Cak Nun: Hanya Indonesia yang Berani Letakkan Dasar Negara Berketuhanan

0
350
Cak Nun memeluk salah seorang jamaah maiyah dalam peringatan HUT RI ke-72 di halaman Gedung DPRD Surabaya. (Foto: NN/Agus A Wicaksono)

Nusantara.news, Surabaya – Suasana berbeda ditampilkan dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 di kalangan politisi di DPRD Kota Surabaya. Jika dua tahun sebelumnya digelar acara wayangan, di tahun ini mereka mengundang Cak Nun dan Kiai Kanjeng untuk sinau kebangsaan. Mengkaji situasi bangsa dan negara saat ini, temanya juga cukup relevan: Pancasila Jiwa Kita.

Dalam momentum itu, Cak Nun membedah banyak literasi dan wawasannya tentang Pancasila. Budayawan bernama asli Emha Ainun Nadjib ini menjelaskan bertahap mulai dari tinjauan etimologis kata Pancasila. Panca berarti lima, sedang Sila dalam bahasa Kawi adalah pratingkah atau perilaku.

“Sila itu buka silo (duduk bersila). Sila itu rangkaian, tautan. Jadi Pancasila itu adalah lima isi yang saling bertautan. Ini sudah benar. Mana ada negara di dunia yang berani menampilkan dasar negaranya berisi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hanya Indonesia yang memiliki itu,” terang Cak Nun di halaman Gedung DPRD Kota Surabaya, Sabtu (19/8/2017) malam.

Suasana sinau kebangsaan bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman Gedung DPRD Kota Surabaya. (Foto: caknun.com)

Dari pintu arti kata Pancasila, Cak Nun kemudian mengibaratkan, jika Pancasila adalah pohon maka sila pertama adalah akarnya, sila kedua adalah batang, sila ketiga adalah buah, sila empat adalah buah yang telah diolah dalam permusyawaratan perwakilan sehingga menjadi pemerintahan. Dan, tujuan bangsa ada di sila ke lima Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tujuan menjadi bangsa berkeadilan sosial ini serupa dengan filosofi Jawa Toto Tentrem Kertoraharjo juga konsep Baldatun Toyyibatun dalam Islam. Menjadi bangsa yang apik (thoyyib) berarti semua warganya diperlakukan baik, sehingga semua perilakunya tidak ada yang membuat Tuhan marah.

Di hadapan sejumlah politisi lintas partai, Cak Nun juga berpesan agar mereka bisa menjaga dan mengamalkan butir-butir yang terkandung dalam Pancasila. Khususnya yang tersirat di sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia agar dijadikan sebagai alat pemersatu dan kesatuan bangsa. Meski partai berbeda kepentingan, namun satu tujuan. Itu bisa dilakukan dengan cara memelihara keamanan, saling menghormati dan menghargai hak setiap warga negara.

“Seharusnya, dalam berpartai itu niat berserikat untuk bisa mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, bukan malah sebaliknya yang justru jadi pemicu terpecah belahnya bangsa,” tegas Cak Nun, yang kemudian disambut riuh tepuk tangan ribuan jamaah maiyah.

Malam itu benar-benar menjadi momentum istimewa. Sebab, di tengah perayaan peringatan kemerdekaan RI, Cak Nun juga menyampaikan kritik lewat puisi yang spontan pada malam itu dibuat. Berikut ini isi puisi yang patut direnungi dan disimak bersama. []

Ke Mana Indonesiaku?

Ke mana gerangan Indonesiaku yang dilahirkan oleh seluruh bangsa ini dengan keringat, dengan luka dengan darah dan kematian di Surabaya?

Indonesiaku yang dilahirkan oleh sejarah dengan air mata tiga setengah abad, ke mana? Ke mana Indonesiaku hari ini?

Siapa yang berani-berani menyembunyikan mereka, naga dari mana yang mencekik mereka, siapa yang mencuri dan membuang mereka?

Indonesiaku yang bernama kemerdekaan sejati, yang bernama hak makhluk hidup dan harkat kemanusiaan, yang bernama cinta kasih sesama, yang bernama adilnya kesejahteraan, yang bernama keterbukaan dan kelapangan, ke mana?

Aku melihat Indonesiaku lari tunggang langgang. Indonesiaku diserbu oleh rasa cemas yang mencekam. Aku melihat Indonesiaku bertiarap di bawah semak-semak zaman. Indonesiaku ngumpet di balik kegelapan.

Kematian bukan tragedi, kecuali jika kita curi dari Tuhan Hak untuk menentukannya. Kematian tidak untuk ditangisi, tetapi apa yang menyebabkan kematian itulah yang harus diteliti.

Nyawa badan, nyawa rohani, nyawa kesadaran, nyawa pikiran, nyawa hak yang tenteram, nyawa amanat untuk merawat keadilan, nyawa, nyawa, nyawa!

Nyawa itu dihembuskan oleh Tuhan, dielus-elus dan disayang-sayang, bahkan nyawa setiap ekor coro! Bahkan nyawa cacing yang menggeliat-geliat dijaga oleh Tuhan dalam tata kosmos keseimbangan-Nya.

Tuhan sangat bersungguh-sungguh dalam mengurusi setiap tetes embun yang Ia tampung di sehelai daun, Tuhan menyayangi dengan sepenuh hati setiap debu yang menempati persemayamannya di tengah ruang.

Tapi kita iseng sesama manusia. Kita tidak serius terhadap nilai-nilai. Bahkan, terhadap Tuhan pun kita bersikap setengah hati!

Masya’ Allah, apa yang menancap di ubun-ubun kita ini? Apa yang menimpa kesadaran kita ini? Apa yang menelusuk ke dalam dada kita ini? Hingga sedemikian rajin kita tanam dendam dan kekerasan di antara kita sendiri. Bukannya kelembutan atau kasih sayang.

Surabaya, 19 Agustus 2017 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here