Cara Ngoyo Gus Ipul Merebut Tiket Partai Politik

0
576

Nusantara.news, Surabaya – Dalam berpolitik, tak ada kawan dan lawan abadi. Yang abadi, hanyalah kepentingan dan keluarga. Frase yang acapkali terjadi di dunia politik itu mungkin tepat untuk menerjemahkan foto bersumber istimewa yang diterima Nusantara.news melalui WhatsApp, baru-baru ini. Foto yang menjadi isu politik dan beredar dari ponsel ke ponsel  itu, obyeknya nampak jelas kebersamaan Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dengan tiga kader PKB.

Di dalam foto itu, nampak sekali Gus Ipul tengah larut dalam suasana santai sambil senda gurau dengan ketiga kader PKB itu. Mereka duduk berdampingan dengan gaya lesehan beralas karpet hijau. Sementara latar atau background saat foto diambil, mirip salah satu ruangan pondok pesantren.

Entah kapan, di mana, dan dalam momentum apa foto itu pastinya diabadikan, pengirim enggan menyebut detailnya. Tetapi yang jelas, sesaat setelah foto itu dikirim oleh pengirim yang minta identitasnya tidak di-publish, menyisipkan link berita terkait manuver dan sikap politik PKB, menyongsong kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang saat ini sudah di ambang pintu. Sumber itu seolah ingin menunjukkan drama politik Tanah Air yang kian menggelitik.

Kendati detail foto tidak disebutkan jelas, tetapi informasi ini tetap menarik untuk disimak dan diikuti. Sebab, seperti yang disaksikan, sikap dan fungsi partai politik (parpol) di parlemen tingkat pusat maupun daerah, akhir-akhir ini terkesan tak aspiratif. Keberadaan parpol hadir hanya dalam momentum yang dianggap penting bagi kadernya.

Dengan kata lain, parpol oleh rakyat dianggap hanya mementingkan kelompoknya dan sudah tidak serius lagi menyuarakan kepentingan rakyatnya. Baik itu dalam menentukan arah dan kebijakan, maupun melahirkan sosok pemimpin yang dikehendaki. Oleh sebab itu, sudah jadi hak dan kewajiban masyarakat sebagai rakyat untuk ikut mengawasi pergerakan elit parpol dan mengawal dinamikanya, terutama di saat-saat krusial menjelang pilkada.

Kembali menyimak foto Gus Ipul, bisa jadi benar apa yang diinformasikan sumber Nusantara.news yang menyatakan bahwa pertemuan itu erat kaitannya dengan lobi-lobi politik pilkada di Jatim. Hal itu bisa diamati dari keakraban Gus Ipul dengan dua politisi yang wajahnya tak asing di mata politisi lain, termasuk dengan salah seorang menteri Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Di mata rival politiknya, ketiga kader PKB itu dianggap cerdik dan punya pengaruh kuat dalam menjalankan mesin partai.

Ketiga kader yang tampak di foto terdiri dari dua pengendali partai berlambang bola dunia kakak-beradik itu yakni Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Ketua DPW PKB Jatim Abdul Halim Iskandar (Pak Halim). Sedangkan seorang pejabat menteri adalah Menteri Ketenagakerjaan RI kelahiran Semarang, Muhammad Hanif Dhakiri.

Pemandangan menarik yang ditampilkan foto itu mengisyaratkan jika di balik gengsi politik, diam-diam tersembunyi hubungan spesial antara Gus Ipul dengan kader-kader PKB. Sinyal itu bisa ditangkap dari gesture (gerak tubuh) dan mimik wajah yang ditandai gelak tawa renyah di antara mereka. Gus Ipul dengan berpakaian dan bersarung serba putih tampak terkekeh tanpa sungkan sembari duduk bersimpuh di samping Cak Imin dan Pak Halim yang satu di antara mereka tidak mengenakan peci sendiri.

Sementara dari sisi pengambil foto, mengesankan bahwa Cak Imin yang mengenakan baju batik cokelat dan sarung putih kombinasi cokelat muda menjadi focus of view. Itu juga bisa dilihat dari cara Gus Ipul, Pak Halim maupun Menteri Hanif Dhakiri memperhatikan Cak Imin bicara yang seolah-olah sedang berkelakar.

Keakraban dan kehangatan yang dipamerkan antara Gus Ipul dengan Cak Imin, Pak Halim dan Menteri Hanif Dhakiri dalam foto itu juga bisa memunculkan spekulasi dan opini lebih ekstrim. Gus Ipul seakan tak hanya mengagendakan kepentingan lobi-lobi tiket untuk melaju di Pilgub Jatim 2018.

