Cara Kelola Masjid Namira Di Lamongan yang Bikin Takjub

0
10794
Masjid Namira Lamongan.

Nusantara.news, Lamongan – Dari luar masjid ini tampak seperti penginapan. Tapi begitu masuk ke dalam, Anda akan dibawa ke suasana Timur Tengah. Makkah dan Madinah, dua kota ini yang melatarbelakangi pembangunan masjid Namira di Jalan Raya Raya Mantup, Kilometer 5, Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Masjid Namira berdiri atas lahan seluas 7.500 meter persegi. Pembangunan masjid ini tidak ada campur tangan pemerintah, melainkan dibangun oleh orang asli Lamongan. Pendiri masjid diketahui adalah pasangan suami istri Helmy Riza dan Eny Yuli Arifah. Ada yang bilang nama masjid diambil dari nama salah seorang putri Helmy-Eny yakni Ghassani Namira Mirza. Sementara menurut takmir masjid, nama Namira diambil dari nama salah satu masjid yang ada di Padang Arofah Arab Saudi.

Helmy Riza dikenal warga Lamongan sebagai pengusaha kaya raya alias tajir dengan berbagai bisnisnya, dari toko emas, tambak hingga sejumlah SPBU. Dalam struktur pengurus masjid ini, nama Helmy Riza masuk sebagai ketua yayasan. Sementara untuk ketua takmir adalah Waras Wibisono, dibantu tiga orang wakil ketua, masing-masing Sutarjo, Abdul Jalil, dan Ahrian Saifi. Selain itu, ada dua bendahara dan dua sekretaris.

Kepengurusan masjid juga memiliki tiga bidang. Pertama, bidang idarah yang di bawahnya terdapat seksi perencanaan, seksi administrasi, dan seksi dokumentasi. Selanjutnya, ada bidang imaroh yang membawahkan seksi peribadatan, seksi pendidikan, dakwah, sosial kemasyarakatan, majelis taklim, perpustakaan, remaja masjid, dan pemberdayaan perempuan.

Terakhir, ada bidang rikyah. Di bawahnya terdapat seksi keamanan, seksi pemeliharaan bangunan, lingkungan hidup, serta peralatan dan perlengkapan.

Bangunan masjid terbagi menjadi dua bangunan. Bangunan pertama digunakan untuk taman pendidikan Al Quran, sedangkan bangunan kedua yang diresmikan pada 2 Oktober 2016, digunakan sebagai tempat salat dan pengajian.

Saat memasuki halaman masjid, pengunjung akan disuguhi halaman parkir yang luas. Di sebelah bangunan pertama terdapat jalan menuju bangunan kedua. Memasuki bangunan kedua, kemegahan masjid baru bisa dapat disaksikan.

Adanya taman-taman yang ditumbuhi bunga aneka warna, dengan hamparan rumput hijau, dan dilengkapi kolam ikan, tentunya dapat menambah cantik suasana. Setiap pengunjung akan dibuat betah, terutama anak-anak.

Taman dan kolam ikan masjid Namira.

Di dekat area wudhu, terdapat televisi layar datar yang menayangkan agenda-agenda masjid. Sandal, sarung, mukena tersedia di tempat peminjaman.

Begitu memasuki masjid, kaki akan dimanjakan dengan empuknya karpet yang membentang dan bau semerbak wangi kontan tercium. Tubuh yang panas karena terpaan hawa panas akan didinginkan oleh udara dingin menyejukkan.

Dua proyektor dengan layar lebar tersedia di antara lukisan kaligrafi. Bagian depan mihrab imam terbentang kiswah yang dilindungi kaca. Kaca juga dipilih menjadi dinding masjid. Nah, dari dalam masjid, lewat dinding kaca inilah bisa disaksikan pengunjung masjid tengah berswafoto di pelataran masjid.

Pengunjung juga bisa menambah daya untuk telepon genggam karena tersedia puluhan stop kontak mengitari dinding masjid.

Jika umumnya langit-langit masjid terdapat setengah lingkaran mengikuti kubah, di masjid ini langit-langitnya rata. Pada bagian langit-langit masjid inilah terdapat lafaz Allah.

