Calon Tunggal Cagub Jatim 2018, Sebuah Kemunduran Demokrasi

0
431

Nusantara.news, Surabaya – Wacana adanya calon tunggal di Pilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 dianggap sebagai suatu bentuk kemunduran demokrasi. Hal ini diungkapkan oleh pendiri La Nyalla Academia H La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Menurutnya, calon tunggal di Pilgub Jatim adalah suatu kemunduran dan tidak baik untuk Jawa Timur itu sendiri. Jawa Timur mempunyai sosok yang layak untuk dimunculkan meneruskan tongkat estafet Gubernur Soekarwo yang akan habis masa kepemimpinannya dua periode mengawal Jatim.

Oleh karena itu, Jatim butuh figur baru yang lebih fresh dan mungkin lebih mumpuni dalam membangun Jatim. Track record La Nyalla sendiri di Jatim bisa dikatakan lumayan bagus. Tak hanya pernah menjabat sebagai Ketum PSSI, namun pria asal Makassar ini adalah Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jatim. Termasuk ormas dan sejumlah asosiasi profesi lainnya, sehingga jaringannya sangat luas sekali.

Popularitasnya juga tinggi karena figurnya yang berlatar belakang pengusaha dan aktivis sosial kemasyarakatan. Belum termasuk kedekatannya dengan banyak ulama, kyai, pimpinan pondok pesantren, kalangan kampus, tokoh masyarakat, dan kalangan praktisi media yang nota-bene (La Nyalla) juga Dewan Penasehat PWI Jatim.

Meski sudah lama banyak pihak yang mendorong untuk running di Pilgub Jatim 2018, namun baru kali ini La Nyalla menyatakan siap maju sebagai calon gubernur. Itu dikarenakan adanya kabar mengenai kemungkinan besar hanya ada satu calon (cagub/cawagub) pada Pilgub 2018 yakni petahana  Wakil Gubernur Drs. H. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan calon pasangannya.

“Jatim tak akan kehilangan stock pemimpin yang berkualitas. Perlu ada figur baru, jika nanti ada calon tunggal di Pilgub Jatim 2018, saya sendiri yang akan maju cagub untuk menjadi pesaing utamanya, demi membangun Jatim lebih baik lagi,” tegasnya.

Sebelumnya, politisi senior Ridwan Hisjam juga mengungkapkan bahwa calon tunggal di Pilgub Jatim 2018 adalah sebuah rekayasa politik atau akal-akalan partai penguasa saja. Menurutnya, sebuah kemunduran demokrasi, apalagi hanya ada satu calon tunggal di Pilgub Jatim.

“Jawa Timur butuh sosok figur baru yang bisa membawa Jawa Timur lebih baik lagi pasca lengsernya Soekarwo yang sudah dua periode memimpin Jatim. Kalau bisa sosoknya sebanding dengan Soekarwo, atau lebih baik lagi demi Jatim,” setusnya.

Pria yang akrab disapa Mas Tatok itu juga berharap kepada masyarakat Jatim untuk memilih pemimpin yang mumpuni. Jangan hanya modal popularitas saja namun bukti kongkrit yaitu bisa bekerja lebih baik lagi.

“Apa yang sudah diwariskan oleh Soekarwo sangatlah baik, pembangunan ekonomi sudah merata di Jatim. Tinggal bagaimana nanti penggantinya bisa meneruskan apa yang sudah dicita-citakan oleh Karwo, baik dari visi dan misinya agar bisa memenuhi apa yang diharapkan oleh warga Jatim,” ungkapnya.

Sementara itu dari kabar yang diterima redaksi Nusantara.news terkait perkembangan Pilgub Jatim 2018, bahwa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengusung petahana Saifullah Yusuf sebagai Cagub 2018 mengaku masih kesulitan untuk mencari pendamping yang pas.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) saat menanggapi pertanyaan, adakah keinginan partai yang dideklarasikan oleh para kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) ini, untuk mengusung sejumlah nama seperti Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa atau Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendampingi Gus Ipul.

“Saat ini kami masih melakukan jajak pendapat dengan semua kalangan dan menunggu adanya koalisi partai di Pilgub Jatim. Menyangkut nama yang pas untuk mendampingi Gus Ipul, kami akan menyerahkan semua keputusan kepada partai koalisi nantinya,” jelasnya, Rabu (7/6/2017).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here