Tapi, publik bisa juga beranggapan bahwa di balik lawatan sederhana terselip politik “transaksional”, berbau uang dan bagi-bagi jatah kekuasaan. Mengingat, hingga saat ini, belum ada satu pun parpol yang meminang dan menjagokan Gus Ipul secara resmi untuk bertarung dalam perhelatan Pilgub Jatim 2018.

Terlebih, cara ngoyo seperti yang dipertontonkan dalam foto itu diperkuat oleh pengakuan Gus Ipul sendiri di saat nonton bareng film Kartini di Ciputra World Mall Surabaya.

“Saya tetap berkomunikasi untuk menyamakan frekuensi. Bahwa nanti siapa yang akan mencalonkan, saya serahkan kepada pimpinan partai masing-masing,” katanya, Selasa (18/4/2017).

Hal yang sama kembali ditegaskan Gus Ipul saat membuka acara Pekan Seni Pelajar Provinsi se-Jawa Timur di GOR Jayabaya Kota Kediri. “Saya sudah komunikasi dengan para pimpinan partai,” ungkapnya blak-blakan menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (26/4/2017).

PKB Serahkan Tiket Bacagub ke Kakak Cak Imin

Meski pergerakannya terkesan senyap, namun atmosfer politik jelang Pilgub Jatim 2018 sudah terasa memanas. Suhunya bisa dirasakan setelah satu demi satu parpol besar di Jatim mulai berani menunjukkan manuvernya masing-masing. Jika sebelumnya Partai Demokrat terlebih dulu menghidupkan mesin partainya 24 jam penuh untuk jemput bola, PDIP juga bertekad memenangkan kadernya dengan melakukan survei diam-diam. Alhasil, baik Partai Demokrat maupun PDIP sama-sama mengaku sudah mengantongi jago kuat.

Tak mau ketinggalan, baru-baru ini PKB Jatim juga sudah menjulangkan radar tinggi-tinggi untuk menangkap sinyal kandidat dari sejumlah nama yang beredar. Bahkan, PKB merupakan satu-satunya parpol yang sudah memutuskan kandidat bakal calon gubernur (Bacagub) di ajang Pilgub Jatim 2018.

Partai besutan Gus Dur itu memastikan akan mengusung Abdul Halim Iskandar alias Pak Halim yang tidak lain kakak kandung Cak Imin sendiri sebagai kandidat. Jika keputusan ditegaskan benar-benar final, itu berarti lobi Gus Ipul untuk meraih tiket PKB dipastikan kandas, kendati sebelumnya PKB pernah memberikan sinyal dukungan terhadap Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa.

“Jawa Timur kita sudah punya calon yaitu Ketua DPW PKB Jatim,” tegas Cak Imim di Kantor DPP PKB, Jakarta, Sabtu (29/4/2017). Namun dengan peredaran foto keakraban yang terjadi, bisa jadi ada skenario lain yang juga tengah disusun PKB manfaatkan kekuatan Gus Ipul sebagai petahana.

Seperti diketahui, Pak Halim merupakan Ketua DPW PKB Jatim sekaligus orang nomor satu di gedung DPRD Indrapura. Sebagai partai pemenang Pemilu 2014 di Jatim dengan perolehan 20 kursi di DPRD, PKB dapat mengusung kakak Cak Imin itu tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Namun, dalam politik gelombang perubahannya day by day. Demi merebut kekuasaan, segala kemungkinan bisa terjadi, bergantung pada konstelasi dan arah kepentingan elit parpol yang menentukan.

 Tak Gampang Nyerah, Meski Sinyal PDIP Melemah

Tak hanya berharap pada PKB, sebelumnya Gus Ipul juga mengincar tiket PDIP untuk melanggengkan langkahnya menuju Pilgub Jatim 2018. Berbagai upaya dilakukan Gus Ipul “merayu” PDIP. Salah satunya ialah membangun komunikasi intens dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Akan tetapi, peluang Gus Ipul merebut tiket PDIP tampaknya akan berat. Modal komunikasi saja jelas tidak cukup. Sebab, sikap politik yang ditunjukkan PDIP saat ini sama seperti PKB. Partai berlambang banteng moncong putih itu juga menegaskan akan lebih memprioritaskan kader sendiri.

Sinyal itu bisa ditangkap setelah PDIP Jatim mengumumkan hasil survei yang dilakukannya diam-diam. Dari hasil survei itu, ada lima nama kandidat Bacagub Jatim yang muncul. Kelima nama tersebut yakni Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyono, Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Ketua DPD PDI Jatim Kusnadi.

