Calon Petahana Kenakan Kaos Kampanye saat Kegiatan Pemerintahan

0
49

Nusantara.news, Kota Malang – Bakal Calon (Bacalon) Walikota Malang Petahana, yang dalam melakukan kegiatan pemerintahan menggunakan atribut kampanye, di sorot oleh beberapa tim sukses lawan politiknya.

Salah satunya yakni, Tim Hukum dan Advokasi Pemenangan Menawan Pasangan Ya’qud Ananda Gudban – Ahmad Wanedi yang menyesalkan tindakan bacalon petahana tersebut.

Fenomena tersebut diketahui saat meresmikan sebuah masjid di Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, pada Minggu (4/2) kemarin. Dalam kesempatan itu, Anton diketahui memakai baju jenis kotak-kotak dengan celana jeans biru dan sepatu coklat. Baju itu, sama dengan baju paslon Anton – Samsul yang digunakan untuk sosialisasi calon di beberapa kesempatan.

Bahkan, pada momen pemberian rekomendasi dari Partai Perindo beberapa waktu lalu pasangan Anton – Samsul mengenakan pakai seruap dengan yang dipakai Anton pada saat momen kedinasan.

                

Anggota Divisi Hukum dan Advokasi Tim Pemanangan Menawan, Adi Sugiharto, menegaskan jika apa yang dilakukan oleh Anton adalah bentuk ketidakpatutan dalam beretika politik. “Apalagi dia sebagai calon petahana atau incumbent yang sering melontarkan berpolitik yang bermartabat.

Ia menegaskan bahwa tindakan petahan tersebut mencederai etika politik. “Penggunaan kostum paslon itu kami kira sangat mencederai etika itu,” tegas M. Adi Sugiharto.

Adi menambahkan bahwa meskipun saat ini belum memasuki masa kampanye, dan tidak terikat dengan aturan nantinya, namun menurut Adi Sugiarto, petahana harus bisa membedakan antara agenda kedinasan dan agenda berpolitik.

“Bedakan mana yang masuk agenda kedinasan dan agenda politik. Sebagai petahana saya kira Anton tidak perlu grogi dan percaya diri saja jelang penetapan paslon 12 Februari mendatang,” tegasnya.

H M Anton – Samsul Mahmud

Selain menggunakan kostum paslon, Adi menjelaskan bahwa sosok Bakal Calon (Bacalon) Wakil Walikota Malang, Samsul Mahmud juga sering hadir dalam agenda kedinasan. Menanggapi ini, Ketua Divisi Hukum dan Advokat, Rully Sugiono juga sangat menyesalkan kejadian tersebut.

Sementara itu, Pengamat Politik Kota Malang, Abdi Muhammad menjelaskan terkait kostum yang dipakai oleh petahana dalam kegiatan pemerintahan tidak terlalu dipermasalahkan.

“Ya memang ada yang merespon seperti itu biasa, namun perlu diketahui ini juga belum memasuki masa kampanye, kostum yang dipakai pun juga belum di daftarkan dalam atribut kampanye,” jelasnya.

Oleh karena itu, tidak perlu terlalu dipermasalahkan terkait fenomena tersebut.

“Karena belum didaftarkan dan bahkan belum diatur maka pribadi memandang tidak ada salahnya. Sama juga seperti banner mbak nanda yang kemudian terpampang di beberapa sudut Kota Malang kini, belum diatur ketentuannya jadi tidak apa-apa untuk dipasang meskipun memuat materi kampanye,” tandas alum UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here