam pawai massal yang dihadiri ribuan buruh itu, para perempuan pekerja meneriakan slogan, “jika kita berhenti, dunia berhenti”. Hari Perempuan iInternasional tu memang diperingati oleh sejumlah negara – termasuk Indonesia. Tapi gerakan buruh perempuan di negeri matador terasa istimewa, karena belum pernah terjadi sebelumnya di negeri itu.

Gerakan itu juga menghimbau kepada seluruh perempuan di Spanyol untuk tidak membelanjakan uang dan menghentikan aktivitas pekerjaan rumah tangga di hari itu. Akibatnya terjadi pembatalan 300 tiket kereta api pada Kamis itu, ujar Kementerian Transpotasi. Selain itu jaringan kereta bawah tanah di Madrid juga terganggu.

Dalam Twitter perusahaan McDonald mengunggah logo M menjadi W seperti tampak pada gambar

Pemogokan itu diorganisir oleh Komisi 9 Maret. Dalam manifesto yang dibagikan ke masyarakat mereka menuntut terwujudnya “masyarakat yang bebas dari penindasan seksis, eksploitasi dan kekerasan” – sekaligus mengatakan : “Kami tidak menerima kondisi kerja yang lebih buruk atau dibayar dengan upah yang lebih sedikit dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama.”

El Pais – media Spanyol – menyebutkan dalam jajak pendapat di antara 1500 pembaca surat kabar El Pais tercatat 82% setuju pemogokan itu, sedangkan 76% di antaranya menyebut perempuan di Spanyol menjalani kehidupan yang lebih keras ketimbang laki-laki.

Para penggiat Feminism hanya menginginkan perempuan mogok – sekaligus menunjukkan betapa pentingnya ketidak-hadiran mereka. Namun Undang-Undang di Spanyol memang tidak memungkinkan pemogokan gender tanpa adanya dukungan dari laki-laki.

Tapi ada juga yang menentang pemogokan itu. Partai kanan-tengah yang sedang berkuasa – Partido Popular (Partai Rakyat) – mengecam tindakan itu hanya untuk “kaum elite feminist” dan bukan para perempuan sejati yang memiliki masalah sehari-hari.

Pendapat yang berbeda dikemukan 2 di antara 5 menteri di pemerintahan konservatif Spanyol – masing-masing Menteri Pertanian Isabel Garcia Tejerina dan Presiden Wilayah Madrid Cristina Cifuentes. Kedua menteri itu tampaknya mendukung pemogokan dengan cara “mengamati hari kerja” untuk memerintah.

Akibat pemogokan yang meluas di Spanyol itu, aktris papan dunia Penelope Cruz membatalkan acara umum yang direncanakan karena dia akan melakukan “mogok kerja”. Aksi itu juga didukung oleh Walikota Madrid Manuela Carmena dan Walikota Barcelona Ada Colau.

Karena memang perempuan di Spanyol hanya dibayar 13-19% lebih sedikit dari laki-laki – baik di sektor public maupun swasta, sebagaimana dikutip dari operator statistik Uni Eropa “Eurostat”.

Perayaan di Negara Lainnya

Hari perempuan Internasional tidak bisa disepelekan perannya dalam mengubah sejarah dunia. Demonstrasi perempuan di Petrograd, Rusia, pada 8 Maret 1917 adalah pemicu terjadinya Revolusi Bolshevik di Rusia. Padahal, tanggal 8 Maret itu diperingati untuk mengenang peristiwa demonstrasi pertama yang dilakukan buruh perempuan tekstil di New Yor pada 8 Maret 1857 yang dibubarkan secara paksa oleh polisi.

Saat Uni Soviet masih eksis – Soviet beserta sekutu dan negara komunis lainnya merayakan 8 Maret sebagai hari perempuan. Selanjutnya pada tahun 1977, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional sebagai perayaan tahunan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

D tahun 2018 ini, The International Woman’s Day diperingati hampir di semua negara. Presiden Indonesia Joko Widodo juga menyampaikan ucapan selamat kepada semua perempuan di Indonesia – meskipun tidak ada demonstrasi yang gahar seperti di belakahan dunia lainnya. Berikut hal-hal menarik perayaan Woman’s Day di sejumlah negara :

Di Italia, sekelompok perempuan penganut Katolik bertemu di Roma – menuntut sebuah keputusan yang lebih besar dari penguasa Vatikan. Namun daftar pembicara yang tampil membuat marah Gereja. Paus Fransiskus menolak hadir atau sekedar merayakan misa.

Seorang mantan Presiden Irlandia Mary McAleese menggambarkan Gereja Katholik sebagai “Kerajaan Misogyny”.

Di China sejumlah aktivis perempuan marah dengan ungkapan sebuah ritel yang menyebut Hari Perempuan Internasional sebagai “Queens Day” atau “Goddesses Day” sekaligus menawarkan diskon menarik untuk sejumlah produk kosmetik.

Ada pun perempuan di Korea Selatan melakukan demonstrasi menentang pelecehan perempuan dan memegang spanduk gerakan bertaggar #MeToo di Seoul.

Sejumlah perempuan di Ukraina memulai sebuah drive di Facebook dengan menyabut “Saya bukan kekasih Anda” sebagai tanggapan atas penggunaan istilah “kekasih” oleh Presiden Petro Poroshenko kepada reporter perempuan di negara itu.

Kejadian unik terjadi Perancis. Harian Libération yang terbit di negara itu menaikkan harga khusus di hari Perempuan Internasional. Tapi yang dikenai kenaikan harga hanya pembeli laki-laki. Sedangkan perempuan tetap membayar dengan harga standar 2 Euro. Sedangkan laki-laki – sebagai protes atas perbedaan gaji laki-laki dan perempuan di Perancis harus membayar 50 sen lebih mahal.

Ada hal unik lainnya. Twitter resmi milik @McDonaldsCorp dengan taggar InternationalWomenDay membalik logo M menjadi W yang diunggah khusus di hari perempuan sebagaimana terlihat pada gambar.

Karena memang, hak-hak perempuan di seluruh dunia – termasuk di negara-negara yang dianggap maju seperti Perancis dan Spanyol – masih harus terus diperjuangkan. Penyebabnya tak lain budaya patriarki yang bersemayam kuat di berbagai belahan dunia. Padahal Sorga di Telapak kaki Ibu – alias perempuan yang paling kita sayangi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here