Buruh Vs Robot Memakan Korban PHK di Karawang

1
436
Penggunaan robot atau mesin dalam proses produksi dan jasa pelayanan adalah ancaman nyata bagi keberadaan tenaga kerja manusia

Nusantara.news, Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Karawang, Selasa (23/1) kemarin malam merilis data tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) di daerahnya yang mencapai 29.352 per 31 Desember 2017. PHK itu diduga karena pabrik-pabrik di Karawang mulai menggunakan robot untuk proses produksinya.

Angka PHK terbesar menimpa buruh yang bekerja di sektor tekstil, sandang dan kulit. Data yang diungkap KADIN itu diolah berdasarkan keterangan resmi BPJS Ketenagakerjaan Karawang. Di antara 29.352 buruh yang kena PHK, tutur Ketua KADIN Karawang Fadludin Damanhuri, tercatat 17.477 karena mengundurkan diri dan 11.875 diberhentikan oleh perusahaannya.

Kondisi itu bisa ikatakan kontradiktif apabila dikaitkan dengan iklim investasi di Kabupaten Karawang yang dikabarkan terus meningkat. Tentu saja PHK itu akan memicu permasalahan sosial di Kabupaten Karawang yang selain penghasil beras juga sudah menjadi kawasan Industri di pantai utara Jawa Barat.

Fadel meyakini tingginya angka PHK disebabkan oleh tingginya Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang ditetapkan sebesar Rp 3,9 juta. Angka itu disebut Fadel tertinggi secara nasional dan bahkan tertinggi di Asia Tenggara untuk ukuran kabupaten kecil seperti Karawang. Akhirnya para investor berhitung ulang dengan tingginya UMK itu.

“Jelas, UMK tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Kami bersama Apindo berharap ke depannya perwakilan dari pelaku usaha dilibatkan aktif dalam menentukan UMK,” pintanya.

Tingginya UMK itu, lanjut Fadel, disiasati dengan menerapkan teknologi robotik. Kalau gejala itu terus berkembang niscaya akan menggerus jumlah tenaga kerja manusia. Tantangan itu, pinta Fadel, mesti menjadi perhatian pemerintah dalam membuat regulasi yang melindungi tenaga kerja manusia.

“Perlu diketahui, sekarang ini ada sebuah perusahaan bonafit di kawasan industri Karawang yang karyawannya dari CEO sampai cleaning service hanya 45 orang. Karyawannya sedikit sekali karena sudah mengaplikasikan sistem robotik,” ungkap Fadel.

Gejala Mengkhawatirkan

Praktek penggantian tenaga kerja manusia dengan mesin sebenarnya sudah tidak asing lagi di Indonesia. Sejak perusahaan secure parking hingga pengelola jalan tol dan perbankan sudah menerapkan itu. Tidak mengherankan apabila aktivis Malari 1974 Hariman Siregar menyebut Bank Central Asia yang selama 15 tahun assetnya tumbuh 6 kali lipat namun tenaga kerjanya satu pun tidak bertambah.

Di China sendiri yang tenaga kerja manusianya melimpah juga mengalami hal sama. Perusahaan sekelas Foxconn di negeri tirai bambu sejak tahun lalu sudah gencar memaksimalkan perakitan telepon seluler (Ponsel) dengan menggunakan robot yang menggantikan buruh manusia.

Mengutip dari berita yang beredar pada Januari 2016, General Manajer Automation Technology Development Committee Foxconn Dai Ji-peng mengungkap perusahaannya per tahun memproduksi 10 ribu robot. Yang sudah beroperasi 40 ribu robot. Hingga Maret 2016 Foxconn menyebut sudah 60 ribu pekerjaan yang digantikan robot. Tahun 2020 diperkirakan ada 30 persen pekerjaan di China yang diserobot oleh robot.

Bahkan robot Foxconn di pabriknya Kota Zhengzhou sudah mampu memproduksi 500 ribu unit ponsel bermerk iPhone. Tidak lama lagi lebih dari setengah produksi iPhone akan dikerjakan oleh robot. Gejala ini tentu saja akan menjadi pesaing utama tenaga kerja di China yang jumlahnya sangat melimpah.

Pabrik sepatu Adidas asal Jerman juga tidak mau ketinggalan. Tahun 2017 lalu pabrik sepatu yang brandingnya mendunia itu mengumumkan akan memproduksi sepatu dengan tenaga kerja robot yang akan diproduksi, bukan di negara-negara Asia, melainkan di Jerman. Presiden Eksekutif Adidas Herbert Hainer kepada The Guardian menyebut prototip baru “Speedfactory” yang akan diproduksi di kawasan industri Ansbach, Jerman

Keputusan itu tentunya akan berpengaruh pada “kelangsungan hidup” pabrik-pabrik sepatu Adidas di Asia yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Alasan utama digunakannya robot di pabriknya Ansbach yang menepati lahan seluas 4.600 meter persegi adalah kecepatan produksi ketimbang menggunakan buruh-buruh sepatu di Asia.

Sebagai pilot project tahun lalu, mesin pembuat sepatu Adidas sudah mampu memproduksi 500 pasang sepatu. Tentu saja ini belum sebanding dengan produksi sepatu Adidas yang tahun 2015 saja mencapai 310 juta pasang. Produksi Adidas bertemakan Speedfactory juga akan dibangun di Amerika Serikat. Sebab Adidas memerlukan tambahan produksi 30 juta pasang sepatu lagi untuk memenuhi target produksi tahun 2020.

Sektor-Sektor Korban Mesinisasi

Mengutip hasil riset Organisasi Buruh Internasional (ILO/International Labor Organization) di tahun 2016 lalu, penggunaaan mesin atau robot dalam proses produksi akan mengancam 242,2 juta (56%) buruh di seluruh Asia Tenggara.

Ancaman nyata akan menggerus tenaga kerja manusia di sektor otomotif, garmen, retail, hingga bisnis outsourcing. Kebanyakan sektor usaha itu dimiliki oleh perusahaan-perusahaan multi-nasional yang membangun pabrik di Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Kamboja.

Tercatat 73 persen buruh di Thailand dan 60 persen buruh di Indonesia akan terkena imbas mesinisasi tenaga kerja di sektor otomotif. Sedangkan di sektor elektronik, mesinisasi tenaga kerja akan mengancam 81 persen buruh di Filipina, 75 persen buruh di Vietnam, 74 persen buruh di Thailand dan 63 persen buruh di Indonesia.

Ada pun di industri retail mesinisasi tenaga kerja akan menggerus pekerjaan 88 persen buruh di Filipina, 85 persen buruh di Indonesia, 71 persen buruh di Kamboja dan 68 persen buruh di Thailand. Dan untuk sektor garmen ancaman menyasar 88 persen buruh Kamboja, 86 persen buruh Vietnam dan 64 persen buruh Indonesia. Terakhirm di sektor outsourcing mesinisasi tenaga kerja akan mengancam 89 persen buruh Filipina.

Itulah sebenarnya tantangan ketenaga-kerjaan yang secara nyata sudah memakan korban di Karawang dan mungkin juga di sejumlah kawasan industri lainnya seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Medan, Makassar, Sidoarjo dan seterusnya. Di sinilah sebenarnya peran pemerintah untuk melindungi tenaga kerja manusia diperlukan.

Namun yang terjadi pemerintah, melalui BUMN justru ikut menikmati penghilangan tenaga kerja manusia sebagaimana kita lihat di gerbang-gerbang tol di seluruh Indonesia.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here