Cara Pengacara Trump Hindari Jebakan Batman

0
327
Ketua Tim Penasehat Hukum Trump Ridolph W Giuliani alias Rudy Giuliani / Foto Modern Liberals

Nusantara.news, Washington – Sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memiliki kekuasaan mengampuni diri sendiri dalam dugaan skandal mata-mata Rusia, tapi dia tidak akan pernah berniat melakukannya. Demikian pernyataan pengacaranya Rudy Giuliani setelah New York Times membeberkan sepucuk surat mantan pengacara Trump kepada penyelidik khusus Robert Mueller.

Sepucuk surat itu mengingatkan Mueller, bahwa Presiden memiliki kekuasaan tidak terbatas sebagai penguasa hukum tertinggi di AS untuk mengakhiri penyelidikan, bahkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk mengampuni (diri-sendiri/self pardon). Dengan kekuatan absolut itu Presiden tidak dapat didakwa menghalangi keadilan dalam kasus apa pun.

Jebakan Batman

Surat yang sebenarnya menyerang Penasehat Khusus Robert Mueller itu dianggap semacam “jebakan batman” oleh pengacara barunya, Rudy Giuliani – yang juga bekas walikota New York. Saat ditanya wartawan “apakah Trump memiliki kekuasaan mengampuni diri sendiri dalam program “ABC This Week”, Giuliani selaku ketua tim penasehat hukum Trump menjawab, “mungkin tidak.” Namun dia buru-buru menambahkan, “lagi pula Trump tidak memiliki niat mengampuni diri sendiri.”

Ketua Fraksi Republik Kevin McCarthy/ Business Insider

“Saya berpikir secara politis akan sulit. Mengampuni orang lain adalah satu hal. Mengampuni diri sendiri adalah hal lain,” tandas Giuliani yang sudah sepuh itu.

Dalam berita CNN. Minggu (3/6) kemarin, Ketua Fraksi Mayoritas Partai Republik Kevin McCarthy juga mengungkap hal yang sama. Keduanya mungkin berpandangan, apabila presiden menggunakan hak-hak istimewanya mengampuni diri sendiri, maka presdien berada dalam jebakan batman yang menciptakan kesan presiden memang bersalah dalam penyelidikan dugaan mata-mata Rusia. Maka McCarthy juga menegaskan tidak ada niat presiden yang harus mengampuni diri sendiri.

Terbitnya surat dari pengacara lama Trump itu berawal dari penyelidikan tentang dugaan skandal mata-mata Rusia yang dipimpin Penasehat Khusus Robert W Mueller dalam tim kampanye Trump. Selama penyelidikan berlangsung Trump menyebut penyelidikan itu sebagai perburuan penyihir – Maksudnya memburu yang tidak ada atau bersumber dari berita bohong.

Bagian dari penyelidikan Mueller berusaha menyimpulkan Presiden melakukan tindak kriminal dengan obstruction of justice – menghalang-halangi keadilan – khususnya saat memecat Penasehat Keamanan Nasional Michael Flynn dan mantan Direktur Federal Bureau Investigation (FBI) James Comey, serta reaksi Trump atas pengunduran diri Jaksa Agung AS Jeff Sessions dari penyelidikan.

Pertanyaannya, apakah konstitusi AS membolehkan seorang presiden mengampuni diri sendiri? Tidak ada seorang pakar hukum tata negara yang bisa menjelaskan, terlebih tidak ada seorang pun presiden AS yang pernah melakukannya. Jadi, pernyataan dari seorang mantan penasehat hukum yang sduah mengundurkan diri itu dianggap sebagai teori baru dalam hukum ketatanegaraan.

Maka penasehat hukum Trump yang baru menjelaskan, “mengampuni orang lain adalah satu hal, mengampuni diri sendiri adalah hal lain”. Karena kalimat “presiden dapat menggunakan kekuasaan untuk mengampuni diri sendiri” membuka penafsiran bahwa Presiden AS Donald J Trump memang bersalah dalam penyelidikan dugaan skandal mata-mata Rusia. Dan itu sebagai jebakan batman yang secara politik “membunuh” karakter presiden.

