Cabai Impor Sudah Merambah Ujung Timur Madura

0
73

Nusantara.news, Sumenep – Melambungnya harga cabai akhir-akhir ini menjadi ladang emas pemasok komoditi pengganti asal luar. Kendati di tingkat provinsi belum ada kepastian siapa pemain yang memasok cabai impor ke Jawa Timur, namun di pasar-pasar tradisional keberadaannya sudah merambah luas, seperti yang terjadi di Kabupaten Sumenep.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten paling timur Pulau Madura ini, mengungkap temuan cabai impor di dua pasar tradisional di Kecamatan Kota, yakni Pasar Anom Baru dan Pasar Bangkal Baru. “Itu sesuai laporan dari staf kami yang memantau harga komoditas di dua pasar tersebut,” ujar Kabid Perdagangan Disperindag Sukaris kepada media, Senin (27/2/2017).

Laporan itu, terang Sukaris, tidak diikuti dengan temuan di pasar tradisional lainnya. Namun bisa jadi ada temuan yang belum dilaporkan karena Disperindag Sumenep memantau harga komoditas setiap hari hanya di Pasar Anom Baru sebagai lokasi utama dan Pasar Bangkal Baru sebagai pembanding. “Jumlahnya tidak terlalu banyak. Kami menduga pedagang di Pasar Bangkal Baru itu memasok cabai impor dari pedagang di Pasar Anom Baru,” terangnya.

Jika dibandingkan, harga cabai impor memang jauh lebih murah. Di Pasar Anom Baru maupun Pasar Bangkal Baru komoditas ini dijual seharga Rp70 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah kecil biasa tetap Rp140 ribu per kilogram.

Harga itu masih lebih murah dibanding pantauan di pasar tradisinal Senenan, Bangkalan yang mencapai Rp160 ribu per kilogram. Cabai lokal ini merupakan pasokan dari Jawa yang masuk melalui Surabaya dan sebagian dari wilayah utara Bangkalan. Namun jika diambil rata-rata, harga cabai rawit lokal di Bangkalan berkisar antara Rp140 ribu sampai Rp160 ribu per kilogramnya.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan Bangkalan Budi Utomo, naiknya harga cabai memang  membuat resah pedagang makanan maupun pengusaha kuliner. Sebab tingkat kepedasan cabai rawit lokal jauh lebih tinggi dibanding cabai impor. Di samping itu, cabai rawit lokal merupakan salah satu bahan utama makanan favorit orang Madura.

“Makanya, hingga kini kami terus mencari solusi, terkait persoalan ini. Ada rencana impor, tapi kami kurang setuju, karena belum diketahui pasti apakah persediaan cabai kita memang kurang memadai, atau, kenaikan ini terjadi karena permainan pasar,” katanya.

Ia menjelaskan, di sejumlah daerah memang telah ditemukan adanya cabai impor dengan harga jauh lebih murah yakni antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram, namun di Bangkalan belum ada. “Kami tidak berharap ada cabai impor masuk. Sebab, jika itu terjadi, jelas akan merugikan petani cabai kita,” terang Budi Utomo. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here