Buya Hamka, Ulama Besar yang Menyolatkan Jenazah Sang Proklamator

2
1448
Disebut Bahwa Di Mekkah Banyak Wanita Nakal, Jawaban Buya Hamka Sungguh Mengejutkan

Nusantara.news, Jakarta – Meskipun pernah dipenjarakan oleh Soekarno, tapi tidak terbersit dendam di hatinya. Bahkan ulama yang juga piawai dalam filsafat dan sastra inilah yang menyolatkan jenasah sang Proklamator.

Itulah sekilas tentang keteladanan tokoh yang lahir di desa Kampung Molek, Maninjau – Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Nama aslinya adalah Abdul Malik Karim Amrullah, dan setelah menunaikan ibadah haji menjaddi Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang selanjutnya disingkat dengan nama HAMKA.

Selain dikenal sebagai tokoh Masyumi, Buya Hamka dikaruniai keberkahan multi-talenta. Sebagai sastrawan, karyanya berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi karya yang banyak diulas hingga saat ini. Sebagai ulama tidak diragukan lagi keulamaannya, bukunya “Tafsir Al Azhar” adalah karya yang cukup menjelaskan luasnya pengetahuan Buya yang karena kemahirannya berbahasa Arab berkemampuan menyelidiki karya-karya ulama terkenal Timur Tengah

Buya adalah nama sebutan bagi orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati dan dituakan.

Padahal secara formal Buya hanya mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau hingga kelas dua. Atau kalau di Jawa dikenal dengan sebutan Sekolah Ongko Loro. Ketika usianya menginak 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang.

Di situlah Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Selain itu, ia juga mengenyam pendidikan non formal (agama) di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Pengakuan atas kecendekiawanan Buya adalah gelar Doktor Kehormatan/ Doctor Honoris Causa yang diberikan Universitas al-Azhar pada tahun 1958. Gelar yang sama juga diberikan oleh Universitas Nasional Malaysia pada tahun 1974. Dia juga dikukuhkan menjadi Guru Besar di  Universitas Moestopo (beragama) di Jakarta. Tidak itu saja, Hamka juga  diabadikan menjadi nama sebuah Universitas milik PP Muhammadiyah di Jakarta.

Sumbangsihnya untuk bangsa dan negara membuat dirinya menjadi salah seorang yang masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Ia juga diberi gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Seorang Pendidik

Sebagai seorang pendidik Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Pada tahun 1957 hingga tahun 1958 Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah.

Setelah itu, Hamka diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, penulis novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama di Kementerian Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno memintanya untuk memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang pembelajar yang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, Hamka dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah. Kemahirannya menguasai berbagai macam bahasa, membuat Hamka dapat meneliti karya-karya sarjana Eropa seperti Albert Camus, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Antonio Gramsci.

Hamka juga dikenal rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Nasional seperti HOS Tjokroaminoto, Haji Fachrudin, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Rekam Jejak Gerakan Hamka dengan Nafas Islam

Buya Hamka terjun dalam dunia politik dan menjadi aktivis gerakan. Partai Masyumi adalah wadah perjuangannya hinggapartai pemenang pemilu ke-2 setelah PNI pada Pemilu 1955 ini dibubarkan oleh pemerintah. Selain di partai, Buya Hamka adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama saat organisasi ini dibentuk oleh pemerintah.

Hamka mewarisi semangat kharismatik ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1906.

Dalam dunia politik Hamka memulai kegiatan politiknya pada tahun 1925 ketika ia menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, ia terjun ke lapangan dengan membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan.

Sejak ia bergabung dengan Masyumi ia dikenal sebagai orator ulung. Sejak tahun 1955 Hamka menjadi anggota Dewan Konstituante mewakili Masyumi hingga dibubarkannya dewan ini melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960, karena diduga terlibat melakukan makar pada pemerintahan Indonesia, terutama terkait dengan peristiwa pemberontakan PRRI di Sumatera serta DII/TII di Aceh dan Jawa Barat.

Hamka dan Bung Karno

Pada tahun 1964 hingga 1966, Hamka sempat dipenjarakan oleh pemerintahan Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjara, ia mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Soekarno wafat di tahun 1970. Utusan keluarga Soekarno mendatangi Buya Hamka membawa surat yang isinya berisi wasiat dari sang Proklamator agar Buya HAMKA mengimami shalat jenazahnya. Dengan kemuliaan akhlaknya, Buya HAMKA langsung mengiyakan wasiat Sekarno itu. Ia mengimami shalat jenazah Bung Karno–lawan politik yang pernah menjebloskannya ke penjara.

Buya HAMKA menolak pandangan yang menyatakan tidak perlu melakukan hal itu karena Bung Karno adalah musuh politik dan telah memenjarakannya. Tapi Buya Hamka punya pendapat sendiri tentang hal ini. Ada dua alasan yang disampaikan Buya. Pertama, hanya Allah yang tahu seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, saat ajal menjemput Soekarno, ia tetap seorang muslim. Kedua, ada dua buah masjid monumental bagi umat Islam di Indonesia, Masjid Baitur Rahim di kompleks istana dan masjid Istiqlal, yang berdiri atas jasa Soekarno. Dengan demikian, Buya HAMKA mengenyampingkan kesalahan Bung Karno padanya, dan lebih melihat dan memilih sisi baiknya.

Itulah hubungan unik antara kedua manusia tersebut. Hamka dan Soekarno sendri saling mengenal secara pribadi dengan sangat baik. Bahkan di suatu kesempatan Soekarno menyatakan secara terbuka tentang kekagumannya terhadap Buya Hamka, sebagaimana Buya Hamka sendiri pernah menyatakan di Sidang Konstituante bahwa ia bangga punya Presiden Soekarno.

Dakwah sebagai Wahana Membentuk Karakter Umat

Tidak hanya itu Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan di Padang Panjang.

Sejak tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia pun menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Karena pengalaman berkecimpung di dunia gerakan melalui embrio organisasi Islam Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1953. Saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dibentuk oleh Menteri Agama Prof. Dr. Mukti Ali pada 26 Juli 1977, Buya Hamka ditunjuk sebagai Ketua Umum yang dijalaninya hingga tahun 1981.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.

Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Hamka juga menghasilkan sebuah karya dengan nuansa Islami seperti buku, novel dan cerpen, yang berjumlah ± 80 judul dan karya tulis terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar yang diterbitkan dalam 5 jilid.

Hamka wafat pada 24 Juli 1981. Namun jasa dan pengaruhnya masih terasa hingga kini dalam mentransformasikan agama Islam dalam kehidupan sosial. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negeri kelahirannya, melainkan juga di seluruh penjuru Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura.

Rekam jejak Buya Hamka dalam dunia politik, pelopor gerakan, dan membuat karya dengan semuanya diselipkan nuansa Islam. Hal tersebut dilakukan dalam misinya untuk membangun negeri dengan semangat dan nafas Islam, karena Islam (Agama) baginya senantiasa harus selalu ada dan muncul dalam tindak perilaku dan kehidupan setiap umat yang ber-Islam (ber-Agama). []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here