Cabut Nobel Aung San Suu Kyi, Mungkinkah?

1
634
Aktivis Kaum Profesional bagi Kemanusiaan Rohingya membentangkan poster bergambar Penasehat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi saat beraksi di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta, Sabtu (2/9). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Hingga Senin (4/9) pukul 17.34 tercatat 294.428 netizen tercatat menanda-tangani petisi bertajuk “Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi” yang ditayangkan laman change.org. Petisi itu diunggah pertama oleh Emerson Yuntho sejak dua hari yang lalu.

Sejumlah politisi, budayawan, akademisi dan kaum profesional tercatat menanda-tangani petisi yang ditujukan kepada The Norwegian Nobel Committee 2016, dan keenam orang di dalamnya, meliputi Chair of the Nobel Committee Kaci Kullman Five, Deputy Chair of the Nobel Committee Berit Reiss-Andersen,  dan keempat orang anggota masing-masing Inger-Marie Ytterhorn, Henrik Syse, Thorbjorn Jagland, dan Olav Njolstad.

Penandatangan petisi antara lain anggota DPR-RI Teguh Juwarno dan Erwin Moeslimin, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Andrinof A Chaniago, Ray Rangkuti, Didik J Rachbini, Happy Bone Zulkarnain, Ifdhal Kasim, Hamid Basyaib, Fadjroel Rachman, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalia, dan masih banyak lagi.

Pada pengantarnya Petisi itu mengungkap, “Data dari European Rohingya Council (ERC) menyebutkan 3000 ribu warga Muslim Rohingya terbunuh selama tiga hari, antara 25-27 Agustus lalu. Desa tempat mereka tinggal pun dibakar. Militer pemerintahan berdalih bahwa ini merupakan upaya memberantas terorisme.”

Petisi itu juga menyayangkan sikap pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi yang tidak melakukan upaya apapun untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di negerinya. Akibatnya, kini banyak warga Muslim Rohingya yang mengungsi dan terdampar di perbatasan Bangladesh. Paling tidak, berdasarkan data Organisasi Migrasi Internasional (International Organization of Migrant/IOM) tercatat 18.445 warga Muslim Rohingya yang mengungsi.

Bahkan petisi ini menuding Suu Kyi sebagai peraih Nobel Perdamaian bersikap rasis. Saat diwawancara oleh BBC pada 2013 Suu Kyi mengeluarkan ucapan yang terkesan bernada anti Islam. “Tak ada yang memberi tahu bahwa saya akan diwawancarai oleh seorang muslim,” ucap Suu Kyi yang kesal saat ditanya penderitaan umat muslim di Myanmar oleh presenter acara BBC Today Mishal Husain.

Sebagai pejuang Demokrasi dan peraih Nobel Perdamaian 2012, tandas Petisi ini, pernyataan Suu Kyi yang bernada rasis memang hanya satu kalimat. Namun maknanya sangat mendalam bagi setiap orang yang mencintai perdamaian. Terlebih Suu Kyi tampil sebagai icon Pejuang Demokrasi yang banyak dikagumi oleh warga dunia, termasuk Indonesia.

Dalam tiga tahun terakhir tercatat 140 ribu etnis Muslim Rohingya hidup sengsara di kamp pengungsi Myanmar dan di berbagai negara. Kini pembantaian besar-besaran dilakukan oleh militer Myanmar dan Suu Kyi sebagai penguasa de facto tidak mengeluarkan pernyataan appun terhadap kejahatan kemanusiaan di negerinya.

Untuk itu petisi ini mendesak Ketua Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian yang telah diberikan kepada Suu Kyi. Sebab nilai-nilai perdamaian harus tetap dijaga oleh penerima Nobel Perdamaian, termasuk Suu Kyi, hingga akhir hayatnya.

Desakan Terus Mengalir

Seruan pencabutan Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi juga datang dari Masyarakat Profesional bagi Kemanusiaan Rohingya. “Aung San Suu Kyi sangat tidak pantas menerima Nobel Perdamaian. Untuk itu kami mendesak Komite Hadiah Nobel mencabut gelar itu,” kecam Andi Sinulingga saat aksi di depan pintu gerbang Kedutaan Myanmar, Sabtu (2/9) lalu.

Kecaman juga datang dari selebritis 1980-an Neno Warisman yang sekarang memimpin Gerakan Ibu Negeri (GIN). Neno, sebagaimana dikutip dari laman hidayatullah.com dengan tegas mendesak Komite Nobel mencabut penghargaan yang diterima Suu Kyi. Neno yang melakukan aksi di Car Free Day, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (3/9) kemarin selaku pelaku penggiat ketahanan keluarga yang mewakili para ibu di Indonesia mengecam dengan keras perlakuan pemerintah dan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya.

Gubernur terpilih DKI Jakarta Anis Baswedan juga ikut mendesak Komite Nobel mencabut penghargaan yang telah diterima Suu Kyi. Keputusan Anis, akunya, didorong oleh empati yang mendalam setelah menonton video berdurasi 4 menit 36 detik. “Maka sungguh disayangkan, tidak dapat diterima dan tidak dapat dipahami ketika seorang peraih Nobel Perdamaian hanya berdiri diam, tidak bertindak dan mengabaikan kekejaman ini,” kecam Anies.