Di dalam masjid juga dapat ditemukan aroma parfum yang didatangkan langsung dari Arab. Selain itu, aroma parfum yang semerbak di dalam masjid juga mengingatkan siapapun yang pernah ke tanah suci akan suasana di Masjidil Haram. Ada tiga macam pengharum dalam satu tempat dan itu didatangkan dari Arab Saudi. Karpet tebal setiap menjelang Maghrib disemprot dengan parfum Surati. Pihak yayasan dan takmir ternyata mempunyai konsep apik, yakni mengcopas suasana di dua kota suci. Benar-benar cantik penampakan Namira.

Bahkan yang membuat takjub, adanya kain kiswah yang terpasang sebagai penutup Ka’bah di Makkah. Kain kiswah itu terpasang di depan mihrab imam. Bekas kain penutup Ka’bah itu asli. Sengaja didatangkan langsung dari Masjidil Haram. Sementara potongan kiswah berukuran kecil lainnya terbingkai rapi dan dipajang di dinding masjid. Masing-masing tiga di sebelah kiri dan kanan mihrab.

Kiswah masjid Namira yang didatangkan langsung dari Masjidil Haram.

Masjid ini juga sangat ramah kepada pengunjung difabel. Beberapa jalur khusus untuk kursi roda tersedia di akses masuk masjid. Bahkan, beberapa kursi roda pun disiapkan bagi yang membutuhkan. Termasuk disiapkan beberapa kursi bagi jamaah yang tidak mampu salat dengan berdiri. Semua fasilitas itu tentu dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma.

Salah seorang jamaah yang biasa beribadah di masjid Namira, Faisol mengaku senang beribadah di masjid ini karena suasana dan nuansanya yang khas. Faisol mengaku bisa merasakan suasana beribadah seperti di tanah suci meski belum pernah ke tanah suci. “Suasana khas dan arsitekturnya mengingatkan kita akan masjid-masjid di tanah suci,” terangnya.

Sementara jamaah asal Sidoarjo, Mayang mengaku saat rindu Baitulloh, dirinya bersama keluarga sengaja datang ke Masjid Namira. “Kalau kangen Masjidil Haram, saya dan keluarga sengaja datang ke masjid ini. Benar-benar bisa merasakan nuansa Mekkah dan Madinah kalau sudah ada di sini,” jelas Mayang.

Saldo Masjid Nol Rupiah Pertanda Kreatif

Entah dari mana datangnya ide pembangunan masjid Namira. Yang jelas masjid Namira telah membuat kagum banyak orang. Awalnya, bangunan lama masjid ini berdiri di atas lahan 0,9 hektare dengan luas bangunan 1.100 meter persegi.

Wakil takmir masjid Namira, Ahrian Saifi membeberkan, bangunan masjid Namira yang pertama sebelumnya hanya bisa menampung sekitar 500 jamaah.

Namun dengan begitu pesatnya jumlah jamaah yang berdatangan ke Namira, kemudian dibangun masjid perluasan kedua yang daya tampungnya menjadi 3 kali lipatnya, yaitu di atas tanah seluas 2, 7 hektare dengan luas bangunan 2.750 meter persegi. Pada Ramadan 2017, menurut Ahrian, adalah Ramadan pertama di lokasi masjid Namira yang baru. Kapasitasnya diklaim mampu menampung 2.500 jamaah.

Setelah diperluas, bangunan baru masjid mulai digunakan pada 2 Oktober 2016. Bangunan baru itu pertama kalinya difungsikan untuk salat tarawih pada momen Ramadan 2017. Pasalnya, jumlah jamaah hingga saat ini terus membeludak sehingga pihak yayasan terdorong untuk membangun masjid lebih besar.

Tidak diketahui pasti berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun masjid ini, baik bangunan lama maupun baru. Belum lagi biaya untuk membayar gaji petugas kebersihan dan perawatan masjid. Biaya lain yang tidak kalah besarnya adalah membeli dan mendatangkan kiswah kakbah tersebut. Termasuk, secara rutin, takmir masjid harus mengeluarkan dana untuk mendatangkan parfum langsung dari Arab Saudi yang aromanya memang khas untuk kiswah Ka’bah.

Masjid Namira Lamongan tampak dari atas.

Meski bangunan masjid minimalis, namun pengunjung akan dibuat kaget dengan tata cara pengelolaan masjid yang “tidak biasa”. Ya, sistem pengelolaan masjid Namira bagi sebagian orang yang pernah singgah, dinilai sangat profesional dan layak dijadikan panutan bagi masjid-masjid lain di Indonesia.