Surat yang dibongkar oleh New York Times itu dikirimkan oleh pengacara Trump John Dowd kepada Pengawas Khusus Robert Mueller pada tanggal 29 Januari 2018. Tak berselang lama setelah berkirim surat, ketua tim penasehat hukum Trump itu mengundurkan diri. Akhirnya memo rahasi itu jatuh ke New York Times yang selanjutnya menuliskannya dengan judul “Trump’s Lawyer, in Confidential Memo Argue to Head Off a Historic Subpoena” yang tayang pada Sabtu (2/6) lalu.

Debat Konstitusi

Para pengacara presiden itu, tulis Time, selama berbulan-bulan secara diam-diam melancarkan kampanye agar penasehat khusus tidak memaksa Trump menjawab pertanyaan dalam penyelidikan terkait tuduhan menghalangi keadilan – dengan menegaskan presiden tidak dapat dipaksa bersaksi dan berdebat – dengan mengirimkan memo rahasia yang isinya “presiden tidak mungkin melakukan penghalangan karena dia memiliki wewenang yang tak terbatas atas semua penyelidikan federal.

Surat setebal 20 halaman berisi semacam pengancaman tentang kewenangan presiden itu dikirimkan ke penasehat khusus Robert Mueller dan akhirnya jatuh ke tangan New York Times – menyebutkan presiden tidak dapat dituduh secara ilegal menghalangi aspek apa pun dari penyelidikan atas dugaan keterlibatan mata-mata Rusia dalam pemilu presiden AS – karena secara konstitusi “kalau dia mau dapat mengakhiri penyelidikan, atau bahkan menggunakan kekuasaannya untuk mengampuni (diri sendiri)”.

Para pengacara Trump tampaknya khawatir apabila presiden dipaksa menjawab pertanyaan, baik secara sukarela maupun di hadapan yuri agung yang dihadirkan penyelidik, dia berisiko mengekspos dirinya atas tuduhan berbohong kepada penyelidik, potensi kejahatan, maupun pelanggaran yang tak dapat ditembus.

Jack Goldsmith/ Wikipedia

Tafsiran luas atas kewenangan eksekutif adalah sesuatu yang baru dan kemungkinan akan diuji jika kasusnya disidangkan di depan pengadilan. Di sana terlihat apakah dia diperintahkan (oleh hakim) harus menjawab  pertanyaan. Sulit diprediksikan akibatnya apabila seorang presiden AS dipaksa memberikan keterangan di pengadilan. Namun para penyelidik Mueller menolak berkomentar.

“Kami tidak tahu dasar hukum yang mengaitkan antara undang-undang penghentian (penyelidikan) dan  presiden menjalankan hak-hak konstitusionalnya untuk mengawasi penyelidikan di Departemen Kehakiman,” ulas Jack Goldsmith – seorang profesor Fakultas Hukum Harvard University yang menjadi pengawas Departemen Kehakiman era pemerintahan George W Bush. “Ïni pertanyaan terbuka.”

Surat itu sendiri ditulis oleh John M. Dowd dan Jay A. Sekulow dan disampaikan langsung kepada Penasehat Khusus Robert Mueller di kantornya. Surat itu berisi tawaran sekilas tentang langkah dalam sisi negosiasi yang berisiko tinggi atas nasib seorang presiden – atau istilah populer di Indonesia justru memerangkap presiden dalam jebakan batman.

Meskipun ditulis sebagai pembelaan presiden, surat itu mengingatkan kembali kepada drama awal tahun 2017 ketika pemerintahan baru dihadapkan investigasi dugaan skandal Rusia. Ini juga berfungsi sebagai pengingat terkait dugaan penghalangan keadilan, Mueller sibuk menyelidiki tindakan dan alur percakapan yang melibatkan pejabat senior Gedung Putih – termasuk presiden. Wakil presiden dan penasehat Gedung Putih.