Nama Gus Ipul memang masuk dalam survei. Bahkan, namanya di tahun lalu sempat menggaung lantaran klaim kedekatannya dengan Megawati, Wagub Jatim dua periode itu bakal diusung PDIP maju Bacagub Jatim 2018. Namun, ternyata anomali politik di Jatim tak mudah diprediksi. Megawati tampaknya masih setengah hati bakal mengusung Gus Ipul. Apalagi itu menyangkut ideologi partai.

Sebagai nahkoda partai, sikap politik yang ditunjukkan Megawati dinilai wajar. Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Airlangga Pribadi mengatakan, jika PDIP ingin menerjemahkan visi ideologisnya dalam program-program kebijakan publik, tentu PDIP akan mengutamakan kadernya sendiri. “Apalagi kader ataupun pemimpin yang sudah diusung mereka adalah para pemimpin yang kredibel, berintegritas dan populer,” katanya, mempertegas komitmen kepada siapa PDIP akan menyerahkan tiket partai, Kamis (2/3/2017).

Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan andil Gus Ipul yang disebut-sebut punya jasa besar membantu PDIP dalam memperjuangan tanggal 1 Juni hari Lahir Pancasila? Rupanya, upaya Gus Ipul itu dicatat khusus PDIP. Hal tersebut pernah ditegaskan oleh Ketua Bappilu DPP PDIP Bambang DH. Menurutnya, keberhasilan Gus Ipul memperjuangkan hari lahir Pancasila, menjadi pertimbangan utama bagi PDIP untuk memberi peluang besar diusung sebagai Bacagub Jatim.

“Gus Ipul yang terdepan memperjuangkan 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila. Bagi PDIP ini sudah investasi politik dia untuk mencari dukungan dari PDIP,”ungkap Bambang DH.

Kepercayaan diri dan optimisme Gus Ipul patut diacungi jempol. Meski banyak menemui jalan terjal, Wagub Jatim yang menjadikan kopi sebagai jargon kampanyenya itu seperti tak mau menyerah mencuri tiket PDIP. Dan, tampaknya dari berbagai upaya dan kerja kerasnya itu memunculkan sinyal positif.

Terbaru, melalui Ketua DPD Jatim Kusnadi, PDIP menyatakan, ternyata Gus Ipul masih punya peluang untuk meraih tiket partai. Kusnadi menegaskan, peluang itu masih ada karena di ajang Pilgub Jatim 2018 merupakan momentum penting bagi PDIP untuk kembali masuk ke struktur pemerintahan di Pemprov Jatim, setelah vakum selama 10 tahun. PDIP ingin mengulang sukses dan keberhasilan mengantarkan duet Imam Utomo sebagai Gubernur Jatim periode 2003-2008 lalu.

“Saya paham betul peta politik di Jatim. Jika melihat peta politik, Gus Ipul bisa kita gandeng untuk diusung,” kata Kusnadi, Rabu (15/3/2017).

Tak hanya memberikan sinyal kuat. Kusnadi juga mengajukan syarat. Yakni, calon wakilnya yang menjadi pasangan cocok untuk mendampingi Gus Ipul, harus berasal dari kader murni PDIP. “Wakilnya bisa Mas Kanang (Bupati Ngawi Budi Sulistyono), Mas Anas (Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas), dan Mas Edi Rumpoko (Wali Kota Batu),” imbuh Kusnadi.

Sementara untuk Risma, Kusnadi mengatakan bahwa kemungkinan besar Walikota Surabaya yang diusung PDIP ini tidak akan diusung maju Pilgub Jatim. Salah satu pertimbangan besarnya ialah karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh rakyat di Surabaya.

Hingga saat ini, seperti yang diketahui publik, gerak-gerik parpol di Jatim terkesan hanya populer pada saat suksesi Pilkada Serentak. Tentu saja, hal ini mengindikasikan bahwa parpol pada saat tidak adanya hajatan itu cenderung tidak menunjukkan aktivitas dan kinerjanya. Salah satu penyebab utama, karena fungsi-fungsi parpol tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Terutama, yang berkenaan dengan fungsi sosialisasi atau pendidikan politik kepada masyarakat.

Memang, frase tidak ada kepentingan lawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi di dunia politik adalah hal lumrah. Tetapi yang patut dipertanyakan keberadaan parpol sebagai sarana politik apakah benar-benar memperjuangkan dan mempedulikan rakyat sebagai konstituen? Semua akan kembali pada konsistensi dan komitmen masing-masing parpol.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here