Cara Komunikasi Puan Gerogoti Elektabilitas Jokowi Pada Pilpres 2019

0
423

Nusantara.news, Jakarta – Pasca pengesahan RUU Penyelenggaraan Pemilu menjadi Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu dengan presidential threshold (PT) 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional, peta pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mulai tergambar. Kemungkinan hanya ada dua poros kekuatan yang bertarung, yakni Poros Teuku Umar (PDIP/Megawati) dan Poros Hambalang. (Gerindra/Prabowo Soebianto).

Dari kubu Teuku Umar yang dipimpin PDI-P bersama Nasdem, Golkar, Hanura, PKB, dan PPP dikhabarkan akan mengusung pasangan Jokowi – Puan Maharani.

Sementara dari Hambalang, Gerindra Bersama PKS dipastikan mengusung Prabowo sebagai capres. Dengan PT 20 persen, koalisi Gerindra-PKS nyaris tak memenuhi syarat mengajukan calon presiden. Sebab dari segi suara koalisi PKS dan Gerindra tidak mencukupi, karena jumlah suaranya 6,79 + 11,61 = 18,6 persen. beruntung, dari jumlah kursi 40 + 73 kursi = 113 kursi, koalisi ini memenuhi syarat mengusung satu pasang calon presiden dan wakil presiden.

Sementara Demokrat dan PAN tak memenuhi syarat mengajukan pasangan calon. Sebab, suara Demokrat 10,19 + (PAN) 7,59 = hanya 17,78 persen. Begitupun jika berdasarkan perolehan kursi, yakni 46 kursi – 61 kursi – 107 kursi, masih kurang 5 kursi untuk memenuhi syarat.

Karena itu, Demokrat dan PAN tak ada pilihan selain merapat ke Hambalang, atau memperbesar koalisi poros Teuku Umar, atau menjadi penonton pada pilpres mendatang.

Penetapan PT 20 persen memang membuat Demokrat yang biasanya bisa tampil sebagai bandul pemenangan (kiri kanan oke), kali ini mati langkah (kiri kanan tidak oke). Tidak oke karena, bergabung ke kubu Megawati pernah ada sejarah hubungan yang kurang baik. Demikian juga bila bergabung dengan kubu Prabowo terganjal hubungan SBY yang tidak akur sejak masih di Akademi Militer.

Naas bagi Demokrat, karena Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang sudah disebut-sebut akan dimajukan dalam pilpres mendatang harus menunggu pemilu periode berikutnya. Kalaupun bergabung dengan kubu Prabowo, tentunya Demokrat akan mensyaratkan AHY sebagai calon wakil. Apakah kubu Prabowo berkenan? ini masih tanda tanya.

Sementara kalau bergabung ke kubu Mega, agak mustahil mengajukan AHY sebagai calon wakil, karena di sana sudah menunggu dan sudah santer disebut Jokowi akan didampingi oleh Puan Maharani sebagai calon wakil.

Puan Maharani

Nama Puan Maharani memang menjadi perbincangan belakangan ini. Mengajukan Puan sebagai calon wapres mendampingi Jokowi dinilai wajar mengingat Puan adalah puteri mahkota partai berlambang banteng.

Sosok Puan di mata kader moncong putih tak bisa dipisahkan dari sang Ketum Megawati. Selain sebagai pewaris trah Soekarno di PDI-P, Puan sejak awal lahirnya PDI-P sudah ikut mendampingi Megawati.

Meskipun, soal trah Sukarno ini sebenarnya ada  nama lain yang kerap disebut-sebut, yakni sang kakak Prananda Prabowo. Saat ini, keduanya memegang posisi penting. Prananda selain menjabat Ketua Bidang Ekonomi Kreatif PDIP, dia juga dikabarkan berada di balik semua keputusan penting Megawati. Sedangkan Puan menjabat Ketua DPP PDIP bidang Polhukam dengan status nonaktif, dan di kabinet Jokowi duduk sebagai Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Dibandingkan Prananda, Puan yang juga alumni Universitas Indonesia (UI) memang lebih populer. Namanya sering menghiasi media massa baik selama menjabat Menko PMK maupun saat menjadi Ketua Fraksi PDI-P.

Namun, popularitas bukan jaminan bagi Puan untuk memenangkan pertarungan di Pilpres 2019 nanti. Faktor komunikasi tampaknya menjadi hal yang patut diperhatikan. Saat akan menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI-P di DPR menggantikan Tjahjo Kumolo pada 2012 lalu, sejumlah wartawan bahkan sempat menyindir soal Puan yang kurang terbuka.

“Kalau Mbak Puan jadi Ketua Fraksi, apakah bisa seperti Mas Tjahjo yang bisa ditelpon 24 jam. Jangan sampai Mbak Puan di telpon tapi yang angkat ajudan. Kami kan mau minta komentar atau konfirmasi, masak yang jawab ajudan?.” celetuk seorang wartawan saat itu.

Masalah komunikasi tampaknya memang bisa jadi masalah serius bagi Puan. Seperti komentarnya saat menanggapi Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang berharap adanya penambahan anggaran daerah untuk pengadaan beras miskin (raskin) menyusul peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan raskin.

Tak disangka-sangka, Puan justru menjawab masalah serius itu dengan gurauan yang kurang etis. Puan meminta rakyat miskin untuk diet.

“Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa,” seloroh Puan ketika itu.

Tak ayal Puan menuai kritik tajam. Wakil Ketua Komisi VIII DPR yang menjadi mitra Menko PMK,  Sodik Mudjahid komentar Puan sangat tidak cerdas. Menurutnya, selera humor Puan sangat buruk. Sebagai seorang menteri tak sepantasnya menjadikan penderitaan rakyat sebagai bahan guyonan.

Selain faktor tersebut, sejauh ini kinerja Puan sebagai Menko PMK juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Tak ada gebrakan berarti yang dibuat Puan.

Dengan kondisi seperti itu, alih-alih Puan memperkuat Jokowi, yang terjadi justru bisa sebaliknya. Sebab tingkat elektabilitas Puan tentu akan berpengaruh negatif terhadap Jokowi sebagai pasangannya.

Popularitas Jokowi sendiri saat ini makin menurun menyusul berbagai kebijakannya yang dianggap tidak pro-rakyat dan anti demokrasi, seperti perpanjangan kontrak Freeport dan penerbitan Perppu Ormas. Oleh sebab itu, jika Jokowi berduet dengan Puan, tidak tertutup kemungkinan perolehan suaranya menurun.

Dan, bukan tidak mungkin kubu Prabowo berduet yang tokoh yang dicintai publik, maka persaingan akan ketat. Siapa tokoh yang dicintai publik? Mungkin saja salah tokoh yang dekat dengan Nahdlatul Ulama, misalnya Yenny Wahid atau Koffifah Indar Parawansa atau yang lainnya. Apabila Prabowo berduet dengan  perempuan katakanlah Yenny Wahid atau Koffifah Indar Parawansa atau tokoh perempuan lain yang meliliki tingkat popularitas tinggi, sementara Jokowi berduet dengan Puan Maharani, maka pertarungan dua perempuan pada Pilpres 2019 mendatang akan menjadi tontonan menarik dan seru. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here