Hindari Jebakan

Surat itu membeberkan serangkaian klaim yang menandai kemungkinan serangan pengadilan yang bisa berlangsung berbulan-bulan menjelang pemilihan paruh waktu pada bulan November nanti.

“Kami diingatkan akan tugas kami melindungi presiden dan staf-stafnya,” tulis kedua pengacara kepada Mueller karena pihaknya memiliki puluhan ribu halaman dokumen tentang indormasi yang dibutuhkan sehingga tidak perlu meminta keterangan langsung (wawancara) dengan presiden.

Mueller sendiri pernah mengatakan kepada pengacara Trump dengan menegaskan dirinya harus berbicara dengan klien mereka untuk menentukan, apakah ada niah jahat untuk menghalang-halangi penyelidikan terkait dengan rekan-rekannya yang diduga terlibat dalam skandal mata-mata Rusia.

Maka, dalam suratnya pengacara Trump itu mengingatkan Mueller agar mempertimbangkan argumen, apakah kalau Trump menolak memberikan keterangan apa yang bisa dilakukan Mueller, apakah dia akan terus maju dengan surat panggilan kepada yuri agung yang bersejarah?

Mueller telah menjadwalkan kemungkinan pemanggilan Trump pada bulan Maret lalu kepada Dowd. Selanjutnya tim pengacara – Dowd dan Emmet T Food – mempersiapkan kemungkinan itu. Tapi penjadwalan itu ditolak oleh ketua tim pengacara yang baru Rodolph W Giuliani – alias Rudi Giuliani.

Bahkan tim pengacar Trump secara sistematis menyerang kredibilitas saksi kuci dalam penyelidikan – yang tak lain mantan Direktur FBI James Comey yang sejak era Presiden Bush memiliki hubungan personal tidak baik dengan Mueller.

Dalam memoarnya yang dibukukan, Comey menulis tentang apa yang mereka lihat sebagai kegagalan investigasi’- terutama dalam memperebutkan interprestasi atas fakta-fakta penting. Pernyataan ini yang selanjutnya menuai serangan dari Trump dan para abdi dalemnya tentang integritas Comey itu sendiri yang meskipun seorang Republik tapi tidak terlepas dari pengaruh Demokrat – karena Comey sendiri menjabat Direktur FBI era Barrack Obama.

Giuliani menolak tegas adanya wawancara tim penyelidik dan presiden karena juga dianggap sebagai jebakan batman. “Trump akan mengatakan yang sebenarnya tetapi para penyelidik sudah memiliki versi palsu, kami percaya, jadi Anda terjebak. Taruhannya pun sangat tinggi. Dan itu akan mengarah kepada pelanggaran (penyelidikan) yang bukan hanya dapat dituntut, tetapi juga pelanggaran yang tidak dapat ditembus.”

Pembelaan Trump adalah penafsiran yang diperluas tentang kekuasaan seorang presiden. Dalam suratnya kedua mantan pengacaranya menyebutkan, presiden memiliki wewenang mengakhiri penyelidikan, penegakan hukum, atau mengampuni orang.

Tim pengacara secara ambigu meninggalkan kemungkinan mereka hanya merujuk kepada mantan penasehat nasional Michael Flynn yang dituduh menekan FBI – namun kemungkinan Mueller masih mengejar sasaran utama : Presiden AS Donald Trump.

Untuk menghalangi Mueller agar tidak memanggil Great Jury – yuri agung – di pengadilan, adalah satu di antara dua front “pertempuran” tim pengacara. Front pertama mereka mulai berkampanye ke publik untuk mendiskreditkan penyelidikan, dan di front kedua mencegah publikasi hasil laporan tim penyelidik khusus yang berpotensi merusak dan mendorong ke arah pemakzulan.

Untuk kedua front itu, tim pengacara selalu berusaha menghindar dari jebakan batman agar junjungannya tidak menciptakan sejarah baru AS, sebagai satu-satunya presiden yang dilengserkan lewat proses pemakzulan. Karena dalam sejarah AS hanya dua presiden yang menjalani sidang pemakzulan tapi keduanya gagal dilengserkan. [] Sumber BBC dan New York Times

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here