Cara Khrushchev Singkirkan Pesaing Paska Kematian Stalin

1
418
Khrushchev saat menjadi komandan pasukan dalam pertempuran di Staliningrad 1942

Nusantara.news, JakartaGame of throne – permainan kekuasaan – di lingkungan rezim otoriter yang terpusat, bengis, kejam dan pemaksaan kultus individu acap kali diwarnai kepalsuan, saling intrik dan tikam di antara elit politik yang merasa memiliki kekuatan sebagai pewarisnya. Kejadian itu tampak nyata dalam suksesi kepemimpinan paska wafatnya Joseph Stalin di Uni Soviet atau Mao Zedong di Republik Rakyat China (RRC).

Dengan kata lain, pemerintahan otoriter – apa pun ideologinya – meskipun kehadirannya pada awal kekuasaan diinginkan rakyat untuk mengatasi gejolak dan instabilitas, namun dalam proses konsolidasi kekuasaan dan sesudahnya acap kali menyisakan masalah. Aktor tunggal dalam permainan kekuasaan ini kerap menyingkirkan pesaing potensial, memainkan manajemen konflik dan rekayasa sosial yang membuat negaranya setback ke belakang.

Mao Zedong saat menerima kunjungan kenegaraan Khrushchev

Begitu juga dengan rezim komunis Uni Soviet paska kematian Joseph Stalin. Saat berkuasa Stalin memerintahkan pembunuhan terhadap – setidaknya 800 ribu warganya. Keputusan penting kenegaraan diputuskan di meja makan di antara kroni yang dia jadikan anggota politburo. Persahabatan antara Stalin dan di antara punggawa terbangun secara artificial, tidak tulus dan dibuat-buat.

Di antara para punggawa pun saling intip kekuatan, kasak-kusuk, saling fitnah atau membuat persekutuan rapuh yang seketika ambrol tatkala kepentingan politik tidak lagi sama. Politik bukan berlangsung di lembaga-lembaga resmi pemerintahan atau kenegaraan. Melainkan di ruang gelap kekuasaan paranoid yang menganggap dinding pun bisa bicara.

Hindari Jebakan Batman

Gambaran di atas terlihat menjelang kematian Stalin. Kala itu ada tiga tokoh utama yang bersaing. Masing-masing Ketua Dewan Menteri (Perdana Menteri) Malenkov, Kepala Polisi Rahasia Beria yang bertugas memerintahkan pembunuhan dari daftar yang ditulis Stalin, dan Khrushchev selaku anggota Presidium Komite Sentral yang baru dilantik Stalin sekaligus Ketua PKUS Moskow.

Muncul pula tokoh-tokoh lain seperti Menteri Luar Negeri Vyacheslav Molotov, Kaganovich dan Bulganin yang juga siap mengambil alih kekuasaan manakala situasi memungkinkan. Khrushchev sendiri yang bintangnya sedang terang karena menjadi kesayangan Stalin untuk mengimbangi pengaruh Malenkov dan Beria di antara anggota Presidium Komite Sentral masih dianggap anak bawang.

Tapi justru anak bawang itu yang berkemampuan memainkan game of throne di balik sikap saling curiga dan intrik di antara koleganya. Awalnya Khrushchev sempat kesal karena hanya diberi peran memimpin upacara pemakaman diktator yang paling dibenci oleh rakyatnya. Penunjukan itu dianggap sebagai “jebakan batman” dari musuh-musuh politiknya agar namanya ikut terkubur bersama jasad “Sang Diktator”.

Sedangkan Beria – sekutu dekat Sekjen PKUS (de facto) Malenkov yang tangannya paling berdarah selama Stalin memerintahkan pembunuhan massal sejak 1930-1953 – justru menawarkan proposal yang menghentikan eksekusi pembunuhan dan amnesti umum kepada warga Uni Soviet. Karena proposal ini pula – Malenkov yang secara de facto menjalankan peran Sekjen PKUS sekaligus jabatan resmi perdana Menteri mengangkatnya menjadi wakil (deputy).

Gagasan populis Beria itu memang disetujui secara aklamasi oleh Presidium Komite Sentral. Mereka juga sepakat dengan penunjukan Beria sebagai wakil ketua. Tapi gagasan Beria – tampaknya ingin mendapatkan dukungan dari Barat – menyerahkan Jerman Timur kepada Jerman Barat dengan opsi sebagai negara netral dan mendapatkan kompensasi dari Blok Barat  ditentang sejumlah anggota presidium.

Penyingkiran Beria dan Malenkov

Sial bagi Beria setelah Malenkov – sekutu utamanya di Komite Sentral – meskipun masih memimpin Presidium tapi mengundurkan diri dari jabatan Sekjen PKUS pada 14 Maret 1953. Khrushchev yang mendapat mandat mengendalikan partai diam-diam bersekutu dengan Malenkov. Rupanya Malenkov dan Khrushchev disatukan kepentingan melawan “pencitraan” Beria. Keduanya yakin Beria sedang menyiapkan kudeta militer. Dalam memoar Khrushchev menulis – Beria sedang mengasah pisau untuk kita.

