CAD Sehari, Longsorkan Rupiah yang Sedang Bulan Madu

0
344
Defisit transaksi berjalan (current account deficit--CAD) yang selama ini sering dijadikan alasan melemahnya rupiah, belakangan ditampik oleh BI. Penyebab pelemahan rupiah hari ini menurut BI lebih karena dinamika global, tepatnya perlambatan ekonomi China. Masa sih?

Nusantara.news, Jakarta – Hujan sehari, menghapus kemarau setahun. Itulah peribahasa yang kerap kita dengar. Tapi ini bukan peribahasa, ini nyata. Masa bulan madu penguatan rupiah dari Rp15.260 ke level Rp14.550 harus kembali tertekan.

Dalam dua pekan terakhir rupiah benar-benar sedang berbulan madu terhadap dolar  karena menguat signifikan 1% terhadap dolar AS. Ternyata penguatan rupiah ini tidak berkelanjutan, kalau boleh dibilang, dikhawatirkan rupiah kembali di atas level Rp15.000 per dolar AS.

Pagi ini rupiah dibuka melemah di level Rp14.735 per dolar AS. Bahkan siang hari, selepas pembukaan sesi pertama, menurut www.xe.com (XE Currency) rupiah terus terdepresiasi kembali ke level Rp14.829,93 per dolar AS.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka melemah 8,41 poin ke posisi 5865,74. Pada perdagangan pembukaan sesi kedua IHSG terus tertekan ke level 5826,10.

Pelemahan rupiah dan IHSG hari ini diperkirakan terkait erat sebagai dampak dari pengumuman Bank Indonesia (BI) terkait Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk kuartal III/2018.  BI mengumumkan transaksi berjalan mengalami defisit US$ 8,846 miliar atau 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini merupakan yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Defisit tertinggi terakhir ada di periode kuartal  II/2014, dimana defisit saat itu mencapai US$9,113 miliar atau 4,2% dari PDB.

Membengkaknya defisit itu sendiri, menurut BI dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama,  defisit neraca perdagangan migas yang melebar mencapai US$3,528 miliar atau naik US$767 juta dibandingkan kuartal II/2018. Ini merupakan defisit tertinggi setidaknya dalam 5 tahun terakhir

Sementara harga minyak global yang naik jadi penyebab utama meningkatnya defisit migas. Selama kuartal III/2018, harga minyak jenis Brent yang jadi acuan naik hingga 4,13% hingga menyentuh di atas level US$80 per barel

Sebagai negara net importir minyak, peningkatan harga minyak global jadi beban. Dampaknya mendorong defisit perdagangan migas ikut melebar.

Kedua, kenaikan defisit neraca perdagangan jasa. Pada kuartal III/2018 defisit perdagangan jasa melebar menjadi US$2,215 miliar atau naik US$359 juta. Sebagai catatan, defisit Ini merupakan defisit tertinggi sejak kuartal IV/2017.

Ketiga, peningkatan defisit neraca pendapatan primer. Pada kuartal III/2018, defisit pendapatan primer mencapai US$8,026 miliar atau naik US$9 juta dolar. Seperti halnya defisit neraca perdagangan jasa, defisit pendapatan primer merupakan yang tertinggi sejak kuartal IV/2017.

Ketiga hal tersebut yang menyebabkan pelebaran defisit transaksi berjalan di kuartal III/2018. Dampak dari rilis data tersebut, diperkirakan akan terus berlangsung hingga pekan mendatang. Terutama dampak itu dirasakan pada pelemahan rupiah dan IHSG.

Bukan dampak CAD

Sementara Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah berpendapat bahwa pelemahan rupiah dan IHSG awal perdagangan pekan ini bukan karena faktor pelebaran CAD. Pelemahan ini lebih disebabkan oleh dinamika perekonomian global, khususnya didorong oleh perlambatan ekonomi China.

“Pelemahan Rupiah hari ini sejalan dengan melemahnya seluruh mata uang regional, dipicu sentiment negatif atas indikasi pelemahan ekonomi China dan reaksi pemerintah Italia yang belum akan melakukan penyesuaian budget plan sesuai dengan permintaan Uni Eropa,” demikian sanggah Nanang.

Kesemua dinamika global ini, menurutnya, mememicu pelepasan saham mulai dari pasar modal AS ke pasar Asia, aksi beli surat obligasi pemerintah AS sebagai instrumen yang aman (flight to quality), dan menurunnya harga komoditas.

Menurutnya sampai siang hari ini, BI melihat terjadi capital outflow atau dana keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Namun volumenya masih relatif kecil.

Menurut Reuters, Menteri Keuangan China Liu Kun mengatakan pemerintah akan memberikan stimulus pajak untuk menggairahkan dunia usaha Negeri Tirai Bambu. Bentuknya adalah pengurangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) badan dan kewajiban perpajakan bagi eksportir.

Pelaku usaha China memang sedang lesu. Ini terlihat dari dua data teranyar yaitu inflasi di tingkat grosir (Producer Price Index–PPI) dan penjualan mobil.

Inflasi tingkat produsen di China pada Oktober 2018 tercatat 3,3% secara tahunan, melambat dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya yaitu 3,6%.

Sementara penjualan mobil pada Oktober 2018 turun 11,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi dalam 4 bulan berturut-turut. Bahkan penurunan Oktober 2018 menjadi yang terdalam sejak Januari 2012.

Dengan pemberian stimulus, meski belum ada elaborasi lebih lanjut, pasar keuangan China kembali bergairah.

Lepas dari sanggahan BI, fenomena pelemahan rupiah terhadap dolar AS, termasuk jatuhnya IHSG hari ini, memang ada sebab-sebab internal maupun sebab eksternal. Itu sebabnya apologetik BI bahwa pelemahan rupiah dan IHSG lebih disebabkan oleh faktor eksternal nampaknya tidak masuk akal.

Kombinasi dari pelebaran CAD dan faktor eksternal, sebagaimana selama ini terjadi, menjadi pemicu melemahnya kedua indikator perekonomian ini membaik atau memburuk. Itu sebabnya, pemerintah diminta untuk kembali memperbaiki struktur ekspor-impor agar outputnya menjadi surplus transaksi berjalan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here