Ya, konon menurut kabar yang beredar, biaya perawatan masjid Namira setiap bulan menghabiskan Rp 200 juta. Ini jika mengacu pada jumlah petugas hingga untuk keperluan membayar rekening listrik dan untuk kebutuhan air bersih. Imam di masjid ini sengaja dipilih para penghafal Alquran yang memiliki gaya bacaan seperti hafiz dari Arab Saudi.

Tapi tahu tidak, jika masjid Namira saldonya selalu kosong. Padahal banyak jamaah yang datang dan bersedekah. Sementara pengurus masjid mengaku bangga jika saldonya 0. Wow, kenapa bisa begitu. Di saat banyak masjid di Indonesia menyimpan dana infak hingga berjuta-juta rupiah, masjid Namira malah membuat saldonya kosong.

Usut punya usut, menurut pengurus masjid yang enggan disebutkan namanya mengatakan, uang sedekah jamaah harus kembali ke jamaah. “Kami takmir malu kalau uang jamaah menumpuk di kotak infaq,” katanya.

 Menurut dia, saldo masjid nol rupiah menandakan takmir kreatif karena selalu punya program untuk jamaah masjid. Sebaliknya, jika masjid punya saldo “berlimpah” berarti itu masjid gagal. “Itu berarti takmirnya miskin kreativitas. Inilah prinsip kami,” seru dia.

Jika masjid-masjid di Indonesia tidak membuka pintunya pada jam-jam tertentu dengan alasan menjaga keamanan, seperti takut infaq masjid dicuri orang dan lain sebagainya. Masjid Namira justru kebalikannya. Pintu masjid malah dibuka selama 24 jam. Para musafir boleh rehat dan tiduran di teras. Dan bagi yang sedang iktikaf disediakan tenda untuk menginap tidur, dan makanan sahur bagi yang mau berpuasa.

Seperti pengakuan seorang musafir dari Surabaya, Budi Lesmono, “Saya waktu itu kemalaman seusai melakukan perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Saya lantas mampir ke masjid (Namira). Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Saya juga sudah kecapekan dan ngantuk. Penginnya sholat malam dan lesehan. Setiba di masjid, saya pikir tutup tapi ternyata buka selama 24 jam. Tidak biasanya ada masjid yang membuka pintu 24 jam. Saya juga dapat istirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan,” terang Budi.

Kursi roda masjid Namira untuk jamaah difabel.

Menurut Budi, di dalam masjid memang terdapat satpam. Tapi tugas satpam bukan untuk menjaga uang infaq. “Saya pikir siapa yang mau mencuri infaq masjid, toh memang tidak ada uangnya. Kata satpam itu, percuma kalau maling masuk masjid Namira, sebab tidak ada yang bisa dicuri. Soalnya masjid ini tidak ada saldonya,” cerita Budi.

Adapun tugas satpam masjid, lanjutnya, hanya mengamankan orang-orang sholat saja. Memang saking banyaknya pengunjung yang datang dan ingin berfoto di sana, keberadaan satpam di sana ditempatkan hanya untuk menjaga ketertiban dan kekhusyukan waktu sholat saja.

Diakui takmir masjid, Namira sebenarnya memiliki dibanjiri donatur. Setiap acara-acara bermutu, seperti pengajian, banyak donatur datang dari berbagai daerah. Dan lagi-lagi, takmir masjid harus berpikir keras bagaimana menghabiskan uang itu.

“Makin habis makin datang donatur yang lebih besar. Kami hanya ingin agar sedekah dari jamaah segera berubah jadi pahala. Justru kalau uangnya ngendon saja, kami sebagai takmir merasa berdosa. Sedekah mereka terlambat jadi pahala karena belum ada kegiatan yang diwujudkan dari uang yang kita terima. Makanya motto kami: usahakan saldo bisa nol,” demikian takmir.

Gerakan Salat Berjamaah Dapat Beasiswa

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS At-Taubah: 18)

Ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya salat bagi setiap Muslim. Namun masih banyak orang yang meremehkan waktu salat. Karena itu takmir masjid punya trik untuk memakmurkan masjid.

Salah satu terobosan yang dibuat, yakni mendatangkan imam salat, khususnya salat Tarawih, dari Timur Tengah pada bulan Ramadan 2017 lalu.  “Imam tersebut dari Mesir dan Makkah, Arab Saudi,” kata Nanang, salah satu takmir masjid Namira.

Menurut dia, imam dari Mesir bernama Syekh Asron Jabir yang memimpin salat selama 20 hari pertama bulan Ramadan. Kemudian, dilanjutkan oleh Syekh Utsman Sholeh Ali dari Makkah untuk 10 hari terakhir Ramadan.

