Cegah Harga Naik Jelang Ramadhan, Jatim Subsidi Ongkos Angkut

0
30
Ongkos angkut disubsidi, tapi pengawasan di jalan juga penting.

Nusantara.news, Surabaya – Guna menjaga kestabilan harga selama Ramadan dan Lebaran 2017, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyiapkan anggaran sebesar Rp12,5 miliar untuk mensubsidi ongkos angkut, tenaga atau kuli karung dan tunjangan kemahalan. Itu untuk membantu masyarakat agar tidak terbebani kemahalan harga selama Ramadan dan Lebaran.

“Biasanya, dana tersebut hanya terpakai Rp9 miliar, tapi kami siapkan Rp12,5 miliar. Namun jika dirasa kurang bisa ditambah lagi,” ujar Soekarwo usai mengikuti Rapat Paripurna di DPRD Jawa Timur, Kamis (20/4/2017).

Di Jawa Timur, diharapkan harga kebutuhan pokok terjamin stabil sebab stabilitas harga tersebut berlaku karena data distribusinya telah terukur secara real time. Soekarwo menyebutkan, setiap hari ada beberapa instansi di antaranya Pelindo dan Angkasa Pura yang mengirimkan data manifest.

“Semua harga kebutuhan pokok, selain kedelai dan bawang putih, harganya saya pastikan stabil atau aman,” terangnya.

Sementara soal penurunan harga cabai saat musim panen raya, Pakde Karwo meminta agar petani cabai mau mengolah cabai menjadi produk olahan, menjadi pasta atau bubuk. Cara tersebut menurutnya merupakan salah satu antisipasi untuk mencegah menurunnya harga cabai. Gubernur mengakui kalau usulan tersebut tergolong susah diterapkan, sebab masyarakat lebih menyukai cabai asli dan segar dibanding cabai olahan.

“Saat supply dan demand-nya tidak seimbang, maka petani cabai harus mau beralih membuat produksi cabai olahan, itu untuk menghindari anjloknya harga jual,” tegasnya.

Dan, selama menghadapi Ramadan dan Lebaran, Soekarwo memastikan harga pangan di Jawa Timur  tetap stabil. Kepastian stabilitas harga itu karena data distribusinya terukur dan ditunjang dengan data yang terkontrol.

Selain untuk menjaga kestabilan harga menyambut Ramadan dan Lebaran, kiat yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini layak diacungi jempol. Itu selain bisa mengurangi beban masyarakat karena kenaikan harga, juga bisa untuk menekan laju inflasi.

Masalahnya, apakah Pemprov Jatim dapat melakukan pengawasan secara efektif, agar subsidi yang disalurkan tidak terbuang percuma. Subsidi biaya angkut barang kebutuhan juga bisa ditekan, misalnya, melalui mengurangi biaya-biaya tidak resmi yang sering terjadi dalam transportasi barang. Jika pungutan liar di jalan bisa dikurangi, dengan sendirinya biaya angkut akan menjadi lebih murah. Bukan tidak mungkin, subsidi tidak diperlukan, kalau biaya siluman bisa ditiadakan.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here