Cara Manis Anies Bantah Jokowi

0
492

INDONESIA akhirnya mempunyai moda transportasi moderen. MRT (Mass Rapid Transport, atau di-Indonesia-kan menjadi Moda Raya Terpadu) fase I yang menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia sudah diresmikan Presiden Jokowi, Minggu (24/3/2019) kemarin. Animo kegembiraan masyarakat Jakarta sangat besar menyambut fasilitas itu.

Entah ada kaitannya dengan kampanye Pemilu atau tidak, Presiden Jokowi mengklaim bahwa pembangunan MRT itu adalah keputusan politik yang diambilnya ketika menjadi Gubernur Jakarta 2012-2014. Dia juga menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, Wagub Jakarta ketika itu, ikut dalam pengambilan keputusan itu. “Kami putuskan saat saya jadi gubernur saat itu dengan Pak Ahok," kata Jokowi di hadapan pengusaha yang tergabung dalam Pengusaha Pekerjaan Pro Jokowi (Kerjo), di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (21/3). Sebab, kata Jokowi, pembangunan MRT tertunda selama 30 tahun.

Entah itu untuk membantah pernyataan Presiden tersebut atau tidak, tak berapa lama setelah peresmian MRT, Gubernur Jakarta Anies Baswedan menulis surat terbuka di laman Facebook-nya.

"Hari ini mungkin Anda di rumah, menonton di televisi atau membaca beritanya. Anda tidak berada di lokasi, tak menyaksikan langsung hasil kerja keras yang anda lakukan. Tapi ketahuilah, tepuk tangan tadi membahana. Ribuan bertepuk-tangan. Izinkan saya menegaskan bahwa tepuk tangan itu sesungguhnya untuk Anda, untuk tiap jiwa yang bekerja dalam senyap," demikian tulis Anies.

"Kami yang berdiri di atas panggung, gelintiran jumlahnya, tak sebanding dengan Ibu-Bapak yang ratusan ribu jumlahnya yang bekerja tak tampak, jauh dari sorotan publik," lanjutnya.

Surat Anies itu mungkin sebagai jalan tengah dari klaim terhadap pembangunan MRT. Sebab, kalau ditelusuri ke belakang, proyek ini sudah direncanakan sejak 1986. Waktu itu, yang mencetuskannya adalah BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Habibie merumuskan pembangunannya melalui berbagai studi, antara lain Jakarta Urban Transport Program (1986-1987), Integrated Transport System Improvement by Railway and Feeder Service (1988-1989), Transport Network Planning and Regulation (1989-1992), dan Jakarta Mass Transit System Study (1989-1992).

Rencana itu diterima oleh Gubernur Jakarta waktu itu, Soeprapto dan kemudian Wiyogo Atmodarminto. Tapi, realisasinya tak kunjung terwujud. Barulah di era Presiden Yudhonono, MRT ditetapkan sebagai proyek nasional. Gubernur Jakarta Fauzi Bowo menandatangani perjanjian penghibahan proyek tersebut dari pemerintah pusat pada tahun 2011.

Dikutip dari situs resmi PT MRT, www.jakartamrt.co.id, proyek ini dibiayai dengan pinjaman dari Jepang. Pada 28 November 2006 penandatanganan persetujuan pembiayaan Proyek MRT Jakarta dilakukan oleh Gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Kyosuke Shinozawa dan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusuf Anwar. JBIC pun mendesain dan memberikan rekomendasi studi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Telah disetujui pula kesepakatan antara JBIC dan Pemerintah Indonesia, untuk menunjuk satu badan menjadi satu pintu pengorganisasian penyelesaian proyek MRT ini.

JBIC kemudian melakukan merger dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA bertindak sebagai tim penilai dari JBIC selaku pemberi pinjaman. Dalam jadwal yang dibuat JICA dan MRT Jakarta, desain teknis dan pengadaan lahan dilakukan pada tahun 2008-2009, tender konstruksi dan tender peralatan elektrik serta mekanik pada tahun 2009-2010, sementara pekerjaan konstruksi dimulai pada tahun 2010-2014.

Ketika Jokowi terpilih menjadi Gubernur menggantikan Fauzi, dia tinggal meneruskan keputusan tersebut. Seperti juga Gubernur saat ini Anies Baswedan yang tinggal terlibat dalam tahap akhir proyek tersebut.

Jadi ada proses perjalanan yang panjang di balik pembangunan MRT itu. Dan setiap orang pada setiap tahapan sejarah itu tentu punya perannya sendiri.

Pesan moral dari surat Anies tadi adalah setiap anak bangsa punya andil dalam setiap pekerjaan bangsa ini, dan tidak pada tempatnya untuk diklaim milik satu dua orang. Meminjam istilah mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, keberhasilan adalah milik anak buah, dan kegagalan adalah tanggungjawab pemimpin.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here