Nanang menjelaskan, didatangkannya imam dari Makkah dan Mesir tersebut untuk menciptakan magnet bagi jamaah dan menjaga kekhusyukan salat selama bulan suci Ramadan di Masjid Namira. “Selain itu, diharapkan juga bisa memberi ilmu bagi jamaah Masjid Namira tentang bacaan ayat suci Alquran yang benar,” terangnya.

Tempat wudhu masjid yang nyaman dan membuat orang jadi ingin salat.

Menurut dia, takmir dan Yayasan Namira berusaha melayani jamaah agar bisa menjalankan ibadah secara kusyuk sekaligus memberi ilmu. Sehingga, jamaah bisa puas menjalankan ibadah sekaligus bisa menambah ilmu keagamaan. “Selain imam dari Timur Tengah, juga dilibatkan imam dari Lamongan sendiri maupun luar Lamongan, bahkan nasional,” ungkapnya.

Yang menarik, takmir masjid juga membuat terobosan dengan menggunakan mesin absensi sidik jari elektronik. Namun, jangan dikira mesin tersebut untuk absensi para petugas masjid. Mesin sidik jari itu untuk merekam data anak-anak yang mengikuti program salat berjamaah.

Ya, kreativitas takmir masjid ditunjukkan dengan menggiatkan “Gerakan Anak Cinta Masjid” melalui “Program Aku Cinta Masjid”.

Program ini untuk merangsang anak agar rajin salat berjamaah. “Memakmurkan masjid-masjid Allah, itu tujuan kita. Tapi untuk bisa berjalan, harus ada dorongan,” imbuh Nanang.

Menurut Nanang, untuk setiap anak yang salat berjamaah akan mendapatkan satu poin. Khusus salat Subuh berjamaah, nilainya dua poin. Bagi yang berhasil mengumpulkan 90 poin setiap bulan, jamaah akan mendapatkan beasiswa Rp 100 ribu per bulan. Tak hanya itu, 10 peserta dengan poin terbanyak setiap bulan, akan mendapatkan tambahan beasiswa lagi masing-masing Rp 100 ribu.

Di bagian dalam masjid terdapat aroma parfum yang mengingatkan seseorang pernah bepergian ke tanah suci. Takmir masjid menggiatkan program “Gerakan Anak Cinta Masjid”.

Dengan program ini, setiap peserta akan mudah terlihat tingkat kehadirannya dalam salat berjamaah. Petugas masjid pun tak perlu susah payah mendata anak yang salat setiap saat karena semua data terekam di mesin sidik jari.

Pada periode Mei 2017 misalnya, berdasar laporan takmir masjid, tercatat ada 102 anak yang mengikuti program ini. Hasilnya, pengumpul poin terbanyak diraih Rijal Abbad Fakhrillah yang mengoleksi 178 poin. Anak tersebut berhak atas beasiswa Rp 200 ribu yang sudah diterima pada awal Juni 2017.

Tercatat, ada 10 nama yang masing-masing mendapatkan beasiswa Rp 200 ribu karena mendapat poin terbanyak. Ada pula 14 anak yang poinnya di atas 90 dan berhak atas beasiswa Rp 100 ribu. Sementara untuk peserta yang mendapat poin 30 hingga kurang dari 90 poin, tetap mendapat beasiswa masing-masing Rp 50 ribu.

Guna menggiatkan aktivitas salat Subuh berjamaah, masjid ini juga memiliki Warung Subuh Gratis. Program tersebut berupa menggelar sarapan bersama setiap Minggu di teras masjid. Jamaah bisa memilih sendiri jenis makanan kesukaan. Dari nasi bungkus, nasi jagung, lontong sayur, mi instan, aneka gorengan, hingga minuman teh, kopi, dan susu jahe.

Tidak bisa dipungkiri, masjid Namira memiliki visi sebagai pusat penyatuan umat dalam ibadah, dakwah, pendidikan, dan manajemen menuju masyarakat madani. Sementara misinya adalah mengembangkan ibadah dan dakwah, mengembangkan pendidikan akhlakul karimah, mengembangkan manajemen masjid, dan mengembangkan fasilitas dan sarana-prasarana. Sementara moto masjid adalah ikhlas dalam melayani umat dan profesional. Jadi, apakah Anda tertarik mengelola masjid di lingkungan Anda seperti Masjid Namira?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here