Kecaman terhadap Suu Kyi memang terus mengalir di tanah air. Pertanyaannya, mungkinkah Nobel Prize yang telah diberikan oleh Komite Nobel yang orang-orangnya berganti setiap tahun bisa dicabut? Dalam sejarahnya memang belum pernah ada penerima hadiah Nobel yang dicabut. Kesulitan utama yang mungkin muncul adalah keputusan Komite Nobel tidak bisa diganggu gugat,

Sebagaimana dikutip dari laman NobelPrize.org pada anggaran dasar Nobel Foundation pada Pasal 10 tertulis. “tidak ada banding dapat dilakukan terhadap keputusan badan pemberi hadiah (Nobel Committee) terkait pemberian hadiah.” Publik juga tidak dapat mengakses dokumen proses pemberian hadiah kepada seseorang sejak usulan, pengecekan dan pendapat-pendapat terkait dengannya.

Namun untuk tujuan riset, bukan pembatalan hadiah, public dapat mengakses dokumen setelah 50 tahun sejak pemberian hadiah Nobel diberikan kepada seseorang. Sebut saja Suu Kyi yang menerima Nobel Perdamaian pada 2012, dokumen baru dapat dibuka setelah 2062.

Kontroversi Hadiah Nobel

Suu Kyi bukan tokoh pertama yang hadiah nobelnya dipermasalahkan. Bahkan Presiden AS Barrack Obama, sebagaimana dikutip dari BBC 17 September 2015  yang juga penerima Nobel Perdamaian pernah dimasalahkan oleh banyak orang. Pendukung Obama sendiri menyebut pemberian Nobel Perdamaian itu terlalu dini karena Obama belum menunjukkan prestasi apapun dalam menjaga perdamaian dunia.

Selain Obama ada lima kontroversi lainnya terkait Hadiah Nobel. Pertama, tahun 2011, Ralph Steinman yang sudah meninggal dunia, bersama Jules Hoffman dan Bruce Beutler meraih Nobel untuk penemuan prinsip yang memicu pengaktifan sistem kekebalan tubuh. Persoalannya, berdasarkan Anggaran Dasar hadiah tidak bisa diberikan setelah seseorang meninggal. Namun hadiah tetap diberikan karena Dewan Yuri tidak tahu kalau penerima sudah meninggal karena kanker beberapa hari sebelum diputuskan.

Kedua, Nobel pernah diberikan kepada Fritz Haber, pembuat pupuk amoniak, pada 1918. Ini bukan masalah. Tapi masalahnya Haber juga disebut sebagai Bapak Senjata Zat Kimia yang mengembangkan senjata beracun Chlor yang digunakan saat Perang Dunia I. Ketiga, selain Haber yang diungkit karena senjata Kimia, Otto Hahn pemenang Nobel Kimia pada 1945 juga banyak diungkit banyak orang atas penemuan fisik nuklir yang digunakan AS mengebom Hiroshima dan Nagasaki.

Keempat, keputusan kontroversial Komite Nobel juga terjadi pada 1948, saat Ilmuwan Swiss Paul Muller dianugerahi Nobel Kedokteran untuk temuan DDT untuk membunuh nyamuk. Memang penggunaan peptisida pada Perang Dunia II menyelamatkan banyak nyawa. Tapi kini DDT dilarang di seluruh dunia karena langsung mengancam kesehatan manusia dan binatang.

Kelima, Nobel Perdamaian tahun 1994 diberikan kepada Ketua PLO Yasser Arafat, PM Israel Yitzhak Rabin dan Menlu Israel Shimon Peres. Tujuannya bagus, medorong perdamaian Timur Tengah. Namun faktanya Rabin dibunuh oleh garis keras Yahudi pada 1995. Perdamaian pun gagal karena sejak itu hubungan Israel-Palestina justru semakin meruncing.

Selain ketujuh kontroversial di atas, termasuk Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Obama dan Suu Kyi, hal yang tidak kalah kontroversial adalah Komite Nobel tidak pernah memberikan hadiah kepada Mahatma Gandhi, tokoh pejuang anti kekerasan asal India yang diakui dunia. Padahal selama hidupnya, Gandhi sudah lima kali masuk nominasi penerima Nobel.

Kenyataan itu diakui oleh anggota Komite Nobel 2006 Geir Lundestad. “Dalam 106 tahun sejarah kita, kesalahan terbesar adalah tidak memberkan hadiah Nobel Perdamaian kepada Mahatma Gandhi,” akunya pada sebuah acara 106 Tahun Hadiah Nobel.

Jadi desakan dan seruan pencabutan Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi pada 2012 adalah mustahil. Tapi sebagai sebuah gerakan, bolehlah. Karena ke-6 orang Komite Nobel adalah manusia juga. Wasit sepakbola saja pernah salah mengesahkan gol tangan Tuhan Maradona, apalagi Komite Nobel.[]

1 KOMENTAR

  1. Nasib Rohingya memang memilukan, tapi hiruk-pikuk berita tentang Rohingya ada yg salah dimengerti. Benarkah ini konflik agama? Mungkin ini saatnya kita kembali duduk, lalu fokus pada upaya2 utk membantu secara kemanusiaan. Apa yg bisa kita perbuat utk meringankan beban mereka? Drpd bikin gerakan yg tdk langsung memberi pengaruh pd kesengsaraan mereka!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here