Pimpinan PKUS Nikita Khrushchev berkunjung ke Berlin menemui Walikota Berlin Friedrich Ebert, pada 13 Agustus 1957

Pada 26 Juni 1953 Beria ditangkap saat berlangsungnya pertemuan Presidium – setelah Khrushchev dan sekutunya sudah menyiapkan kekuatan militer. Setelah dijebloskan ke penjara sekitar 6 bulan – Beria akhirnya dieksekusi mati. Tapi “game of throne” siapa pengganti Stalin belum berakhir.

Malenkov diam-diam ingin tampil kembali mengendalikan kekuatan utama. Kekuatannya di birokrasi selaku Perdana Menteri kembali diasah. Struktur pemerintahan dia kendalikan penuh. Lewat kebijakan pemerintahan yang dimilikinya dia mencari simpati publik dengan cara menurunkan harga-harga kebutuhan pokok.

Tapi Khrushchev tidak kalah cerdik. Sebagai pengendali partai – secara konstitusi yang tidak pernah dijalankan selama rezim Stalin – memiliki kedudukan lebih tinggi ketimbang birokrasi pemerintahan. Karir politiknya bersinar terang setelah memenangkan calonnya menjadi kepala KGB – agen rahasia Uni Soviet yang sangat ditakuti. Komite Sentral yang dia kendalikan diperkuat. Khrushchev juga menunjuk orang-orangnya menjadi penguasa partai di sejumlah daerah. Maka, saat Komite Sentral benar-benar dia kuasai, Khrushchev pun terpilih Sekjen PKUS pada September 1953.

Khrushchev menampilkan diri sebagai aktivis down-to-earth – merangkak dari bawah – yang lebih kebal menghadapi segala jenis cuaca permainan. Malenkov – meskipun lebih memiliki perangkat canggih – tampil tidak berwarna. Khrushchev dengan gagasannya membuka Kremlin – pusat kekuasaan Uni Soviet – yang angker dibuka untuk umum segera mendapat resonansi yang luar biasa untuk meraih dukungan dari kalangan yang lebih luas.

Malenkov dan Khrushchev memang sama-sama menggagas reformasi pertanian. Tapi gagasan Khrushchev “terra incognita” – mengirim ratusan ribu relawan muda untuk membuka ladang-ladang pertanian yang masih perawan di Siberia Barat dan Kazakhstan Utara lebih diterima. Meskipun awalnya dinilai berhasil namun proyek ini dinilai memicu terjadinya bencana pertanian.

Beria meskipun sudah dieksekusi mati tapi masih memiki kegunaan bagi Khrushchev. Dalam upaya menyingkirkan Malenkov dia menemukan informasi memberatkan Malenkov yang diambil dari arsip rahasia Beria. Saat jaksa menyelidiki kekejaman tahun-tehun terakhir Stalin – termasuk kasus Leningrad – mereka menemukan bukti keterlibatan Malenkov dalam serangkaian pembantaian. Maka kedudukan Malenkov di kursi kehormatan pertemuan Presidium pun jatuh ke tangan Khrushchev pada Februari 1954.

Begitulah cara Nikita Khrushchev yang oleh koleganya dipanggil Niki itu menggapai kekuasaan menjadi orang nomer satu di Uni Soviet. Niki yang lahir di Donbas – daerah miskin yang berbatasan dengan Ukraina – pada 14 April 1894 dari ayah Sergei Khrushchev dan ibu Ksenia Khrushcheva memang merangkak karir politik dari bawah. Karirnya banyak dibantu oleh Lazar Kaganovich yang akhirnya menjadi koleganya di Presidium.

Jabatan Perdana Menteri pun diraihnya pada 1958 dengan menyingkirkan Bulganin. Tapi sayang, Khrushchev yang kurang kejam seperti pendahulunya – di pemerintahan otoriter yang tertutup seperti Uni Soviet – akhirnya tersingkir pada 1964 lewat persekongkolan yang membawa Leonid Ilyich Brezhnev memimpin Uni Soviet hingga akhir hayatnya pada 1982.

Brezhnev digantikan oleh Michael Gorbachev yang dengan gagasan “Galsnot” (keterbukaan) dan Perestroika (Demokratisasi). Tapi kedua gagasan itu yang selanjutnya mengubur Uni Soviet selama-lamanya. Karena diktator proletariat yang diajarkan komunisme Uni Soviet tidak bisa hidup dalam bingkai keterbukaan dan demokrasi.

Khrushchev yang dipensiunkan secara dini dengan fasilitas apartemen dan tunjangan 500 ribu rubel per bulan itu meninggal dunia pada 11 September 1971. Dari kelima Sekjen PKUS – hanya Khrushchev  dan Gorbachev yang tidak berkuasa seumur hidup. Karena kurang kejam. Mereka tahu – hanya Beria di antara penentang Khrushchev yang dieksekusi mati. Lainnya hanya dipecat dari presidium komite sentral dan dipindahkan jabatan ke posisi yang tidak penting.

“Jadi diktator itu capek, melelahkan, tidak boleh ada kompromi, harus kejam, kalau tidak begitu dia akan digulingkan anak buahnya,” ulas tokoh Malari 1974 Hariman Siregar tentang tokoh-tokoh otriter dalam sejarah dunia.[]

1 KOMENTAR

  1. Kediktatoran sll berakhir memilukan, tp demokrasi kadang menjadi mimpi yg hr diwujudkan dng jerih payah tanpa henti … oh, kekuasaan!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here