Capres dan Olahraga

0
57

KEBERHASILAN Tim Nasional Indonesia merebut gelar juara dalam Piala AFF U-22 di Kamboja pekan lalu, sungguh membanggakan. Ini menjadi semacam penyejuk kemarahan publik atas skandal pengaturan skor (match fixing) yang melibatkan orang-orang penting di PSSI.

Anak-anak remaja tumpuan harapan itu kemarin diarak menuju Istana Negara dan disambut oleh Presiden Joko Widodo. Bonus ratusan juta rupiah membanjiri mereka. “Saya dan seluruh rakyat Indonesia merasa sangat bangga sekali atas prestasi dari generasi baru sepakbola Indonesia, dan diharapkan kebangkitan sepakbola Indonesia dimulai dari titik ini,” ujar Jokowi seperti dikutip dari situs resmi Kemenpora.

Kebangkitan sepakbola Indonesia! Pernyataan ini sungguh berat mewujudkannya. Jangankah untuk cabang olahraga yang kita tertinggal jauh, dan dimainkan merata di seluruh dunia seperti sepakbola, untuk cabang bulutangkis saja kita makin ketinggalan. Padahal, sebelumnya kita termasuk “raja” di bidang itu. Ditambah pula, kompetisi di cabang ini tidak sekencang sepakbola.

Meski berat mencapai puncak prestasi yang bisa membanggakan, toh tetap harus diupayakan. Mestinya, cara-cara mencapai puncak itu dibicarakan dalam kontestasi calon presiden menjelang pemilu ini.

Kalau salah satu dari kedua pasangan capres-cawapres itu menang, apa konsep dan strategi mereka membangun olahraga nasional. Tentu saja, konsep dan strategi yang jelas dan terukur, bukan wacana-wacana sloganistik yang membubung setinggi langit.

Kita setuju dengan  pendapat bahwa kemajuan di bidang olahraga adalah salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Lihat saja, ajang olahraga internasional multi-event selalu dirajai oleh negara-negara maju, seperti China, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara lainnya.

Sementara olahraga di Indonesia baru menjadi bagian dari rekreasi masyarakat. Ada kelompok-kelompok  tertentu dalam masyarakat yang gila olahraga, kemudian melakukan sesuatu agar cabang yang disukainya berkembang. Semua cabang olahraga kita digalakkan oleh para penggila seperti itu. Tanpa mengecilkan jerih payah mereka, dukungan seperti itu sangat temporer. Jika si pendukung masih kuat, kuat pula perkumpulan olahraga yang dibantunya. Tetapi jika dia mulai letih, lemas pula olahraganya.

Belum lagi kekacauan tata kelola seperti konflik di dalam induk organisasi olahraga. Orang belum lupa bagaimana tajamnya konflik antara Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tempo hari.

Ini berbeda dengan negara-negara yang jadi acuan olahraga internasional. Bagi mereka olahraga sudah menjadi industri, dan dikelola seperi mengelola industri-industri lain. Di dalamnya berlaku sepenuhnya prinsip-prinsip bisnis. Manajemen yang sempurna. Kompetitif, mutu atau mati. Sebuah klub sepakbola misalnya dikelola dengan profesionalisme yang sama dengan mengelola sebuah perusahaan otomotif atu perbankan, misalnya.

Di negara-negara yang olahraganya sudah menjadi industri, peranan pemerintah hanya sebagai regulator saja. Sementara pemerintah di Indonesia mengambil posisi tanggung dalam pembinaan olahraga. Untuk berperan sebagai regulator seperti di negara-negara maju, jelas belum waktunya. Tetapi, berperan sebagai fasilitator dan motivator juga dilakukan setengah-setengah.

Untuk peran seperti ini, pemerintah kita tidak mengambil posisi seperti, umpamanya,  Cina. Di sana olahraga adalah sepenuhnya urusan pemerintah. Tetapi mereka melakukannya dengan sangat konsepsional dan disiplin. Olahragawan Cina bukanlah atlit profesional dalam pengertian dibayar seperti atlit di negara industri olahraga. Namun, toh , skill dan prestasi mereka tetap berkelas dunia.

Tapi,  kita, sih, mencoba maklum. Indonesia negeri dengan teramat banyak masalah. Persoalan-persoalan primer saja belum bisa diatasi dengan memadai, apalagi untuk membangun olahraga. Tetapi logika ini juga tak sepenuhnya benar. Negara-negara Afrika yang kesejahteraannya jauh di bawah kita, toh bisa melahirkan atlit-atlit kelas dunia.

Inilah yang mesti dijawab oleh para capres-cawapres. Mungkin ada baiknya, induk-induk olahraga mengundang calon-calon pemimpin itu untuk ditanya, dengan cara bagaimana mereka hendak membangun olahraga nasional.

Kalau tak ada jawaban yang memuaskan dari para calon kepala negara itu, pentas dunia mana yang hendak kita panjat?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here